Meruwat Angkutan Laut

Duka dan keprihatinan mendalam menyelimuti perairan Sumenep (Madura). Kapal motor (KM) Arim Jaya, karam, sebelum tiba di pelabuhan rakyat di sisi Sumenep daratan. Sebanyak 19 korban telah ditemukan. Menambah panjang deret korban jiwa dalam angkutan laut dan penyeberangan. Nyata-nyata sangat diperlukan perbaikan moda transportasi laut. Karena selama dua tahun terakhir terjadi tren peningkatan penumpang. Namun sekaligus meningkatnya musibah di perairan.
Indonesia negara kepulauan. Maka angkutan perairan, niscaya menjadi moda paling potensial dan vital. Sejak lama pula dikisahkan sangat banyak legenda dan epik yang sering dituturkan (dan lagu-lagu) bertema “nenek-moyangku seorang pelaut.” Ironisnya, serentetan musibah seolah-olah menunjukkan ke-lemah-an kinerja insan bahari. Tahun (2018) lalu, hanya dalam sebulan, terjadi kecelakaan dengan ratusan korban jiwa.
Ke-bahari-an yang meredup, menyebabkan surutnya kecintaan (dan perhatian) terhadap moda transportasi perairan. Pelabuhan, dermaga, dan kapal, tidak diurus secara baik. Sampai mitigasi kelautan sering diabaikan. Padahal omzet transportasi laut yang diurus oleh Pelindo (Pelabuhan Indonesia) I sampai IV, masih menghasilkan ratusan trilyun rupiah. Juga masih menjadi moda transportasi utama ekspor dan impor seluruh komoditas. Serta angkutan barang antar-pulau (interinsuler).
Ratusan trilyun rupiah lainnya, diupayakan oleh masyarakat (dan kelompok) berupa nafkah nelayan dengan perahu dan kapal ikan. Tetapi sarana dan prasarana kelautan belum terbangun memadai. Terutama merespons kebutuhan pelabuhan rakyat, dan pelabuhan perintis. Karena berbagai perekonimian kreatif telah tumbuh pesat.
UU Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, sesungguhnya juga memberi kewenangan besar kepada daerah (propinsi serta kabuaten dan kota). Terdapat peraturan khusus angkutan perairan daerah tertinggal dan wilayah terpencil, sebagai pelayaran perintis. UU Pelayaran pada pasal 24 ayat (1), dinyatakan, “Angkutan di perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil wajib dilaksanakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah..”
Terdapat frasa kata “wajib.” Begitu pula tentang biaya, secara selaras telah dinyatakan pada pasal yang sama ayat (3). “pelayaran perintis dilaksanakan dengan biaya yang disediakan oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah.” Kewenangan izin usaha angkutan laut juga diberikan kepada daerah (propinsi serta kabupaten dan kota) sesuai porsi wilayah kerja territorial.
Masih terdapat pula “penugasan” oleh UU untuk perusahaan angkutan laut nasional, dengan memperoleh kompensasi dari pemerintah (dan daerah). Kompensasi berasal dari selisih biaya produksi dan tarif. “Penugasan” merupakan bentuk kewajiban pelayanan publik. Tetapi realitanya, bukan pemerintah (pusat) maupun daerah yang membangun pelabuhan perintis. Melainkan masyartakat kampung di pedesaan, berswadaya membangun pelabuhan “tikus.”
Dermaga pelabuhan “tikus” niscaya tidak memadai, dan tidak sesuai dengan kriteria infrastruktur pelabuhan. Juga diluar kendali syahbandar pelabuhan resmi. Sehingga keamanan angkutan makin tidak terjamin. Itu pula yang menyebabkan musibah kapal Arim Jaya, terhempas ombak, lalu tenggelam. Tidak terdapat warning ke-cuaca-an. Berangkat dari pulau Guwa-guwa (bagian dari kecamatan kepulauan Raas), karam di sekitar pulau Gili Iyang.
Kapal kecil berbobot 3 GT (gross tonnage) memiliki kapasitas angkut sebanyak 30 orang, tetapi mengangkut 60 penumang. Namun kelebihan muatan bagai menjadi “kelaziman” di seluruh pelabuhan rakyat dan pelabuhan perintis. Tetapi angkutan laut, bukan tidak bisas dibenahi. Buktinya, ada fasilitasi layanan mudik gratis (lebaran 2019) rute Madura, masyarakat merasakan kenyamanan. Kementerian Kesehatan dan Perhubungan memberi pinjaman kapal dengan layanan “eksekutif.”
Angkutan laut seyogianya memperoleh perhatian skala prioritas, sesuai dengan suasana negeri bahari. Pelabuhan (walau kecil) akan selalu menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi tingkat kerakyatan sampai nasional.

——— 000 ———

Rate this article!
Meruwat Angkutan Laut,5 / 5 ( 1votes )
Tags: