Nasib Semu “Kurikulum Oplosan”

Aulia RahmaOleh:
Aulia Rahma
Pegiat di Monash School of Politic and Leadership dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Kabar simpang siur mengenai penerapan Kurikulum 2013 sudah ada sejak dua tahun terakhir. Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikud), Kurikulum 2013 merupakan perbaikan dari kurikulum sebelumnya, yaitu Kurikulum 2006 (KTSP). Kurikulum 2013 banyak sekali mengandung poin-poin yang dapat menciptakan pelajar kritis, aktif, dan kreatif dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. Kemendikbud telah menetapkan bahwa Kurikulum 2013 akan menjadikan pelajar mampu berkualitas intelektual dan berdaya saing tinggi. Tidak sedikit pula beberapa sekolah di Indonesia telah menerapkan Kurikulum 2013.
Dengan adanya kurikulum baru ini sangat diharapkan oleh masyarakat Indonesia untuk menjadikan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Namun, setelah berjalan beberapa bulan ternyata dirasakan ada keganjalan. Setelah melalui berbagai perdebatan mengenai hal ini, Anis Baswedan selaku Menteri Pendidikan menetapkan tiga poin utama atas kejelasan Kurikulum 2013. Pertama, menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah menjalankan kurikulum ini selama tiga semester. Kedua, memberhentikan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru satu semester menerapkan kurikulum ini. Dengan arti lain harus menerapkan kembali kurikulum KTSP. Ketiga, mengembalikan tugas pengembangan Kurikulum 2013 kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Memang sangat disayangkan jika kurikulum yang berharga “mahal” dan terlahir premature akan bernasib yang malang pula. Dalam info mengenai penundaan Kurikulum 2013 sebagian dari masyarakat menolak dengan penundaan ini, hal ini beralasan karena konsep yang ditawarkan Kurilukum 2013 sudah setengah berhasil dijalankan. Alasan utama karena kurang matang segala persiapan dan terkesan memaksakan bagi anak didik. Ditambah lagi keterbatasan buku pembelajaran dan banyaknya tugas admnistrasi di luar jam kerja guru. Namun, sebagian lagi menyambutnya dengan tangan terbuka. Karena menilai Kurikulum 2013 masih banyak aspek yang memerlukan penyempurnaan.
Seperti minimnya instrumen baku guna memfasilitasi semua kerja guru agar tercipta pembelajaran yang efektif, yaitu sesuai Kurikulum 2013. Tidak sedikit guru yang dibuat sulit untuk mengisi rapot hasil belajar siswa, bahkan kesulitan tersebut juga akan melibatkan orang tua untuk memahami model rapot yang baru.
Dari opsi yang ditawarkan oleh Anis Baswedan tersebut akan berujung pada sistem pendidikan yang diskriminasi. Jika memilih opsi kembali pada Kurikulum KTSP, maka akan berdampak suatu kemunduran yang dinilai akan menimbulkan efek domino pendidikan.
Dari Kurikulum 2013 yang masih berumur jagung akan mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah, karena dinilai akan menjadi acuan pendidikan sekolah-sekolah lain. Sedangkan yang kembali menerapkan Kurikulum KTSP hanya akan mendapatkan perhatian pemerintah setengah-setengah. Hal ini akan berakibat ketidaksetaraan pemerintah dalam menuntaskan masalah kurikulum. Bukan saja akan dirasakan oleh para guru melainkan juga para siswa.
Adanya dua kurikulum yang diterapkan di pendidikan Indonesia, menjadikan kedilemaan setiap sekolah untuk menggunakan kurikulum yang berbeda. Nantinya, akan ada sekolah-sekolah yang merasa unggul daripada yang lain. Sementara sekolah yang lain merasa tidak mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum 2013. Jika menggunakan sistem ini, perbedaan dan tingkat kualitas antara sekolah pinggiran dan sekolah gedongan semakin terlihat. Sekolah pinggiran akan semakin tertinggal sementara sekolah gedongan akan semakin berprestasi. Padahal, pemerintah seharusnya melakukan pemantauan yang sama terhadap siswa-siswi tanpa membedakan tempat mereka belajar.
Karena sejatinya, siswa dengan segala potensi dan kemampuan yang ada adalah aset berharga bangsa. Sebagai penerus bangsa yang berintelektual, tentu semua berkeinginan siswa dapat menduduki kondisi ideal untuk menentukan pembangunan cita-cita bangsa yang lebih maju. Disisi lain, penerapan dua kurikulum akan berdampak positif karena akan memotivasi sekolah yang menerapkan Kurikulum KTSP untuk menerapkan Kurikulum 2013 yang berhasil mecetak pelajar yang kritis, aktif, dan kreatif.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa “kurikulum oplosan” ini telah “memabukkan” dan memaksakan guru mengubah pola dan model pembelajaran. Namun, dampak ini akan berhasil apabila ada kesadaran dari para guru untuk memperbaiki dunia pendidikan Indonesia lebih baik.
Tanpa kesadaran yang dimulai dari para guru tidak akan terjadi perubahan-perubahan pada sekolah tertinggal. Oleh karena itu, walaupun setiap ganti menteri ganti kebijakan namun dengan adanya sikap profesionalitas dan dukungan positif terhadap pemerintah, menunjukkan bahwa guru mempunyai intregitas dan komitmen tinggi dalam mencerdaskan anak bangsa.
Seperti semboyan Ki Hadjar Dewantara “Ing ngarsa sung tuladha”, bahwa guru sangat menentukan arah keberhasilan anak bangsa. Karena guru berada didepan dan menjadi pengemudi kemana arah pendidikan bangsa Indonesia akan dijalankan. Dan yang perlu diperbarui yaitu paradigma masyarakat Indonesia untuk berfikir positif, dan turut andil dalam mendukukng kebijakan guru dan pemerintah.

                                           ———————– *** ———————–

Rate this article!
Tags: