Penarikan Uang Bangku SDN VII Kepanjen Disoal LSM ProDesa  

SDN VII Kepanjen, Kec Kepanjen, Kab Malang

Kab Malang, Bhirawa
Persoalan pendidikan di wilayah Kabupaten Malang hingga kini masih menuai masalah. Sehingga hal itu kembali dipersoalkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ProDesa Kabupaten Malang. Sebab, setelah persoalan pungutan uang sekolah yang dilakukan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pegentan V Singosari, Kabupaten Malang, pada bulan lalu, kini SDN VII Kepanjen juga sama melakukan pungutan kepada siswa.
Bahkan, kata Badan Pekerja ProDesa Kabupaten Malang Mochamad Kusaeri, Selasa (18/6), kepada Bhirawa, dalam Surat Undangan dan Pemberitahun dengan Nomor 005/28/35.07.101.404.06/2019, yang ditujukan pada wali murid kelas I hingga V, agar untuk hadir pada hari Kamis, 20 Juni 2019, untuk penerimaan raport. Dan untuk persyaratan mengambil raport, harus sudah mengembalikan semua buku yang dipinjam siswa atau buku paket, dan juga harus melunasi administrasi bulanan serta uang bangku bagi kelas I.
“Dan dalam surat yang ditandatangani Kepala Sekolah (Kasek) SDN VII Kepanjen Yuli Isnani, pada 14 Juni 2019, juga menyebutkan bahwa apabila raport tidak diambil pada waktu yang ditentukan, maka siswa tidak berhak naik kelas,” ungkapnya.
Sehingga, masih dia katakan, surat yang dibuat oleh Kasek SDN VII itu, yang ditujukan wali murid tersebut, maka hal itu membuat preseden buruk bagi pendidikan di Kabupaten Malang. Karena dengan masih adanya pungutan sekolah, tentunya ini membuktikan bahwa Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Malang lemah dalam melakukan pengawasan pada sekolah.
“Karena sudah ada beberapa sekolah yang melakukan pungutan di luar aturan, sehinggga pungutan itu masuk pada rana tindak pidana korupsi, sebab melakukan pungutan liar (pungli).,” tegas Kusaeri.
Namun setelah Surat Undangan dan Pemberitahuan itu, sudah diketahui luas oleh media dan masyarakat, jelas dia, maka Kasek SDN VII Kepanjen Yuli Isnani kembali membuat surat undangan baru dengan Nomor 005/30/35.07.101.404.06/2019, dengan hari dan tanggal yang sama, tapi persyaratan pengambilan raport tidak dicantumkan, serta tulisan yang menyebutkan bahwa apabila raport tidak diambil pada waktu yang ditentukan, maka siswa tidak berhak naik kelas, itu juga tidak dicantumkan seperti pada undangan yang sebelumnya.
Selain itu, lanjut Kusaeri, dalam surat undangan pada alinea terakhir, terdapat tulisan Notabene (NB) bahwa meniadakan uang bangku. Dan jika surat undangan tidak ketahui media dan masyarakat, maka dengan jelas sekolah tersebut akan melakukan pungutan, dan bisa dikenakan sanksi hukum, yaitu bisa masuk kategori pungli. “Ini membuktikan jika Dindik Kabupaten Malang selama ini, lemah dalam mengawasi sekolah-sekolah yang dibawah kewenangannya,” tuturnya.
Selain, Kasek SDN VII Kepanjen merubah dan meralat undangan yang pertama, kata dia, juga keluar Surat Berita Acara Pencabutan Surat Undangan/Pemberitahuan Rapat Orang Tua/ Wali Murid SDN VII Kepanjen, yang ditandatangani oleh Koordinator Wilayah (Korwil) Dinas Pendidikan Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang H Abdullah, pada 18 Mei 2019.
Dan dalam surat itu disebutkan, terang Kusaeri, jika pada tanggal 17 Juni 2019, kami atau Korwil Dindik setempat sudah memanggil dan memberikan pengarahan kepada Kasek SDN VII Kepanjen untuk meralat undangan rapat orang tua/wali murid kelas I-V Nomor 005/28/35.07.101.404.06/2019, tanggal 14 Juni 2019. Dan dia pun juga memerintahkan Kasek SDN VII Kepanjen untuk mencabut surat diatas dan meralat dengan surat undangan baru. “Meski undangan pertama sudah diralat dan dicabut, itu pun juga belum bisa membuat jera para kasek dan guru. Karena tidak diberikan sanksi, dan pungutan uang bangku tersebut sudah diluar aturan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) SD Dindik Kabupaten Malang Slamet Suyono mengatakan, jika dirinya sudah memanggil Kasek SDN VII Kepanjen Yuli Isnani untuk memberikan klarifikasi atas undangan wali murid yang dibuatnya itu. “Bahkan,dirinya pun saat itu juga meminta padanya, agar melakukan penarikan surat undangan tersebut,” ucapnya dengan singkat, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp (WA). [cyn]

Tags: