Peduli Kesehatan Masyarakat, Komitmen Lestarikan Budaya Bangsa

Ketua Umum Yayasan Harapan Kita (YHK) Hj. Siti Hardiyanti Rukmana Hj Siti Hardiyanti Rukmana saat memberikan keterangan pers di sela-sela perayaan HUT ke-51 Yayasan Harapan Kita di Gedung Granadi Jakarta, Jumat (23/8).

Peringatan 51 Tahun Yayasan Harapan Kita (YHK)
Menjaga dan melayani kesehatan masyarakat akan selalu menjadi komitmen Yayasan Harapan Kita (YHK) sampai kapanpun. Bukan itu saja, yayasan yang didirikan oleh almarhumah Hj. Siti Hartinah Soeharto atau Ibu Tien Soeharto ini juga memiliki komitmen untuk menjaga dan melestarikan budaya bangsa.
Wahyu Kuncoro SN, Harian Bhirawa
“Yayasan Harapan Kita bertekad kuat membela kesehatan rakyat. Sejak awal berdiri, Yayasan Harapan Kita menegaskan bahwa bagi yang ekonominya tidak mampu, meskipun mengalami gangguan jantung, tetap harus diselamatkan dengan mekanisme cross subsidi,” kata Ketua Umum Yayasan Harapan Kita (YHK) Hj. Siti Hardiyanti Rukmana pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-51 Yayasan Hara­pan Kita di Gedung Granadi Jakarta, Jumat (23/8).
Menurut Tutut, dengan modal awal Rp100 ribu pada masa itu, yang disisihkan ibu Tien dan ibu Zaleha Ibnu Sutowo, dari kas rumah tangga, mereka menggerakkan Yayasan Harapan Kita.
“Kini setelah 51 tahun, kita bisa menyaksikan sendiri perkembangan yang terjadi atas dedikasi mereka,” kata Tutut yang kemudian disambut tepuk tangan meriah hadirin yang hadir. Lebih lanjut menurut Tutut, kebanggaan terhadap eksistensi YHK ini bukan hanya karena yayasan ini telah berhasil membangun sekian banyak rumah sakit, seperti, Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dan sebagainya, tetapi juga karena yayasan sukses membangun berbagai sarana kebudayaan, pendidikan seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Perpustakaan Nasional, hingga Taman Anggrek Indonesia Permai.
Tutut selanjutnya juga bercerita soal tujuan istri Presiden RI ke-2 Soeharto itu membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
“Membangun TMII sebagai sarana bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai bangsanya melalui keanekaragaman seni dan budaya, adat istiadat, suku bangsa, agama, dan kekayaan bangsa Indonesia,” kata Tutut lagi.
Menurut Tutut, Tien Soeharto kala itu berpikir, bila masyarakat ingin berkeliling Indonesia untuk mengenal budaya tiap daerah, tak cukup dengan satu hari. Untuk itu, Tien berkeinginan membuat replika taman yang isinya seluruh keanekaragaman seni budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia.
“Walaupun kecil dan sedikit, tetapi sudah bisa membayangkan ‘Oh ini Indonesia,’ seluas apa Indonesia itu. Jadi betapa pentingnya TMII ini bagi bangsa dan negara Indonesia,” terangnya. Tutut kemudian menyampaikan pesan Tien Soeharto agar tiket di TMII tidak mahal. Hal itu bertujuan supaya TMII tetap menjadi tujuan masyarakat untuk berwisata.
“Jangan sampai mahal supaya masyarakat juga mempunyai tempat tujuan untuk wisata, karena wisata yang lain itu kalau tidak salah mahal ya, nah itu belum tentu semua rakyat bisa ke sana,” tambahnya. Tutut mengatakan seluruh pembangunan sarana karya YHK masih bermanfaat hingga kini.
“Saya sangat terpanggil meneruskan cita-cita ibu dan bapak membantu masyarakat yang memang sangat membutuhkan bantuan kita,” tegas Mbak Tutut lagi. Mantan menteri di era Pemerintahan Orde Baru ini mengisahkan, Ibu Tien Soeharto sering mengingatkan anak-anaknya untuk terus berbuat baik bagi masyarakat dan tidak boleh mengharapkan balasan atau imbalan dari mereka, selain amal ibadah dari Tuhan.
“Ibu menyampaikan kalau kamu mau buat sesuatu jangan melihat nilai besarnya, tapi niat kamu pertama kemudian buatlah yang akan kau lakukan itu. Sekecil apapun karena itu bermanfaat untuk negara dan menjadi salah satu bagian dari pembangunan bangsa,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Yayasan Harapan Kita Mohammad Sulaeman menambahkan pendirian YHK didirikan ibu Tien dengan tujuan luhur meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya.
“Ibu Tien mengelola Yayasan Harapan Kita bersama para wanita enerjik pada zamannya yaitu Ibu Siti Zaleha Ibnu Sutowo, Ibu Sri Dewanti Muhono, Ibu Kartini Widya Latief, Ibu Siti Maemunah Alamsjah, Ibu Wastuti Ali Murtopo dan Ibu Soetamtitah Soedjono Humardani,” ujarnya.
“Pak Harto, dengan keyakinan akan kemampuan sang istri, selalu mendukung setiap ide besar Ibu Tien, berikut pelaksanaannya,” tutup Sulaeman.
Dikonfirmasi terpisah, pakar sejarah Universitas Negeri Surabaya Prof Dr Aminudin Kasdi, MSi mengisahkan bahwa untuk membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada masa itu bukanlah hal yang mudah dilakukan.
“Ide mengenai TMII ditentang keras mahasiswa. Mereka mengklaim, tak ada gunanya membangun TMII. Bagi para mahasiswa, proyek TMII hanya akan menggembosi anggaran untuk rakyat,” kata Aminudin Kasdi. Namun gejolak itu mampu diredam oleh pemerintah dengan cara membentuk Panitia Khusus DPR yang berwenang membentuk public hearing untuk mendapat masukan dari berbagai lini. Upaya tersebut berhasil. Pada 7 Januari 1972, Bu Tien bertemu dengan mahasiswa guna menyampaikan gagasannya secara lengkap. Seluruh masukan dan komentar publik yang ia terima lantas dirangkum oleh panitia khusus menjadi memorandum berisi 13 kesimpulan.
“Aksi unjuk rasa berhenti setelah memorandum dikeluarkan. Proyek TMII berjalan lancar,” kata guru besar Unesa yang masih rajin menulis buku ini.
Menurut Aminudin Kasdi, Taman Mini Indonesia Indah bukan satu-satunya tempat yang membangkitkan memori tentang betapa pedulinya Ibu Tien terhadap karakter dan budaya bangsa. Mahakarya lainnya yang akan menjadi tonggak peradaban sebuah bangsa adalah hadirnya perpustakaan nasional.
Seperti Taman Mini Indonesia Indah yang dibangun dan dipersembahkan untuk Indonesia, Ibu Tien juga menjadi penggagas pembangunan Perpustakaan Nasional, dengan harapan dapat membawa manfaat untuk bangsanya.
Menurut mantan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur ini, kondisi perpustakaan saat itu masih jauh dari layak. Atas prakarsa almarhumah Ibu Tien Suharto, melalui Yayasan Harapan Kita yang dipimpinnya lanjut Aminudin, Perpustakaan Nasional memperoleh sumbangan tanah seluas 16,000 m² lebih berikut gedung baru berlantai sembilan dan sebuah bangunan yang direnovasi. Lahan yang terletak di Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat, merupakan lokasi Koning Willem III School (Kawedri), yakni sekolah HBS pertama di Indonesia ketika zaman kolonial.
“Bangunan sekolah inilah yang kemudian setelah direnovasi menjadi gedung utama yang digunakan untuk kantor pimpinan dan sekretariat,” jelas Aminudin Kasdi.
Selanjutnya, Perpustakaan Nasional RI kini menjadi perpustakaan yang berskala nasional dalam arti yang sesungguhnya, yaitu sebuah lembaga yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu, tetapi juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan.
Dari apa yang telah dikerjakan dan bisa disaksikan sampai saat ini jelas Aminudin Kasdi, sungguh terlihat bahwa YHK bukan saja memiliki kepedulian yang tinggi pada tingkat kualitas kehidupan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian spirit keindonesiaan.
“Hadirnya TMII sebenarnya ingin memberi pesan kepada anak cucu bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa. Oleh karena itu, rasa kebersamaan, toleransi harus menjadi karakter bangsa ini,” tegas Aminudin Kasdi lagi. Bukan itu saja, komitmen Yayasan Harapan Kita dalam menghadirkan Perpustakaan Nasional juga mengindikan kalau YHK sangat menyadari betapa pentingnya kehadiran perpustakaan dalam menopang peradaban bangsa.
“Keberadaan perpustakaan sebuah negera sesungguhnya mencerminkan bagaimana tingkat peradaban bangsa tersebut,” kata Aminudin Kasdi mengingatkan.

———- *** ———–

Tags: