Pemkab Sidoarjo Carikan Solusi Bahan Bakar Limbah Sampah

Wakil Bupati Nur Ahmad Syaifuddin memimpin jalan rakor mencarikan solusi bahan bakar limbah plastik. [achmad suprayogi/bhirawa]

Sidoarjo, Bhirawa
Pemkab Sidoarjo berusaha keras untuk mencarikan solusi penggunaan bahan bakar bagi para pengusaha tahu di Desa Tropodo, Kec Krian, yang selama ini menggunakan bahan bakar dari limbah plastik. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kab Sidoarjo melaksanakan Rapat Koordinasi dengan menghadirkan OPD terkait, pengusaha tahu dan Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin SH di Ruang Rapat Delta Wicaksana Setda Kab Sidoarjo.
Pada awal rapat Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kab Sidoarjo, Ir Sigit Setyawan MSi menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan untuk menindaklanjuti pemberitaan di media beberapa waktu yang lalu. Dimana para pengusaha tahu di Desa Tropodo, Kec Krian menggunakan bahan bakar sampah plastik impor yang didapat dari Desa Bangun, Mojokerto.
Sebelumnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) juga telah melakukan konfirmasi di lapangan, setelah itu Gubernur Jatim Bersama jajaran juga melakukan konfirmasi di lapangan, baik di Sidoarjo maupun di Kab Mojokerto. Terakhir dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga melakukan cek lapangan yang dipimpin langsung Dirjen Pengolahan Sampah dan Limbah B3, yang langsung koordinasi dengan pihak bea cukai untuk menghentikan import sampah ini.
Penggunaan bahan bakar sampah plastik ini sangat tidak dianjurkan, karena tindakan ini melanggar hukum, menimbulkan polusi, dan banyak warga sekitar yang terserang ISPA. ”Dari data yang terungkap di Bea Cukai Surabaya, kini 87 kontainer mixed paper sedang diproses Bea dan Cukai Tanjung Perak Surabaya, diantaranya lima kontainer sudah reekspor, delapan kontainer siap direekspor,” jelas Sigit.
Wakil Bupati Sidoarjo, Nur Ahmad Syaifuddin, pada saat berdialog dengan para pengusaha tahu, mengungkapkan keseriusan Pemkab Sidoarjo dalam mencarikan solusi yang baik bagi para pengusaha tahu di Desa Tropodo. ”Maka pada rapat ini, selain OPD juga mendatangkan pihak PGN, dalam rangka memberikan solusi bahan bakar termurah, apakah itu, kayu, gas alam atau sampah lokal/TPST,” jelas Wakil Bupati Sidoarjo.
Salah satu pengusaha tahu, Ismail, mengaku senang dengan adanya solusi ini, karena menurutnya, dirinya bersama-sama dengan warganya ingin merubah bahan bakar limbah plastik itu kepada bahan bahan yang tidak membahayakan. Semoga solusi ini segara bisa terealisasikan, karena di desa kami ada sekitar 50 pengusaha. ”Mereka rata-rata memiliki sekitar 20 karyawan per perusahaan. Dari 50 pengusaha itu, tiap harinya bisa menghabiskan sekitar 50 ton kedelai,” katanya. [ach]

Tags: