Pemerintah Kabupaten Sumenep Pastikan Aman dari Daging Glonggongan

Bambang Heriyanto

Sumenep, Bhirawa
Mendekati hari raya Idul Fitri 1440 H , pihak Pemkab Sumenep memastikan tidak ada peredaran daging sapi gelonggongan di wilayahnya.
Sebagaimana biasanya Lebaran menjadi momen bagi pedagang daging untuk meraup keuntungan. Bahkan, tidak sedikit pedagang daging yang melancarkan aksinya dengan cara tidak halal, seperti menjual daging sapi glonggongan dari luar daerah. Padahal, hal tersebut merugikan banyak pihak.
Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan, Bambang Heriyanto mengatakan, berbagai hal dilakukan untuk mengantisipasi masuknya daging sapi glonggongan ke wilayah Madura, terutama kabupaten Sumenep yang ada diujung timur Pulau Madura ini. Namun, hingga saat ini, pihaknya memastikan Sumenep aman dari daging glonggongan tersebut.
“Hingga saat ini untuk di Kabupaten Sumenep, kami pastikan aman dari daging glonggongan,” kata Bambang Heriyanto, Selasa (21/5).
Bambang menyatakan, masyarakat Sumenep tidak perlu khawatir akan adanya daging yang membahayakan kesehatan masyarakat tersebut. Sebab, pemerintah daerah setiap hari terus melakukan pemantauan terhadap daging yang dijual di pasaran.
Daging yang terjual di pasar merupakan sapi yang dipotong sendiri oleh pedagang dan sapinya pun hasil ternak dari para petani atau penernak lokal. “Masyarakat tidak perlu khawatir akan daging berbahaya itu. Daging yang dijual di pasaran semuanya daging sehat dan hasil.ternak sendiri,” paparnya.
Kendati demikian, paparnya, para konsumen tetap harus lebih berhati-hati saat hendak membeli daging sapi. Konsumen harus bisa membedakan daging sapi sehat dan daging glonggongan, karena perbedaannya sangat mencolok. Kalau daging sapi glonggongan itu biasanya mengeluarkan air secara terus menerus.
Sehingga para pedagang biasanya tidak menggantung daging tersebut seperti daging yang sehat, karena khawatir ketahuan. “Baunya pun seperti anyir dan warnanya lebih mengkilat. Daging tersebut sebenarnya sangat bahaya bagi kesehatan konsumen. Kalau habis makan daging glonggongan itu bisanya mengalami diare dan bisa berakibat kematian,” tegasnya.
Pihaknya berjanji akan terus memantau daging yang dijual selama bulan Ramadhan ini. Sebab, jika tidak dipantau dengan maksimal, dikhawatirkan pedagang yang nakal mendatangkan daging glonggongan tersebut. Daging glonggongan itu sengaja dibuat oleh oknum pedagang dengan memberikan air sebanyak-banyaknya ke sapi sebelum disembelih. Air yang diberikan itu kadang-kadang air yang tidak sehat dan mengandung penyakit.
“Untuk itu, daging glonggongan itu bisa menimbulkan penyakit bagi yang mengkonsumsinya,” tukasnya. [sul]

Tags: