Pengambilan PIN PPDB Hari Pertama Tanpa Juklak

Calon siswa dan orang tua saat melakukan pencocokan koordinat tempat tinggal sebelum pencetakan PIN oleh operator PPDB di SMAN 1 Kedungwaru, Senin (27/5).

Tulungagung, Bhirawa
Sejumlah calon siswa SMAN dan SMKN di Kabupaten Tulungagung, Senin (27/5,) mulai mendatangi sekolah yang mereka inginkan untuk mendapat personal identification number (PIN). Mereka mengurus PIN tersebut kendati belum ada petunjuk pelaksana (juklak) terkait pembagian daerah atau zonasi khususnya SMAN yang ditentukan oleh Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Tulungagung.
Akibat belum adanya juklak, panitia penerimaan peserta didik baru (PPDB) di beberapa sekolah belum bisa memberikan keterangan terkait pembagian daerah untuk zonasi SMAN tersebut. “Belum tahu apa sekarang ada pembagian zona seperti tahun lalu atau tidak. Ini karena sampai sekarang belum ada juklak-nya,” ujar salah seorang panitia PPDB di SMAN 1 Kedungwaru pada Bhirawa.
Ketika dikonformasi ke Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Tulungagung, Solikin SPd MPd, ia membenarkan jika sampai kemarin belum ada juklak untuk PPDB SMAN/SMKN untuk wilayah Tulungagung yang disampaikan ke sekolah-sekolah. Yang ada baru petunjuk teknis (juknis) dari Dinas Pendidikan Provinsi Jatim.
Namun demikian, lanjut Solikin, masalah juklak kemarin juga sudah dapat diselesaikan oleh Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Tulungagung. “Sekarang (kemarin) juga kami akan segera rapat dan membahasnya,” tuturnya.
Menurut mantan Kepala SMPN 2 Ngunut ini, dalam juklak PPDB SMAN/SMKN di Tulungagung tidak jauh berbeda dengan juklak PPDB SMAN/SMKN pada tahun lalu. Di Tulungagung untuk pendaftaran SMAN dibagi dalam empat zona.
“Jadi sama dengan tahun lalu. Zona satu meliputi SMAN 1 Kedungwaru, SMAN 1 Tulungagung dan SMAN 1 Karangrejo. Calon siswa juga tetap bisa memilih dua SMAN dalam satu zona,” paparnya.
Dijelaskan Solikin, dalam PPDB SMAN tahun 2019, untuk jalur zonasi (online) sudah mencapai 90 persen dengan pembagian 20 persen untuk siswa keluarga tidak mampu dan keluarga buruh, 20 persen untuk peraih UN SMP tertinggi dan sisanya 50 persen zonasi murni berdasar kedekatan tempat tinggal dengan sekolah. “Sedang yang 10 persen untuk offline,” terangnya.
Menjawab pertanyaan, Soliki menyatakan yang masuk dalam kategori offline adalah untuk calon siswa berprestasi dan untuk yang orang tuanya pindah tugas. Masing-masing berkuota lima persen.
“Dan yang dimaksud dengan berprestasi disini bukan nilai UN, tetapi berprestasi seperti di OSN, FLS2N atau LKS,” tambahnya.
Sementara itu, sejumlah orangtua calon siswa masih ada yang bingung dengan jalur zonasi SMAN. Mereka menganggap kuota 90 persen untuk jalur zonasi semuanya untuk siswa berdasar kedekatan tempat tinggal.
“Anak saya nanti cukup daftar di SMAN 1 Kedungwaru saja, ini karena tempat tinggal saya dekat dengan SMAN 1 Kedungwaru. Sekarang kan 90 persen untuk siswa yang dekat dengan sekolah yang dituju,” ujar Titik (60) warga Kelurahan Kepatihan Kota Tulungagung. [wed]

Tags: