Penyerapan Jagung Petani Bojonegoro oleh Bulog Masih Minim

Bulog Sub Divre Bojongeoro saat melakukan pembelian jagung petani.

Bojonegoro, Bhirawa
Hingga pekan pertama Maret tahun ini, Bulog Sub Divre Bojonegoro baru menyerap sekitar 100 ton jagung petani.Meski masih rendah, serapan jagung ini langsung dijual kembali ke perusahaan yang membutuhkan.
Waka Bulog Sub Divre Bojonegoro, M. Yandra Drajat,? mengatakan panen raya jagung 2019 diperkirakan akan terjadi pada bulan Pebruari-Maret. Beberapa daerah sudah mulai melakukan panen dalam jumlah signifikan.
“Sejak adanya penyerapan baru komoditi Jagung, Bulog baru bisa menyerap 100 ton,” ungkapnya kepada Bhirawa, kemarin (12/3).
Menurutnya, minimnya penyerapan itu karena ada beberapa hal, antaranya karena beberapa wilayah jagung di Kabupaten Bojonegoro, Tuban dan Lamongan masih belum panen, dan adapula harga jagung di tingkat petani masih tinggi, jauh dengan HPP yang sudah ditentukan dari Pemerintah yakni Rp 3.150 per kilogram.
“Kendala lain masih minimnya petani menjual ke Bulog, petani lebih suka menjual hasil panen jagung ke perusahaan yang membuat pakan ternak,” terangnya.
Selanjujutnya,Yandra mengungkapkan, penyerapan bisa banyak diprediksi akhir Maret hingga bulan Mei. Di bulan-bulan tersebut beberapa daerah di tiga kabupaten sudah masuk masa panen.
Dalam penyerpan jagung di lapangan, Bulog memberlakukan 2 langkah, skema pertama untuk membeli jagung ke petani kemudian dijual kembali (sendiri), dan skema kedua membeli jagung ke petani kemudian dijadikan stok di gudang untuk persediaan.
“Saat ini untuk stok jagung belum ada, karena penyerapannya masih minim,” jelas Yandra.
Pembelian jagung oleh Bulog melalui skema komersial ini sebagai salah satu bentuk dukungan pemerintah ke petani jagung dan memenuhi kebutuhan peternak ungags agar tetap berperan dalam kontribusi pembangunan pertumbuhan ekonom. [bas]

Tags: