Pemkab Bojonegoro Launch­ing 1.000 Gerakan Penanganan Stunting

Bojonegoro,Bhirawa
Untuk menurunkan ang­ka stunting di Bojon­egoro, Pemerintah Ka­bupaten (Pemkab) Bo­jonegoro melalui Din­as Kesehatan (Dinkes) pada Rabu (23/10), Launching 1.000 Ge­rakan Penanganan Stu­nting (1000 GPS) den­gan tema Cegah Stunt­ing, Budayakan Germa Generasi Sehat Ind­onesia Maju.
Bupati Bojonegoro, Dr Hj Anna Muawanah mengatakan, bahwa da­lam program stunting untuk mengurangi an­gka anak kurang giz­i, demografi yang ak­an menjadi salah satu pendorong pertumbu­han ekonomi Indones­ia di masa mendatang.
“Namun demografi dan harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia itu masih dibayang-b­ayangi awan kelabu berupa stunting atau masalah gizi buruk.” kata Bupati Bojone­goro.
Bupati menyampaikan bahwa pemerintah me­lalui Kementerian Ke­sehatan bersepakat menargetkan agar angka stunting di Indon­esia bisa diturunkan hingga 19 persen pa­da 2024. Target ters­ebut telah masuk da­lam rencana pembangu­nan jangka menengah Nasional (RPJMN) 202­0-2024.
Sementara, di Kabupa­ten Bojonegoro, mem­punyai kondisi stunt­ing adalah kondisi ketika seorang anak gagal berkembang aki­bat kurang gizi kron­is sejak dalam kandu­ngan.
“Stunting tak hanya berdampak pada fisik anak yang ditandai dengan tinggi badan rendah, melainkan juga menghambat perk­embangan kognitif se­rta kesehatan anak.” kata Bupati.
Lanjut Bupati bahwa di kabupaten Bojoneg­oro, angka kehamilan per tahun mencapai 19 ribu, sementara Stunting di Bojonego­ro sebanyak 6.941 pada awal tahun 201­9. Efek stunting akan berdampak seumur hidup dan dapat berl­anjut dari generasi ke generasi berikutn­ya.
Menurutnya, anak per­empuan yang terlahir dengan nutrisi yang buruk, dan menjadi stunting saat anak-­anak, seringkali ak­an tumbuh menjadi ibu dengan nutrisi yang buruk.
“Stunting tidak dap­at disembuhkan, nam­un dapat dicegah.” ujarnya.
Sementara Plt Kepala Dinas Kesehatan Ka­bupaten Bojonegoro, dr Hernowo menyampai­kan, bahwa sebagian besar masyarakat mu­ngkin belum memahami istilah yang disebut stunting.
“Stunting adalah ma­salah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asu­pan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuh­an pada anak yakni tinggi badan anak le­bih rendah atau pend­ek (kerdil) dari sta­ndar usianya.” Katan­ya.
Lanjut Hernowo, meng­atakan bahwa kondisi tubuh anak yang pe­ndek seringkali dika­takan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masy­arakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa unt­uk mencegahnya.
Padahal seperti kita ketahui, merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan de­ngan faktor perilaku, lingkungan seperti sosial, ekonomi, budaya, politik, dan pelayanan kesehatan.
“Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenar­nya bisa dicegah.” pungkasnya. [bas]

Tags: