Pemkab Jember Siap Lakukan Perbaikan Penyelenggaraan JFC

Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief (pegang mik) di dampingi Kapolres AKBP Kusworo Wibowo saat menemui ASJ yang sedang menggelar aksi unjukrasa, Rabu (7-8)

Jember, Bhirawa
Pemkab Jember siap melakukan koreksi dan perbaikan atas penyelenggaraan Jember Fashion Carnaval dan even budaya lain yang digelar oleh masyarakat Jember.
Wakil Bupati Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief, saat bertemu dengan elemen Aliansi Santri Jember, Rabu(7/8), menyatakan apa yang disuarakan oleh ASJ sudah disuarakan oleh MUI, PCNU serta beberapa perwakilan ulama dengan Forkompimda sehari sebelumnya, Selasa (6/8) kemarin.
“Sejatinya sudah dibahas oleh seluruh komponen Forkopimda, Ulama dan beberapa budayawan kemarin,”katanya.
Diakui oleh Wabub, event JFC yang digelar Munggu kemarin memang di luar dugaan.”Artis yang datang ke Jember untuk menyemarakkan JFC kemarin kehadirannya begitu spontan. Mereka (artis Cinta Laura) hadir untuk menghormati penggagas JFC alm. Dynand Fariz, sehingga pihak penyelenggara tidak sempat melakukan arahan, dan ini sudah diakui oleh pihak managemen ketika artis tersebut mengenakan kostum yang viral itu,” ungkap Wabup di hadapan peserta aksi.
Oleh karenanya, Pemda dan managemen JFC siap mengakomodir masukan-masukan dan meminta maaf kepada masyarakat Jember khususnya.”Ini memang keteledoran dan kami mewakili pemerintah kabupaten Jember meminta maaf, dan kedepan, tidak hanya JFC tapi kegiatan-kegiatan lainnya seperti Tajem maupun kegiatan lain akan dilakukan koreksi,” tandas Wabub yang juga pengasuh Ponpes Al Falah ini kemarin.
Sebelumnya, Ketua MUI, Ketua PCNU, Ketua FPI Jember bersama puluhan tokoh agama lain menemui Bupati Faida dan manajamen JFC terkait tampilan busana JFC yang menimbulkan polemik ditengah masyarakat pada Selasa(6/8) .
Kemarin, puluhan santri yang tergabung dalam Aliansi Santri Jember (ASJ) sikapi ” umbar aurat” saat grand Jember Fashion Carnaval (JFC) ke 18 dengan aksi unjukrasa di depan Pemkab Jembet, Rabu (7/8). ASJ menilai, busana JFC yang dikenakan artis ibu kota pada Minggu lalu, dinilai tidak mencerminkan budaya masyarakat Jember yang religius
“Event JFC dengan mengumbar aurat telah melukai hati para pejuang Jember yang berlatar belakang Pesantren seperti KH. Ahmad Shidiq, KH. Khotib Umar dan segenap tokoh yang telah berjuang dengan susah payah mencitrakan Jember sebagai kota religius,” ujar Akhmad Taufik peserta aksi asal Tanggul kemrin.
Dalam aksi ini, ada 5 tuntutan yang disuarakan oleh ASJ, diantaranya, meminta kepada penyelenggara JFC dan Bupati Jember meminta permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat dan komunitas pesantren.
“Bupati harus bertanggung jawab atas keteledoran penyelenggara JFC, serta JFC tahun depan harus menonjolkan budaya lokal Jember dengan tidak mengexplore budaya luar. ” katanya.
Sementara Ketua MUI Jember Prof Halim Subahar dikonfirmasi meminta adanya regulasi yang mengatur terkait tampilan dalam gelaran karnaval JFC sebelum dipertontonkan kepada khalayak umum.
“Harus ada regulasi dalam bentuk Perbup. Sehingga gelaran JFC dapat memberikan tontonan yang tidak mengurangi nilai-nilai kearifan,” kata Halim Subahar kemarin.
Halim mengaku, dalam gelaran JFC yang ke 18 ini murni keteledoran panitia JFC. Biasanya konten (atau tampilan busana) yang ditampilkan (sebelum dipertontonkan), itu dipresentasikan terlebih dahulu. Tetapi sekarang ini tidak.
“Ini murni kecolongan,” ujarnya
Hal senada juga disampaikan Ketua PCNU Jember Abdullah Syamsul Arifin. Menurut Gus Aab, pihak JFC dan Pemkab harus bertanggungjawab atas tampilan kemarin. “Ini keteledoran, karena yang diundang tamu ( artis Cinta Laura) dan tidak melalui pengecekan terkait busana yang ditampilkan. Dengan demikian, pihak JFC harus bertanggung jawab dengan penampilan kemarin, termasuk juga pihak pemkab,” pungkas Gus Aab.(efi)

Tags: