Pengembangan Perpustakaan di Pondok Pesantren

Oleh :
Drs Soedjono, MM
Pustakawan Ahli Utama pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Di Jawa Timur, salah satu potensi kelembagaan sosial-keagamaan yang potensial menjadi basis pemberdayaan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia adalah Pondok Pesantren. Peran Pondok Pesantren di sini bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga sebagai tempat untuk mengembangkan pengetahuan dan literasi kritis masyarakat.
Sebagai lembaga sosial-keagamaan yang memiliki akar kultural dan potensi SDM dan kemampuan ekonomi yang kuat, keberadaan pondok pesantren yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur sudah selayaknya didukung perkembangannya.
Pondok Pesantren pada dasarnya adalah aset yang sangat berharga dan memiliki peran strategis untuk membantu mempercepat upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus membantu pengembangan kualitas umber daya manusia, baik para santri/santriwati maupun masyarakat di sekitar Pondok Pesantren.
Di Jawa Timur jumlah Pondok Pesantren yang mencapai puluhan ribu lebih lembaga yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten, sayangnya hingga saat ini belum berkembang secara optimal. Meski sebagai lembaga pendidikan keagamanaan di Pondok Pesantren telah tersedia berbagai kepustakaan di bidang keagamaan, tetapi kondisi perpustakaan di Pondok Pesantren boleh dikata masih belum dikelola dengan baik.
Di kebanyakan Pondok Pesantren, pola pengelolaan perpustakaan umumnya masih dijalankan menurut pola lama, dan belum mengakomodasi kemajuan perkembangan teknologi informasi dan era digital. Banyak Pondok Pesantren ditengarai masih mengedepankan koleksi bacaan di perpustakaan yang hanya berkaitan dengan persoalan keagamaan, dan belum mengakomodasi kekayaan bacaan yang tersedia dan telah terpublikasikan.
Di tengah perkembangan masyarakat yang makin terbuka, terlebih memasuki era digital, mungkinkah Pondok Pesantren masih menutup diri terhadap perkembangan arus informasi yang makin beragam dan tak terbendung? Apa sebetulmya tantangan yang dihadapi dalam upaya pengelolaan perpustakaan di lingkungan Pondok Pesantren?
Membuka Perspektif Alternatif
Sebagai lembaga sosial-keagamaan yang menjadi wadah bagi para santri untuk belajar ilmu agama, memang tidak ada salahnya jika Pondok Pesantren lebih mengedepankan koleksi bacaan keagamaan dan sejenisnya. Tetapi, ketika jaman telah berubah, dan tantangan yang dihadapi para santri kelak juga makin beragam dan berat, maka kesempatan bagi para santri untuk belajar hal-hal di luar ilmu keagamaan tidak ada salahnya jika dibuka lebih lebar.
Selama ini, diakui atau tidak, di lembaga pendidikan keagamaan, salah satu hal yang lazim terjadi adalah siswa -termasuk santri-cenderung diajar dalam logika pembelajaran yang dogmatis-keagamaan, yang kurang membuka kesempatan bagi tumbuhnya wawasan yang multi-perspektif. Kehadiran perpustakaan di lingkungan Pondok Pesantren diharapkan dapat memecahkan masalah yang selama ini muncul di kalangan santri.
Dengan memberi kesempatan dan penerapan pola baru dalam pengelolaan perpustakaan di Pondok Pesantren yang lebih terbuka, setidak-nya akan diperoleh sejumlah manfaat.
Pertama, berbeda dengan Pondok Pesantren yang cenderung hanya menyediakan berbagai bacaan keagamaan, dengan mengembangkan perpustakaan yang juga menawarkan bacaan-bacaan social, dan bacaan populer lain diharapkan kesempatan bagi para santri untuk menoleh pada dunia luar menjadi lebih terbuka. Artinya, para santri nantinya tidak hanya berkutat dengan bacaan-bacaan keagamaan saja, tetapi mereka juga berkesempatan untuk mengisi waktu luang dengan bacaan alternatif yang fungsional meningkatkan literasi kritis mereka.
Kedua, dengan membuka kesempatan bagi para santri untuk menelusur berbagai informasi, pola pemikiran yang berkembang di kalangan para santri diharapkan akan lebih terfragmentasi dan memungkinkan para santri untuk mengembangkan cara pandang yang bisa memperbadingkan satu dengan yang lain. Lebih dari sekadar melihat hal-hal alternatif, perpustakaan yang kaya akan koleksi bacaan, niscaya cepat atau lambat akan membangun konstruksi cara berpikir para santri yang tidak mudah terhegemoni, dan bahkan sebaliknya akan selalu inovatif.
Ketiga, bagi Pondok Pesantren yang tidak alergi dengan perkembangan teknologi informasi dan internet, kekayaan informasi yang tersimpan di dunia maya, jika dikelola perpustakaan dengan baik, niscaya akan menjadi sumber daya dan modal social yang tanpa batas. Bahkan untuk belajar hal-hal yang berkaitan dengan agama pun, par santri akan berkesempatan untuk belajar dan melihat persoalan keagamaan di berbagai belahan dunia dan berbagai perspektif.
Tantangan
Bagi kebanyakan Pondok Pesantren, berkutat dengan ilmu keagamaan dan membatasi akses santri terhadap perkembangan informasi mungkin merupakan cara paling aman untuk mencegah kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penafsiran dan pemahaman terhadap informasi yang makin lama makin tak terbatas.
Tetapi, ketika jaman telah berubah, dan perkembangan informasi makin tidak terbendung, maka para santri pun niscaya tidak akan mungkin bisa lepas dari terpaan informasi yang terus berkeliaran di sekitarnya.
Di era digital seperti sekarang, ketika para santri kebanyakan telah memiliki gadget dan berkesempatan untuk menelusur informasi di dunia maya, maka upaya untuk melatih santri senantiasa bersikap kritis dan mampu menyaring secara mandiri inforrmasi apa yang berguna, dan informasi mana yang harus mereka buang, tidaklah mungkin dilakukan dengan cara melarang atau sekadar mengandalkan regulasi yang membatasi ruang gerak santri.
Membuka perpustakaan dan menawarkan koleksi yang beraneka-ragam adalah bagian dari upaya untuk mempersiapkan para santri agar tidak mudah kaget dan rentan tergoda konten informasi yang negatif, terutama di dunia maya. Adaah tugas para pustakawan di lingkungan Pondok Pesantren untuk lebih membuka diri dan mau menyapa dunia luar.
Sikap menutup diri dan tidak mau melihat bahwa dunia sudah berubah, kemungkinan besar justru akan membuat Pondok Pesantren harus menghadapi tantangan yang makin berat.

———- *** ———–

Tags: