Pengguna Jasa Transprotasi Keluhkan Kenaikan Tarif Ojek Online

Kenaikan ojek online yang berlaku mulai Rabu (1/5) dikeluhkan para pengguna, karena tarif baru dirasa mencekik mereka, Kamis (2/5).[trie diana/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Mulai Rabu (1/5) kemarin tarif ojek online mengalami kenaikan. Perubahan tarif ojek online berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Penggunaan Sepeda Motor dan Surat Keputusan (SK) Menteri Perhubungan Nomor 348 Tahun 2019 mulai diberlakukan.
Rupanya kenaikan tarif ojek online ini banyak dikeluhkan oleh pengguna jasa transportasi tersebut, karena kenaikannya cukup drastis.
Warga Karangrejo Surabaya Iin mengeluhkan kenaikan tarif ojek online ini. Selama ini dia mengaku senang menggunakan jasa ojek online karena tarif terjangkau, lebih praktis. “Sejak ada kenaikan, mikir-mikir. Kok kenaikan tarifnya cukup banyak ya,” kata karyawan swasta ini, Kamis (2/5).
Sebelum adanya kenaikan tarif, sambungnya, perjalanan dari rumahnya di Jl Karangrejo menuju kantor di Jl Indragiri Surabaya menggunakan ojek online hanya sekitar Rp 6.000. Setelah ada kenaikan tarif menjadi sekitar Rp 11.000 atau hampir dua kali lipat.
Tak hanya itu, kenaikan tarif juga dirasakan Iin saat harus mobile dari rumahnya di Jl Karangrejo menuju ke Gedung Negara Grahadi di Jl Gubernur Suryo. “Biasanya dari rumah ke Grahadi hanya bayar Rp 13 ribu. Sekarang, saya harus mengeluarkan uang lebih, yakni sekitar Rp 17-18 ribu. Kalau jalanan macet bisa lebih,” ucapnya.
Hal yang sama juga diungkap Ratna. Warga Gubeng ini juga terkejut dengan kenaikan tarif ojek online yang menurutnya menyusahkan. “Dulu naik ojek online dari Gubeng ke kawasan TVRI Mayjend Sungkono sekitar Rp 10 ribu, sekarang bisa Rp 16-17 ribu. Kalau jadi mahal, ya pikir-pikir lagi. Dulu mau naik karena murah dan praktis,” katanya.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) dan LLAJ Jatim Fattah Jasin mengaku, pihaknya juga mengetahui adanya kenaikan tarif ojek online. Bahkan kenaikan tarif tersebut tidak hanya terjadi di Jatim, tapi di seluruh wilayah di Indonesia.
“Sesuai dengan Permenhub, kenaikan tarif ojek online ini berlaku sejak Rabu (1/5) kemarin. Dengan begitu di Jawa Timur kenaikan tarif ojek online itu juga terjadi,” kata Fattah Jasin.
Sebelumnya Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memastikan akan mengevaluasi setelah sepekan diberlakukan kenaikan tarif ini. “Dalam satu minggu mendatang segera masukan-masukan (diterima). Kami akan bertemu untuk memberikan respon bagi evaluasi tersebut,” kata Budi Karya Sumadi.
Budi mengatakan aturan tarif ojek online untuk tahap pertama diberlakukan di lima kota besar yakni Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, dan Makassar.
Dalam SK Nomor 348, biaya jasa ojek dibagi untuk tiga zona. Zona pertama untuk Sumatera, Jawa selain Jabodetabek dan Bali. Zona kedua yaitu khusus Jabodetabek dan zona ketiga untuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua.
Untuk zona satu yaitu biaya jasa batas bawahnya yaitu Rp 1.850 perkilometer dan batas atasnya Rp 2.300 perkilometer. Sementara untuk biaya jasa minimal zona satu yakni Rp 7.000 sampai Rp 10 ribu.
Sementara itu, zona dua biaya jasa batas bawahnya yakni Rp 2.000 perkilometer dan batas atasnya Rp 2.500 perkilometer. Lalu biaya jasa minimalnya dari Rp 8.000 sampai Rp 10 ribu.
Untuk zona tiga, biaya jasa batas bawahnya yaitu Rp 2.100 perkilometer dan batas atasnya Rp 2.600 perkilometer. Sementara untuk biaya jasa minimal zona tiga yakni Rp 7.000 sampai Rp 10 ribu. [bed]

Tags: