Pendidikan Kebencanaan

Selalu tersedia ribuan proposal penanggulangan banjir dan longsor, setelah terjadinya bencana. Namun dampak kepedihan selalu berulang. Karena kurangnya pemahaman mengurangi dampak bencana. Maka pendidikan siaga kebencana-an, patut diselenggaran di Indonesia. Sesuai paradigma geologis maupun topografi teritorial sebagai negeri kepulauan yang diapit dua samudera luas (Pasifik, dan Atlantik).
Walau sebenarnya, bencana tidak pernah datang tiba-tiba. Melainkan selalu terdapat warning alamiah, namun biasanya diabaikan. Ber-iringan dengan daya dukung lingkungan makin buruk telah diketahui. Tebing dan bantaran sungai yang kritis sudah lama terlihat oleh masyarakat dan aparat. Tetapi tidak cepat di-antisipasi. Juga tidak terdapat perbaikan pola hidup “berdampingan” dengan bencana.
Me-minimalisir dampak bencana, niscaya memperbaiki lingkungan hidup. Setidaknya terdapat dua undang-undang yang meng-amanatkan perbaikan lingkungan. Yakni, UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. UU ini bahkan melarang seluruh proyek menerabas pilar lingkungan hidup. Terutama yang meng-akibatkan kerugian ekologi, berujung kerugian ekonomi masyarakat luas. Disusul bencana alam
Secara lex specialist, terdapat UU Nomor UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Di dalamnya terdapat amanat pencegahan bencana. Pada pasal 38 huruf a, dinyatakan, “identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana.” Pada pasal yang sama huruf b, diwajibkan adanya “kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya bencana.”
Seluruh amanat UU wajib dilaksanakan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Karena itu di seluruh daerah dibentuk institusi penanggulangan bencana (BPBD). Namun tidak seluruh amanat UU Penanggulangan Bencana bisa dipikul hanya oleh BPBD. Di daerah, seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) juga, mendukung pelaksanaan penanggulangan bencana.
Kepedihan akibat bencana, tidak akan ter-obati dengan pelaksanaan proposal. Dampak iklim makin sering mendera. Banjir dan longsor selalu terjadi di berbagai daerah. Ini bukan sekadar disebabkan topografi daerah berbukit-bukit. Melainkan juga keterlambatan penanganan (perbaikan) kawasan kritis. Menyebabkan bencana serupa berulang-ulang memperparah kerusakan lingkungan. Kerugian (ekonomi dan kesengsaraan) semakin besar.
Maka pemerintah bersama masyarakat, mesti makin bijak menjaga lingkungan. Pemerintah daerah (propinsi, serta kabupaten dan kota) seyogianya menyusun mapping kebencanaan berdasar kondisi terbaru. Koordinasi revitalisasi lingkungan juga wajib dilakukan pemerintah pusat, untuk menjamin kelangsungan perekonomian daerah. Serta men-sosialisasi kawasan berpotensi bencana sebagai pendidikan umum.
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) mencatat, setidaknya terdapat 315 kabupaten dan kota berada di daerah bahaya. Dampak banjir (tingkat sedang dan parah) selalu mengintai pada musim hujan. Ini meng-akibatkan sekitar 63,7 juta jiwa penduduk berisiko terpapar dampak banjir. Berdasar mapping kebencanaan, tanah longsor juga mengancam 274 kabupaten. Sebanyak 40 juta lebih penduduk berisiko terpapar dampak longsor.
Berdasarkan UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, telah diamanatkan hak dan kewajiban pemerintah. Pada pasal 26 ayat (1) huruf b, dituliskan bahwa setiap orang berhak: “mendapat kanpendidikan, pelatihan, dan ketrampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.” Pentingnya pendidikan dan latihan kebencanaan diulang lagi pada pasal 35. Didalamnya di-amanat-kan penegakan regulasi tentang rencana tata-ruang (RTRW).
Berbagai negara telah sukses hidup “berdampingan” dengan bencana. Misalnya Jepang, sebagai kawasan tsunami paling kerap di dunia. Karena dampak bencana telah diajarkan di sekolah, sejak tingkat pendidikan usia dini. Geografis, dan topologi Indonesia, sesungguhnya merupakan berkah. Iklim hujan tropis juga berkah. Telah memberikan kawasan pangan yang subur. Selayaknya, berkah dilestarikan dengan pemuliaan lingkungan, sebagai pendidikan mengurangi bencana.

——— 000 ———

Rate this article!
Pendidikan Kebencanaan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: