Pentingnya Toleransi Umat Beragama

Judul Buku : Cermat Berhikmat
Penulis : Pdt. Weinata Sairin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1. 2018
Tebal : 225 Halaman
ISBN : 978-602-03-8120-6
Peresensi : Ahmad Wiyono
Pegiat Literasi di Pamekasan Madura dan pengurus FKUB Pamekasan

Tulisan Pdt. Weinata Sairin ini banyak mengulas tentang pentingnya arti cinta untuk sesama, memaknai keberadaan manusia sebagai satu saudara yang harus selalu saling menjaga, menhargai dan mendukung satu sama lain. Terlepas dari perbedaan status agama yang mereka miliki. Karena perdamaian adalah segalanya.
Dalam pandangan ispiratifnya, Pdt. Weinata Sairin mengajak umat manusia untuk memahami kasih sayang antar sesama melalui pemahaman agama yang komplit, tidak setengah hati. Sehingga, kecenderungan pemeluk agama melahirkan sifat jelek bisa dihindari, termasuk lahirnya egoisme diri bisa diantisipasi. Sehingga kekerasan dan kejahatan atas nama Agama tidak terjadi lagi di bumi nusantara.
Sikap iri hati, sombong dan egositis seringkali masih banyak mewarnai relasi antar manusia sehingga hubungan yang penuh harmoni tidak dapat mewujud sepenuhnya. Sebagai seorang yang memegang teguh ajaran agama semestinya kita berupaya terus mengembangkan relasi yang baik, saling menghormati diantara teman-teman pada level apa pun dan di mana pun. Tidak semestinya kita iri terhadap mereka yag sukses dalam hidupmya, tidak sepatasnya juga kita menghakimi seseorang yang gagal atau tidak berhasil dalam kehidupannya. (Hal. 4-5).
Dalam konteks kebaragaman, Pdt. Weinata Sairin juga mengajak segenap warga Negara untuk bisa memahami esensi bernegara dalam bingkai kebebasan Beragama. Menurutnya, Indonesia merupakan Negara dan bangsa beragama, di mana seluruh pendudunya berhak untul memeluk agama sesuai keyakinnya masing-masing. Menguatkan paham keberagaman ini penting agar tidak lahir tafsir bahwa Indnesia adalah Negara agama. Sehingga, toleransi antar umat Beragama semakin menguat sera menjadi bekal lahirnya persatuan dan kesatuan antar pemeluk agama.
Bangsa Indonesia adalah bangsa beragama. Negara Indonesia adalah Negara beragama, artinya yang warganya (seluruhnya) menganut berbagai agama. Indonesia memberi porsi yang amat terhormat bagi agama-agama. Namun, harus digarisbawahi bahwa indonesia bukan Negara agama, artinya bukan Negara teokrasi, Negara yang dibangun berdasarkan sutau agama. Indonesia sebagaimana yang dirumuskan oleh the founding fathers adalah Negara bangsa yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, memberi ruang dan mengapresiasi kemajemukan. (Hal. 20-21).
Sebagai mahluk Tuhan, manusi pasti dikaruniai rasa cinta dan benci. Dua hal ini menurut Pdt. Weinata Sairin akan menjadi penentu gerak hidup manusia dalam bersosial, mana yang lebih domenan itulah yang akan menjadi potret kehidupan manusia di masa-masa yang akan datang. Kemampuan membangun harmoni dalam kemajukan bisa terwujud apabila cinta bisa dihadirkan dalam setiap kehidupan manusia, begitu pula sebaliknya. Maka, domenasi cinta menjadi penting untuk selalu dihadirkan dalam rangka menciptakan perdamaian antar umat manusia.
Hal yang menarik adalah bahwa dua elemin itu , Cinta dan benci hadir dalam paggung sejarah umat manusia, ada tarik menarik diantara keduanya dan daya tarik menarik itu yang memengaruhi kepribadian manusia. Emepdoklies, filsuf Yunani mengatakan bahwa dalam alam semesta dan diri manusi ada dua kekuatan yang saling berperang, kekuatan yang satu bernama philotes (cinta), kekuatan kedua adalah niekos (benci). Cinta adalah kekuatan yang menyatukan, sementara benci adalah kekuatan yang destruktif. (Hal. 52).
Memciptakan suasana damai dalam bingkai kemajemukan adalah sebuah imian bersama, maka menghadirkan kekuatan cinta menjadi pintu lahirnya perdamaian tersebut. Manusia yang selalu menghadirkan kekuaan cinta dalam dirinya sudah pasti bisa memahami substansi kehidupan dengan sebenarnya, sehingga dia selalu menebar kedamaian, ketentraman dan kenyamanan. Tidak sebaliknya, menebar teror dan kekerasan. Karena teror dan kekerasan atas nama apapun pada dasarnya adalah buah dari sifat kebencian yang lahir dari diri manusia. Stop teror dan kekerasan.

———- *** ———

Rate this article!
Tags: