Mulok SMP PGRI 1 Buduran Sidoarjo

Para siswa telah menyiapkan menu masakan rawon lengkap yang siap dinilai juri.

Membuat Siswa Mahir Dalam Berkarya
Sidoarjo, Bhirawa
Keberadaan lingkungan sekolah SMP PGRI 1 Buduran, Sidoarjo yang sehari-harinya terlihat sepi dan tenang, karena para siswanya sedang mengikuti jam pelajaran di kelas masing-masing. Namun kali ini sungguh berbeda, semua guru dan siswanya terlihat sangat sibuk melaksanakan ujian pengembangan Mulok (Muatan Lokal).
Dalam praktiknya yang diperuntukan pengambilan nilai ini, para siswa-siswi ada yang sedang menari, Tari Topeng Bapang), memasak beberapa menu/tata boga, menata menu dari hasil memasaknya, juga ada lagi yang main drama tradisional dengan ucapan bahasa Inggris, serta mereka ada yang membuat karya seni yang dipamerkan.
Erika Fatmawati siswi kelas 9 ini mengaku senang menekuni tari. Apalagi ‘Tari Topeng Bapang’ yang gerakannya sangat menantang, gerakannya kasar dan keras. Tari-tarian putri yang biasa harus ditampilkan dengan halus dan lembut, namun dalam ujian kali ini saya senang dengan Tari Topeng Bapang. “Saya senang sekali dengan tarian, bila sudah mahir bisa tampil di hadapan Bupati dan para pejabat Sidoarjo, tampil di TVRI bahkan sampai tampil di luar negeri,” ungkap Erika Fatmawati yang dibenarkan Ratri Vitaloka sesama penari kelas 9 ini.
Hal berbeda diungkapkan Dwi Ayu Ambarwati dan Adam Bagus Rizki siswa kelal 9 yang lagi ujian pratek Mulok tataboga, yakni memasak ayam panggang, karena senang mendapatkan ilmu memasak dan pengalaman dalam meracik menu-menunya. Ketika memasak sangat senang sekali, apalagi waktu masakanannya, disajikan dan dicicipi oleh dewan juri. “Kalau rasanya enak rasanya, wah bangga sekali, senang dan lega. Tetapi kalau rasanya tidak enak, waduh kecewa dan harus mengulang lagi,” jelas Dwi Ayu Ambarwati.
Sementara itu, guru pembimbing tataboga Dra Lilik Tri Utami mengaku kalau anak-anak ini sudah banyak yang mahir memasak dan membuat minuman es sinom. Bukan hanya itu, mereka juga bisa melakukan sebagai marketingnya. Misalnya, membuat es sinum itu, dengan modal Rp 145 ribu, bisa menghasilkan 45 botol es sinom yang siap jual Rp 5 ribu per botolnya. “Berarti dari 45 botol x Rp 5 ribu = Rp 225 ribu, dan itu anak-anak jual sendiri ke teman-teman kelas, kadang ke beberapa instansi di sekitarnya,” jelas Lilik Tri Utami.
Begitu juga dalam Mulok karya seni yang ujian prakteknya memakai pameran, anak-anak membuat sendiri mulai dari susunan kepanitiaan, menata ruangan sampai pameran, dan karya yang dipamerkan adalah karya anak-anak sendiri. Diantaranya, kerajinan tangan dan seni rupa, melukis, ada juga grafiti sama motif batik, serta karya-karya tiga dimensi. “Semua itu sesuai dengan idenya anak-anak sendiri. Bentuknya dan bahan-bahanya semuanya disesuaikan oleh anak-anak sendiri,” kata jelas Dra. Luluk Koerniati selaku pembimbing Mulok Karya Seni. Lanjutnya, bukan itu saja, dekorasinya juga anak-anak sendiri.
“Jadi nantinya yang diharapkan, bila di SMA tidak ada muatan karya seni. Paling tidak kalau mereka mau mengadakan pementasan atau pameran, minimal sudah dapat pengalaman di sini. Dengan pamereran ini dia bisa menyelenggarakan pameran sendiri, dengan dipanitiai sendiri,” harap Luluk Koerniati.

Walaupun Lulusan SMP, Sudah Bisa Berkarya
Pengembangan mulok ternyata manfaatnya sangat besar sekali. Karena para siswa, walaupun baru lulusan SMP tetapi sudah bisa berkarya dengan bagus. Pola yang diterapkan oleh SMP PGRI Buduran Sidoarjo ini adalah, dalam memilih salah satu Mulok, siswa tidak boleh pindah-pindah.
“Jika berpindah-pindah, mereka tidak akan bisa berkarya, mereka tidak akan bisa sampai mahir,” jelas Kepala SMP PGRI 1 Buduran Sidoarjo Indrajayanti Ratnaningsih.(21/3).
Misalnya, ada siswi memilih Mulok seni tari, mulai kelas 7 hingga kelas 9 harus tetap konsisten di seni tari. Tidak boleh kelas 7 memilih seni, kelas 8 pindah tataboga dan kelas 9 memilih busana.
“Kalau itu yang terjadi, maka anak-anak tidak akan bisa mahir dalam berkarya. Jika konsisten mulai kelas 7 hingga kelas 9, pasti mereka bisa mahir dalam berkarya,” katanya.
Jadi, selain pelajaran akademik, salah satu hal yang penting harus dikembangkan di sekolah adalah Mulok. “Karena Mulok merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang diatur dalam Permendikbud Nomer 79 tahun 2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013,” pungkas Indrajayanti Ratnaningsih. [ach]

Rate this article!
Tags: