Pemkab Malang Bina Karyawan MPS Sumber Makmur Ngantang

Plt Bupati Malang HM Sanusi saat mengunjungi karyawan MPS KUD Sumber Makmur, Desa Ngantang, Kab Malang

Kab Malang, Bhirawa
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terus berupaya untuk memberikan pembinaan dan pendampingan kepada manajemen dan para karyawan Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang dikelola Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Makmur, Desa Ngantang, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.
“Pembinaan yang akan diberikan kepada para karyawan dan managemen MPS tersebut, yakni berupa kegiatan yang sifatnya pengembangan diri dan yang dapat menambah pendapatan atau mengolah potensi yang ada di sekitar wilayahnya,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Malang HM Sanusi, Rabu (4/9), kepada Bhirawa.
Ditegaskan, Pemkab Malang dalam memberikan pembinaan dan pendampingan pada karyawan dan managemen MPS, nantinya melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang. Sehingga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka dirinya mencanangkan program One Distric, One Destination, One Village, dan One Product. Artinya dengan pencanangan itu, diharapkan masing-masing desa akan bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“Kami berharap, dengan adanya MPS KUD Sumber Makmur, bisa bekerjasama dalam pembinaan kerja dengan pihak Camat dan dinas terkait. Sehingga dirinya juga mengapresiasi kepada pengusaha dan para karyawan, yang mana telah mampu meningkatkan perekonomian di Kabupaten Malang,” ujar Sanusi.
Sementara itu, Direktur MPS KUD Sumber Makmur Ngantang, Kabupaten Malang Budi Yuwono mengatakan, pihaknya selama ini telah memperdayakan warga Ngantang untuk bekerja di industri pengolahan tembakau yang lebih mengutamakan padat karya. Sedangkan karyawan kami 95 persen dari wilayah Ngantang, dan yang 5 persen dari warga wilayah Pujon dan Kasembon. “Mayoritas karyawan kami perempuan, dan total karyawan kini mencapai 1.200 orang,” jelasnya.
Menurut Budi, pihaknya kini terus berupaya untuk membudidayakan rokok kretek guna melestarikan kebudayaan Indonesia. Sebab, rokok kretek tangan secara internasional hanya ada di Indonesia. Meski saat ini teknologi semakin maju, tapi pihaknya lebih memilih memanfaatkan tenaga manusia atau manual, yang hal ini sebagai padat karya. Apalagi, rokok kretek tangan merupakan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dipertahankan.
“Kami juga memberikan pelatihan pada para karyawan, yakni supaya bisa memilih keahlian tersendiri saat menghadapi masa purna kerja. Sehingga diharapkan setelah purna kerja, mereka masih bisa berkarya. Dan pelatihan tersebut kami kemas dalam kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” tandasnya. [cyn]

Tags: