Menikmati Seni Karawitan Uyon-uyon Disbudpar Jatim

Seni karawitan uyon-uyon ini yang diselenggarakan di Disbudpar Jatim ini tidak hanya memainkan gending Jawa saja, namun juga diisi dengan dialog dengan seniman dan budayawan.

Lestarikan Seni Budaya, Uyon-uyon Terbagi Empat Materi Sajian
Pemprov Jatim, Bhirawa
Seni karawitan uyon-uyon adalah salah satu dari sekian banyak kesenian luhur yang berasal dari pulau Jawa khususnya sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berbagai unsur hadir di dalam seni karawitan uyon-uyon.
Perpaduan harmonis dari gamelan dan merdunya suara sinden menyatu membentuk alunan indah. Biasanya kesenian satu ini ditampilkan dalam acara-besar jawa seperti pernikahan dan bersih desa. Namun, uyon uyon itu ditampilkan di Graha Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, di Surabaya.
Beberapa komunitas/kelompok seni, juga generasi muda yang datang bersilaturahmi turut larut mendengarkan uyon-uyon tersebut sembari ngobrol disertai minum teh atau kopi dan cemilan berupa polo pendem.
Misalkan saja Kadri dari Pacitan turut menikmati acara uyon-uyon tersebut. Menurutnya, uyon-uyon seperti itu harus tetap ada dan dilestarikan. “Saya sejak kecil sudah menyenangi uyon-uyon, dan kini anak saya juga mulai suka dengan apa yang saya sukai. Waktu lalu juga saya belikan kendang agar bisa menjadi bagian dari karawitan jawa tersebut,” ujarnya.
Begitupula dengan Meimura dari Komunitas Ludruk Irama Sinar Nusantara menyampaikan, kalau kegiatan yang diselenggarakan Disbudpar tersebut menarik. “Kini uyon-uyon memang sudah harus dikembangkan ke masyarakat umum atau didekatkan juga ke habitatnya,” katanya.
Menurutnya, uyon-uyon yang ada di Disbudpar Jatim tersebut memang bisa dijadikan sebagai ajang silaturahmi. “Disini bisa saling sapa antara satu dengan lainnya, dengan mendengarkan gending karawitan yang membuat hati menjadi adem,” ujarnya.
Warga Rewwin Sidoarjo yang juga Ketua Waluyo Budoyo Seni Budaya, Riyanto mengakui, dirinya sering mendengarkan seni karawitan uyon-uyon di Disbudpar Jatim. Dengan mendengarkan uyon-uyon, maka ia merasa bisa cepat menguasai gending karawitan dalam komunitas karawitannya. Ia juga berharap agar seni Jawa ini tidak punah.
“Memang Disbudpar Jatim memang harus paling depan, dan uyon uyon harus tetap ada dengan mengundang seniman – seniman dan budayawan,” katanya.
Dalam kesempatan ini, Kepala Disbudpar Jatim, Sinarto SKar MM menyampaikan, kalau uyon-uyon ini memang kegiatan rutin yang telah berlangsung lama di Disbudpar Jatim. Biasanya dilakukan setiap bulan sekali, pada Malam Jumat Legi, namun kini juga bisa dilakukan di Malam Selasa Kliwon.
“Di Jatim, produk gending dari pujangga dulu menjadi luar biasa, tidak hanya sekedar nada namun mengekspresikan ketenangan, kesukaan, cinta kasih sesama, kemarahan, dan lainnya. “Gending sebagai alat ekspresi dari perasaan seseorang atau komunitas kebangsaan,” ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti komunitas seni budaya, namun generasi muda/milenial bisa turut datang menikmati sajian tersebut. Baik penikmat, pelaku seni, dan pemerhati seni, semuanya juga bisa bertukar pengalaman maupun bekerjasama dalam kegiatan ini. “Terbuka untuk umum. Silahkan saja datang dan menikmati uyon-uyon,” ujarnya.
Dikatakannya, kegiatan uyon-uyon ini sebagai upaya pemberdayaan pada peningkatan nilai budaya dan kualitas dan penyajian seni musik karawitan. Selain itu terselenggaranya uyon -uyon ini untuk menggali kembali gending karawitan yang hampir punah kembali terangkat, dikembangkan, dimanfaatkan, dikenalkan pada masyarakat dan generasi muda,.
Uyon-uyon tersebut juga meningkatkan daya apresiasi masyarakat melalui penyajian dan dialog seni, sehingga keberadaan seni tersebut memiliki suatu pesan moral dan spiritual yang relevan untuk membentuk dan membangun karakter bangsa, genersia muda khususnya.
Sinarto juga menyampaikan tahun ini ada 10 komunitas/kelompok seni dihadirkan, diantaranya Kota Surabaya, Kabupaten Blitar, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Jombang, Kabupaten Tuban, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Gresik . Mengawali pada bulan Februari ini, dari Kota Surabaya (RRI, red). “Mereka ini orang profesional,” katanya.
Untuk materi yang disajikan dalam uyon-uyon dalam tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Dalam penyajiannya terdapat empat materi sajian. Sajian pertama yaitu pelestarian, yang menyajikan gending pakem atau gending klasik/tradisional ataupun gending gending yang dirasa hampir punah sebagai usaha aktualisasi pelestarian nilai dan revitalisasi.
“Gending Jawa Timur, seperti Gondokusumo, Cokrononegoro, dan gending lainnya. Penampil menampilkan dengan sangat hati hati. Dalam gending menampilkan vokabuler permainan setiap instrumen yang harus ditampilkan dengan baik,” ujarnya.
Sajian kedua yaitu pengembangan, yang menyajikan gending gending yang merupakan pengambangan dari gending yang sudah ada sebagai pijakan pengembangan. “Gending yang diberikan garapan baru namun memanfaatkan gending yang sudah ada. Biasanya tidak ada irama lancarnya, namun diberikan. Juga jika tidak ada irama soran, dikasih irama itu. Satu gending dimainkan sedemikian rupa menjadi harmoni dan dinamis,” katanya.
Sajian ketiga yaitu pemanfaatan, menyajikan garap gending yang digunakan berbagai bentuk keperluan penyajian seni (sebagai identitas daerah, sebagai irinigan tari, atau juga bisa sebagai iringan wayang).
Sajian terakhir yaitu kreativitas, dimana sajian ini sebagai usaha produktivitas yang merupakan karya potensi unggulan komunitas atau kelompok uyon uyon sebagai penyaji. “Jika semua ditampilkan bisa tiga atau empat jam. Palin tidak mulai pukul 20.00 Wib hingga 23,00 Wib. Rencananya ada gending karya baru, dan yang terbaik akan diberikan hadiah,” ujar Sinarto.
Dikatakannya, seni karawitan uyon uyon ini diperkenalkan kembali pada masyarakat karena ada kearifan lokal yang harus dikenal. Nantinya, kegiatan uyon uyon juga akan ditayangkan melalui media sosial dan menyampaikan pesan baik dari pikiran seniman dan kemudian dikomunikasikan pada masyarakat kalau Jatim miliki seni yang hebat dan budaya yang bagus.
Sinarto mengharapkan, generasi muda/generasi milenial kembali mengingat kalau Jatim memiliki kesenian yang dibanggakan, sebab selain hiburan juga dalam uyon-uyon juga ada edukasi melalui syair syair yang ditembangkan. Syair Jawa seperti ini yang ditembangkan memiliki nilai moral, nilai lingkungan/alam, nilai kepemimpinan, hingga nilai religius. [Rachmat Caesar]

Tags: