Meningkatkan Konektivitas di Jatim

PriyambodoOleh :
Priyambodo
Peneliti Bidang Manajemen Transportasi Pada Balitbang Provinsi Jawa Timur, alumni Rijks Universiteit Centrum Antwerpen Belgia dan L’Universite de Nantes Perancis.

Dalam kamus Inggris-Indonesia “An English-Indonesia Dictionary” konektivitas berasal dari kata “Connectivity”, yaitu berkaitan dengan keterbukaan atau status koneksi. Artinya menyambung (kan,) atau menghubungkan. Kemudian diadopsi dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya bersifat menghubungkan atau adanya keterhubungan sesuatu dengan sesuatu lainnya. Jadi konektivitas adalah adanya “keterhubungan atau konektivitas”. Konektivitas menjadi penting sebagai kata kunci pembangunan antar wilayah, antar daerah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki beberapa pulau/kepulauan dan wilayah serta daerah yang tersebar diseluruh pelosok Jawa Timur (Trans Media, Edisi 11 Tahun 2011).
Mempertimbangkan berbagai potensi dan keunggulan yang dimiliki serta tantangan yang dihadapi seperti diberlakukannya Asean Economy Community atau masyarakat ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2015 ini, maka Provinsi Jawa Timur memerlukan transformasi ekonomi berupa percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi menuju ke sebuah provinsi atau masyarakat yang maju. Sehingga Provinsi Jawa Timur dapat meningkatkan daya saing sekaligus mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Jawa Timur.
Percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia atau MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama, yaitu : (1) mengembangkan potensi ekonomi wilayah di enam koridor dimana salah satu koridornya adalah koridor ekonomi Jawa yang otomatis didalamnya termasuk Provinsi Jawa Timur; (2) memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected); dan (3) memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi.
RTRWD  Jawa  Timur
Suksesnya pelaksanaan MP3EI di koridor Jawa Timur sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi regional Jawa Timur (intra dan inter wilayah) dengan pasar. Konektivitas di Provinsi Jawa Timur merupakan pengintegrasian 4 (empat) elemen yang terdiri dari Sistem Logistik Nasional (Sislognas), Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah/Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah (RPJMD/RTRWD), dan Teknologi Informasi – Komunikasi.
RTRWD Provinsi  Jawa  Timur  disusun untuk jangka  waktu  20 (dua puluh) tahun. Dimana strategi  penataan  ruang  wilayahnya berisi penjabaran kebijakan penataan ruang ke dalam langkah-langkah pencapaian tindakan yang lebih nyata yang menjadi dasar dalam penyusunan rencana struktur ruang dan rencana pola ruang wilayah provinsi.
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur mencakup  perencanaan  seluruh  wilayah  administrasi Provinsi Jawa Timur, yang meliputi daratan seluas kurang lebih  4.779.975  Ha  terdiri  dari  38  Kabupaten/Kota, wilayah  pesisir  dan  laut  sejauh  12  mil  dari  garis  pantai. Dimana visi  penataan  ruangnya adalah  terwujudnya  ruang wilayah  provinsi  berbasis  agribisnis  dan  jasa  komersial  yang berdaya saing global dalam pembangunan berkelanjutan.
Sementara misi penataan ruangnya adalah mewujudkan : a. keseimbangan  pemerataan  pembangunan  antar wilayah dan pertumbuhan ekonomi; pengembangan  pusat  pertumbuhan  wilayah  dalam meningkatkan daya saing daerah dalam kancah Asia; b. penyediaan  sarana  dan  prasarana wilayah secara berkeadilan dan berhierarki serta bernilai tambah tinggi; c. pemantapan  fungsi  lindung  dan  kelestarian  sumber  daya alam dan buatan; d. optimasi  fungsi  budi  daya  kawasan dalam meningkatkan kemandirian masyarakat dalam persaingan global; e. keterpaduan program  pembangunan berbasis agribisnis dan jasa komersial yang didukung seluruh  pemangku kepentingan; dan f. kemudahan  bagi  pengembangan  investasi  daerah  serta peningkatan kerja sama regional.
Kebijakan Pengembangan
Penataan Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah provinsi yang berdaya saing tinggi dan  berkelanjutan  melalui pengembangan  sistem  agropolitan dan sistem metropolitan. Dimana kebijakan dan  strateginya meliputi pengembangan: a. wilayah; b. struktur ruang; c. pola ruang; dan d. kawasan strategis.
Kebijakan  pengembangan wilayahnya  meliputi : a. pemantapan  sistem  perkotaan  sebagai  kawasan metropolitan di Jawa Timur; dan b. peningkatan keterkaitan  kantong-kantong  produksi utama di Jawa Timur dengan  pusat  pengolahan  dan pemasaran sebagai inti pengembangan sistem agropolitan. Strategi untuk  memantapkan  sistem  perkotaan  meliputi : a. pengembangan  ekonomi  wilayah  berbasis  strategi pemasaran kota; b. pemantapan  fungsi-fungsi  perdagangan  jasa  berskala nasional dan internasional; c. pengembangan  infrastruktur  transportasi  dan telekomunikasi skala internasional; d. peningkatan  kemudahan  investasi  untuk pembangunan infrastruktur metropolitan; e. peningkatan  aksesibilitas  barang,  jasa,  dan  informasi antara  kawasan  metropolitan  dan  perkotaan  lainnya; dan f. pengembangan kawasan metropolitan berbasis ekologi.
Strategi  untuk  meningkatkan  keterkaitan  kantong-kantong  produksi  utama di Jawa Timur dengan pusat pengolahan dan pemasaran  sebagai  inti  pengembangan sistem  agropolitan meliputi: a. pemantapan sentra-sentra produksi pertanian unggulan  sebagai penunjang agrobisnis dan agroindustri; b. pengembangan sarana dan  prasarana  produksi pertanian ke pusat-pusat pemasaran hingga ke  pasar internasional; c. pemantapan suprastruktur pengembangan pertanian yang  terdiri  atas  lembaga  tani  dan  lembaga  keuangan; dan d.  pengembangan  pertanian  dan  kawasan  perdesaan berbasis eco-region.
Peran Balitbang
Sebagaimana diketahui, bahwa konektivitas di Jawa Timur merupakan bagian dari konektivitas nasional, dan konektivitas nasional merupakan bagian dari konektivitas global. Oleh sebab itu perwujudan penguatan konektivitas di Jawa Timur perlu mempertimbangkan keterhubungan Provinsi Jawa Timur dengan pusat-pusat perekonomian lokal, regional, nasional, dan dunia (global) dalam rangka meningkatkan daya saing regional. Hal ini sangat penting dilakukan guna memaksimalkan keuntungan dari keterhubungan lokal, regional, dan global.
Konektivitas regional (Provinsi Jawa Timur) menyangkut kapasitas dan kapabilitas dalam mengelola mobilitas yang menyangkut unsur-unsur sebagai berikut : a. personel/penumpang yang menyangkut pengelolaan lalu lintas manusia di, dari dan ke wilayah; b. material/barang yang menyangkut mobilitas komoditi industri dan hasil industri; dan c. material/barang yang menyangkut lalu lintas mahluk hidup diluar manusia seperti ternak.
Sementara koridor ekonomi Jawa Timur menurut MP3EI kegiatan ekonomi utamanya adalah : makanan minuman, tekstil, peralatan transportasi, perkapalan, telematika, dan alutsista.
Untuk kegiatan ekonomi tekstil yang perlu mendapat perhatian konektivitasnya  adalah peningkatan konektivitas melalui dukungan pelayanan insfrastruktur berupa peningkatan efisiensi waktu angkut (waktu turnaround kapal) melalui pelabuhan-pelabuhan seperti pelabuhan Tanjung Perak. Dan penurunan biaya angkut (Therminal Handling Charge) agar lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Philipina, dan Thailand.
Untuk kegiatan ekonomi perkapalan yang perlu mendapat perhatian konektivitasnya adalah peningkatan konektivitas melalui dukungan pelayanan insfrastruktur berupa pembangunan dermaga, fasilitas break water, jalur akses utama, dan jalur akses terminal pada pelabuhan-pelabuhan untuk kegiatan industri perkapalan. Jadi atas dasar uraian di atas maka peran Balitbang Provinsi Jawa Timur dalam kegiatan “Penelitian Peningkatan Konektivitas Moda Transportasi Dalam Rangka Meningkatkan Investasi dan Pelaksanaan MEA di Jawa Timur” yang dilaksanakan pada tahun 2015 ini menjadi sangat penting dan bernilai strategis.

                                                                                                   ——————– *** ——————

Rate this article!
Tags: