Pentingnya Vaksinasi terhadap Kesehatan Anak

Judul : Kontroversi Vaksin
Penulis : dr. Piprim B. Yanuarso
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan : Pertama, Februari 2019
Tebal : 148 Halaman
ISBN : 9786024021368
Peresensi : Untung Wahyudi
Lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

Menjaga kesehatan anak adalah sebuah keharusan bagi orangtua. Selain memberikan ASI ekslusif, anak harus diberi imunisasi untuk menjaga kekebalan tubuh. Hal ini sudah jadi keharusan yang tak bisa ditampik mengingat betapa pentingnya pemberian vaksin.
Ketakutan dan kekhawatiran sebagian masyarakat tentang keberadaan vaksin memang masih ada, terutama di kalangan masyarakat awam yang begitu mudah terpengaruh informasi-informasi tidak jelas yang disebarkan, terutama tentang “bahaya” vaksin. Padahal, jika dilakukan dengan benar dan sesuai saran tim medis, vaksin sangat membantu menjaga kesehatan anak.
Dokter Piprim B. Yanuarso, dalam buku Kontroversi Vaksin ini berusaha mengedukasi masyarakat akan pentingnya pemberian imunisasi. Penulis menjelaskan, imunisasi adalah upaya untuk menimbulkan imunitas atau kekebalan tubuh, baik secara aktif maupun pasif. Imunisasi aktif itu upaya untuk merangsang kekebalan tubuh dengan membentuk antibodi agar dia terangsang dan terbentuk imunitas spesifik. Sementara imunisasi pasif, artinya kita memberikan zat kekebalan tubuh berupa antibodi, yaitu imunologlubin yang sudah siap pakai (hlm. 20).
Apa yang terjadi di Manila, Filipina, jangan sampai terjadi pada anak-anak di negeri ini. Kementerian Kesehatan Filipina melaporkan bahwa wabah campak telah menewaskan 136 orang. Kementerian itu pun menyebut bahwa saat ini ada 8.400 kasus campak yang melanda negaranya. Sebagian besar dari 136 warga yang tewas akibat wabah campak adalah balita yang belum diberi vaksinasi (Koran Jakarta, 20/2/2019).
Karena itu, memberikan vaksin pada anak penting dilakukan agar terhindar dari berbagai penyakit yang bisa ditimbulkan di masa mendatang. Lebih lanjut penulis menjelaskan, vaksin itu upaya manusia. Secara medis, bisa saja 100% terhindar dari penyakit, misalnya cacar. Tapi, sebagian besar tidak bisa mencapai 100% karena ada juga yang tidak kebal akibat masalah imunologi. Namun, dengan pemberian vaksin, risiko terkena penyakit bisa berkurang, minimal kasusnya tidak terlalu berat.
Yang perlu diketahui adalah, ASI tidak bisa menggantikan vaksin. Memang, ASI membantu proses kekebalan tubuh alias imunisasi. Sebab, asupan nutrisi dari ASI pada bayi dapat membantunya memiliki sistem kekebalan tubuh yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI (hlm. 35).
Untuk menepis keraguan masyarakat terhadap vaksin, penulis juga menjelaskan bagaimana proses pembuatan vaksin yang melalui berbagai tahap seperti penyiapan media, panen, pemurnian, inokulasi/kultivasi, inaktivasi, formulasi, hingga produk final. Dari banyak proses tersebut, cukup jelas bahwa proses penelitian yang sangat panjang perlu dilakukan. Bisa belasan sampai puluhan tahun. Ada serangkaian proses mulai dari tahap laboratorium, lab hewan, relawan, hingga yakin aman, baru diproduksi massal dan disalurkan ke masyarakat.
Meskipun berasal dari mikroorganisme hidup, vaksin seratus persen aman karena telah melewati penelitian panjang dan ketat sebelum akhirnya bisa diaplikasikan pada manusia. Sebelum mengizinkan satu vaksin digunakan di negaranya, sebuah negara harus melakukan pengujian dan penilaian mutu vaksin oleh badan pengawas obat setempat, seperti halnya BPOM di Indonesia. Di tahap ini, produsen harus memberikan bukti penelitian keamanan dan manfaat vaksin yang dikaji oleh para ahli (hlm. 24).
Tak hanya memaparkan proses pembuatan vaksin dan kegunaannya terhadap kekebalan tubuh anak, buku ini juga dilengkapi penjelasan tentang kontroversi halal versus haram vaksin hingga pro-kontra imunisasi. Dalam pengantar buku ini, Profesor Nadirsyah Hosen, Rais Suriah PCI NU Australia-Zew Zealand, memberikan keterangan lengkap mengenai pentingnya vaksin dari kaca mata ilmu Fikih. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun sudah mengeluarkan fatwa yang membolehkan vaksin sehingga masayarakat tak perlu meragukan kehalalan dan higienitas keberadaan vaksin.
Dengan adanya imunisasi, diharapkan anak-anak di negeri ini bisa tumbuh sehat menjadi generasi tangguh yang tidak rentan terhadap berbagai penyakit yang bisa ditimbulkan akibat kelalaian orangtua dalam menjaga kesehatan anak. Seperti dalam kata pepatah Bahasa Latin, mens sana in corpore sano. Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
———– *** ————-

Tags: