Pemerintah Kabupaten Probolinggo Siap Kawal Jamaah Umroh

Jamaah Umroh asal Probolinggo terlantar di Madinah.

(Biro Travel Nakal Harus Dilaporkan ke Polisi)
Pemkab Probolinggo, Bhirawa
Dugaan penipuan jamaah umrah yang telantar lantaran ulah biro travel nakal, langsung direspons Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo. Kemenag langsung melaporkan ke Kanwil Jatim terkait adanya puluhan warga Kabupaten Probolinggo yang diduga telantar di Mekkah-Madinah. Bahkan, Kemenag sudah mengecek, kantor domisili PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour yang ternyata diketahui berada di Bekasi. Pemkab siap kawal jamaah umroh.
Kasi Haji dan Umrah Kemenag Kabupaten Probolinggo, Taufiq, Kamis 16/5 mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan informasi itu, Senin 13/5 pagi. Dimana, pihaknya pun sudah melaporkan ke Kanwil Jatim, terkait kondisi itu. namun, pihaknya masih belum dapat berkomentar lebih banyak. “Nanti kami akan cek dan klarifikasi dulu. Sambil menunggu petunjuk dari Kanwil Jatim,” terangnya.
Hasan Aminuddin, anggota DPR RI dari Komisi VIII pun menyikapi serius dugaan penipuan yang dialami warganya. Oleh karena itu, meminta pada Kesbangpol Kabupaten untuk mendampingi keluarga jamaah umrah. Bahkan, direncanakan hari ini, keluarga jamaah umrah akan melapor ke Polresta Probolinggo.
Hasan Aminuddin mengatakan, kondisi ini itu harus menjadi perhatian dan pembelajaran masyarakat luas. Supaya, tidak mudah tergiur dengan tawaran paket umrah murah dan atau sistem janji-janji. “Saya sudah sering ingatkan di tiap pertemuan,” katanya.
Pihaknya akan meminta pada Kesbangpol Kabupaten untuk mendampingi keluarga jamaah umrah . Nanti juga bisa koordinasi dengan Kemenag Kabupaten, selaku pengawas travel umrah dan lainnya. “Kami minta pada Kesbangpol untuk damping keluarga jamaah umrah,” ujarnya.
Badrus Sholeh, putra jamaah umrah yang terlantar mengatakan, rencananya hari ini pihaknya akan melaporkan ke kepolisian. Sambil berharap, ada pertanggung jawaban dari pihak PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour. Yaitu dengan memberikan tiket pemulangan keluarganya dan jamaah umrah lainnya. “Kami masih menunggu sampai besok, siapa tahu besok bisa pulang. Jika tidak, kami akan laporan ke kepolisian,” terangnya.
Lebih lanjut Hasan Menuturkan, sebanyak 32 jamaah umrah asal Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, telantar di Madinah. Mereka kini tertahan di Madinah lantaran biro travel yang memberangkatkan tidak tanggung jawab atas kepulangan para jamaah. Selain itu, mereka pun akhirnya harus menyewa sendiri hotel yang digunakan selama ini.
Puluhan jamaah umroh diduga menjadi korban penipuan travel yang mematok harga murah. Pihak keluarga berniat memperkarakan travel umroh ke kepolisian. Mereka berangkat bersama biro travel umroh PT Shabilla Ebaldo Utama asal Sidoarjo. Biaya yang dikenakan selama 9 hari sebesar Rp 22,5 juta. Dengan membayar DP (Down Payment) antara Rp 6,5 juta – Rp 10 juta, ungkapnya.
Para jamaah tak tahu lewat siapa mereka berangkat. Yang jelas, sudah mereka membayar DP dulu kepada Mursida, warga Gending. Metode pembayarannya berbeda-beda. Sesuai rencana, para jamaah ini diberangkatkan bersamaan. Namun, ternyata jamaah itu, dibagi dalam dua kloter dengan alasan kehabisan tiket. Kloter pertama sebanyak 14 orang berangkat 2 Mei dan direncanakan pulang pada 9 Mei. Sedangkan kloter dua ada 18 orang, berangkat 6 Mei dan pulang pada 12 Mei, paparnya.
“Jamaah sempat ditampung di Sidoarjo selama 14 hari dengan alasan tidak ada tiket. Kemudian adik saya berangkat duluan, ikut kloter pertama. Orang tua saya kloter kedua. Seharusnya, kloter pertama pulang Kamis dan orang tua saya Minggu lalu. Tapi, ternyata adik saya tidak bisa pulang. Bapak-ibu saya juga nggak bisa pulang, bahkan mereka sempat tertidur di luar hotel,” jelas Badrus Sholeh.
Ternyata sesampainya di Madinah, pendamping dari travel, menghilang. Sehingga mereka terlantar, karena tidak mendapatkan hotel. Untungnya saat terlantar itu, ada ada travel dari Medan yang menolong. Mereka kemudian diinapkan di losmen di daerah Misfalah. “Mereka membayar sendiri biaya penginapannya,” ungkap Badrus.
Ketika dirinya menghubungi pihak travel, tidak bisa. Dengan kondisi ini, keluarga korban berniat melapor ke Polres Probolinggo Kota. “Tetapi kami masih menunggu keterangan bapak yang ada di Arab Saudi. Kalau misalkan tidak ada tiket pulang dan menyuruh untuk meluruskan, baru kita langsung laporan,” tambah Badrus.(Wap)

Tags: