“Ora Masalah”, Lagu Usai Laga Pemilu

Oleh :
Eka Sugeng Ariadi

Usai sudah ‘pesta’ demokrasi lima tahun sekali. ‘Pesta’ yang oleh sebagian menjadi berkah, bagi yang sebagian yang lagi menjadi duka. ‘Pesta’ meriah yang pastinya disana-sini membuka tabir kelebihan dan kekurangan. Wajar dan sudah sedari dulu begini keadaannya. “Ora Masalah”. Iya, bagaimana jika lirik lagu ini kita jadikan lagu bersama usai laga pemilu. Bersatu dalam “Ora Masalah”. Sebuah lagu bahasa Jawa yang diciptakan oleh Fauzan Jadi, dipopulerkan oleh grup band Guyon Waton dan Via Vallen.
Secara umum lagu ini bertujuan untuk mengungkapkan isi hari seorang ditinggalkan kekasihnya. Di lirik pertama dan kedua, “Kowe pernah ono ning atiku, Janji ora bakal ninggalke aku”, artinya kamu pernah ada dalam hatiku, berjanji tidak akan meninggalkanku. Keadaan seperti ini sama seperti sebelum hari H pencoblosan, masa kampanye bahkan masa sebelumnya. Semua yang ingin menjadi wakil rakyat berjanji, semua bercitra, semua berlomba merebut hati suci rakyat. Rakyat pun mencatat, mengingat dan terpikat. Suara rakyat sekarang sudah diberikan pada wakil-wakilnya yang telah berjanji kemarin. Hati-hati rakyat sudah diluruhkan untuk seseorang yang mereka percaya mampu mengemban amanat dan mampu memegang janjinya. Rakyat sudah percaya pada janji-janjimu.
Lirik ketiga dan keempat langsung tancap gas. Mungkin terlalu sering dibohongi atau orang zaman sekarang susah dipercaya, lirik ini menohok lirik sebelumnya, “Saiki kowe lungo mblenjani janjimu, Ninggalne loro ning njero dodo”, artinya sekarang kamu pergi mengingkari janjimu, meninggalkan sakit di dalam hati. Tak ingin berlama-lama dalam retorika keindahan, kemesraan dan nostalgia bermesraan, pencipta lagu seakan mengingatkan betapa penting dan gentingnya sebuah janji, apalagi janji yang diingkari. Wakil-wakil rakyat yang akan/telah terpilih tentu akan pergi ke medan juang mereka. Saat kampanye medan juang mereka adalah menyatu dan membaur bersama rakyat di gubuk-gubuk sederhana. Setelah terpilih, medan laga berpindah ke kantor-kantor atau gedung-gedung mewah. Awas, terlena. Hati-hati dengan janji. Mengingkari janji sudah pasti meninggalkan sakit di hati, parahnya bukan hanya satu hati yang sakit, bisa ratusan-ribuan-jutaan hati, tergantung warna kartu suaranya. Harapan rakyat pastinya adalah pergilah bersama janji, berjuanglah di medan yang sudah menanti, asal jangan ingkar.
Lalu apa yang harus dilakukan rakyat bila memang terjadi ingkar janji dilakukan oleh wakil-wakilnya? Pencipta lirik berkata, “ora masalah,” artinya (anggap saja) tidak masalah. Saya kira inilah prinsip sederhana dalam menjalani kehidupan ini. Mau apa lagi jika sedari awal pertemuan semua sudah sepakat dengan janji, setuju dengan pencitraan yang digambarkan. Rakyat sudah berikhtiar datang ke TPS, mencoblos dan memasrahkan pilihan kepada Tuhan. Jika memang hasilnya nanti dicurangi, ya sudah tidak masalah. Usaha sudah dilakukan, perkaran hasil urusan lain. Banyak pepatah bijak menjadi pegangan semua orang. Misal: siapa yang menanam dia akan memanen, artinya seseorang akan mendapat apa-apa yang diinginkan. Ingin kebaikan, dapatlah ia kebaikan, berlaku sebaliknya. Dalam pepatah bahasa Jawa ada, “Becik ketitik, olo ketara,” artinya berbuat kebaikan akan kelihatan (dan mendapat balasan), berbuat keburukan pun ketahuan (serta mendapat balasan pula). Dalam Al Qur’an surat Al Israa’ ayat 7, ribuan tahun lalu sudah tertulis, “in ahsantum ahsantum li-anfusikum wa-in asa/tum falahaa”, artinya jika kamu berbuat baik maka kebaikan untuk dirimu sendiri, jika kamu berbuat jahat maka kejahatan untuk dirimu sendiri. Jadi, sekali lagi, “ora masalah”.
Tak hanya itu nasehat pencipta lagu meski, “Lambemu sing lamis, gawe atiku keiris,” (lirik kelima) artinya bibirmu yang ingkar janji, membuat hatiku teriris. Pembaca diajak untuk tegar dan pasrah pada suratan takdir Tuhan. Sebagaimana di lirik keenam, “Ra bakal aku nangis, mergo kuwi wis digaris, ” artinya (aku) tidak akan menangis, karena semua itu sudah digariskan (ditakdirkan). Nasehat untuk tidak menangis wujud ketegaran dalam menerima apapun hasil pemilu. Nasehat punya kesadaran dalam mengembalikan semua yang terjadi hanya pada yang ‘Menggariskan’ merupakan bentuk tawakkal (pasrah segala yang terjadi setelah ikhtiar yang dilakukan). Inilah esensi dari menjani kehidupan agar senantiasa dalam ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan. Termasuk juga dalam menyikapi hasil akhir pemilu.
Pada paragraf akhir lirik ini, pencipta lagi-lagi mengingatkan dengan tegas agar menyikapi fenomena kehidupan dengan hati yang damai. “Urip rasah spaneng, raono kowe aku ayem”, artinya hidup tidak perlu tegang, tidak ada kamu aku senang. Jadi, ada atau tidak ada wakil-wakil rakyat yang peduli dan pegang janji, kita jalani hidup dengan santai dan damai. Ada yang masih ingat dengan janji dan amanah memenuhi janjinya itu, kita bersyukur. Jika lupa dan tidak amanah, ya sudah, kita lupakan saja. “Ketimbang nggawe atiku ajur”, artinya daripada membuat hatiku hancur.
Tulisan sederhana ini merefleksikan pesan utama dari dua hajatan besar negeri ini (Pemilu dan Hardiknas) yang dikaitkan dengan karya sastra berupa lirik lagu berbahasa Jawa. Mari kita nikmati slogan Hardiknas tahun ini sebaik-baiknya “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Pertanyaan dari slogan ini tentunya bagaimana menguatkan pendidikan sekaligus memajukan kebudayaan? Pastinya adalah dengan meningkatkan tingkat literasi semua warga bangsa ini. Dalam Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah telah disebutkan ada 6 macam literasi yang saat ini terus digaungkan. Salah satunya adalah literasi budaya dan kewargaan, dimana tulisan ini menjadi salah satu contohnya. Mengenalkan karya sastra budaya bahasa Jawa dikaitkan dengan fenomena politik dan sosial yang saat ini menghangat dalam kehidupan seluruh warga negeri ini. Selamat berliterasi.

———– *** ————

Tags: