Mengunjungi Situs Bersejarah di Panarukan, Situbondo

Sejumlah pegiat sejarah Situbondo saat mengunjungi salah satu situs kuno yang ada di Desa Duwet, Kecamatan Panarukan. [sawawi]

Ditemukan Sumber Mata Air dan Ada Gundukan Berisi Benda-benda Kuno
Kab Situbondo, Bhirawa
Kabupaten Situbondo sebagai salah satu daerah pantura di Provinsi Jatim banyak menyisakan cerita unik dan sejarah kuno. Salah satunya yang sampai saat ini masih tampak adalah situs bersejarah yang ada di Desa Duwet, Kecamatan Panarukan. Disana, oleh para pegiat sejarah ditemukan sumber mata air dan beberapa gundukan berisi benda benda kuno. Temuan ini terus digali oleh para pegiat sejarah kuno yang tersebar di Kota Santri Situbondo untuk ditelaah sekaligus di museumkan.
Saat itu, puluhan aktivis dan pegiat sejarah asli Kota Situbondo berkumpul. Para pegiat yang rata-rata berusia muda itu sepakat untuk berkunjung ke salah satu titik yang ada di Desa Duwet, Kecamatan Panarukan. Konon katanya, dilokasi yang searah dengan tugu 1000 KM Anyer-Panarukan itu, ditemukan sebuah sumber mata air dan gundukan yang berisi benda-benda kuno.
Dilokasi, tepat di Dusun Bugur, Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, ada sebuah perbukitan yang menarik perhatian para pegiat sejarah Situbondo. Di sana salah satu bagiannya bahkan terdapat beberapa gundukan. Di sisi kanan kirinya juga ditemukan struktur batu-bata yang memiliki ukuran jumbo.
Setelah didekati di beberapa titik di Desa Duwet, akhirnya tim menengarai lokasi obyek tersebut diduga cagar budaya. Seperti sebuah gundukan serta mata air. Kini tempat tersebut diyakini memiliki nilai historis dan sejarah kuno. “Disekitarnya, sering ditemukan benda-benda kuno,” ujar Irwan Rakhday, salah satu pegiat sejarah Situbondo.
Kata Irwan, tempat itu belakangan dikenal sebagai nama situs Berdhi. Dia mengatakan, disana masih ada kaitannnya dengan peradaban patukangan, sebuah titik situs bersejarah lainnya yang tidak jauh dari lokasi Desa Duwet. “Dilokasi kemi berhasil menemukan struktur batu bata kuno. Ada kemungkinan dari bangunan lama itu merupakan peradaban patukangan yang berada di Situbondo,” sebutnya.
Abdul Halek, sejawat Irwan Rakhday, yang juga tercatat sebagai pegiat sejarah menilai temuan batu bata kuno berukuran 30 x 15 cm dengan mengelilingi gundukan sebuah gundukan yang berisi benda-benda kuno termasuk cagar budaya. Hal itu, kata Abdul Halek, didasarkan prediksi kemungkinan tersimpannya benda benda kuno yang ada di dalam gundukan tanah. “Argumen dan penilaian saya besar kemunginan benar. Tetapi bagaimana pastinya kami masih menunggu telaah dari tim cagar budaya,” aku pria asal Desa Duwet itu.
Abdul Halek kembali menerangkan, pada beberapa tahun silam sempat marak terjadi pencurian benda-benda kuno oleh orang asing. Maklum saja, sambung Abdul Halek, di sekitar perbukitan Desa Duwet, banyak ditemukan benda benda bersejarah yang diduga masuk dalam catatan cagar budaya. “Sekarang ini sudah banyak yang hilang. Saya sebagai salah satu warga sekaligus pegiat sejarah, sangat prihatin dengan kejadian hilangnya barang barang situs sejarah kuno tersebut,” papar Abdul Halek.
Abdul Halek menambahkan, tidak jauh dari tempat itu, kini juga ditemukan sebuah makam modern. Halek mengaku, salah satu batu nisannya cukup aneh. Tidak seperti nisan kebanyakan yang ada. Seperti nisan lama, perkiraan Abdul Halek sudah berusia ratusan tahun. Tak hanya itu, sambung Abdul Halek, berjarak sekitar seratus meter ke arah timur dari perbukitan tersebut, juga ada lokasi yang selalu mengeluarkan air. “Banyak pegiat sejarah menyebutnya dengan situs mata air. Disana ada air yang muncul dari tengah persawahan. Ada sebuah bongkahan batu bata segi tiga yang menjadi pijakan warga saat mengambil air,” beber Abdul halek.
Abdul Halek mengaku, konon dahulu di mata air tersebut terdapat struktur batu bata yang berukuran jumbo. Disana juga ada pecahan keramik, namun sayang kata Abdul Halek, saat ini sudah tidak tersisa lagi karena hilang. “Dahulu, mata air tersebut sempat dikeramatkan karena sering ada gangguan dari mahluk gaib. Namun sebaliknya saat ini kejadian serupa sudah tidak pernah muncul kembali,” terang Abdul Halek.
Lebih jauh Abdul Halek menegaskan, saat ini kondisinya sudah lebih aman dan debit mata air yang keluar sudah cukup besar. Dengan berubahnya kondisi tersebut kini banyak warga yang mengambil air di sana. Dalam pandangan Halek, kondisi temuan mata air itu sangat tepat jika dimanfaatkan sebagai lokasi destinasi wisata baru di Situbondo. “Nanti wisata itu bisa dikelola oleh pemerintah desa atau pemerintah daerah,” ucap Abdul Halek.
Apalagi, terang Abdul Halek, saat ini Pemkab Situbondo sedang giat-giatnya membangun sektor pariwisata guna mensukseskan program tahun kunjungan wisata 2019. Ditambah lagi dengan banyaknya desa-desa di Situbondo yang sudah memanfaatkan potensi alamnya untuk dikembangkan menjadi wisata andalan baru. “Menurut saya ada baiknya situs mata air ini dijadikan tempat wisata baru di Kota Santri Situbondo,” papar Abdul Halek.
Kemunculan mata air itu dimat Abdul Halek tidak menimbulkan bahaya untuk konsumsi sebagai air layak minum. Itu dibuktikan Abdul Halek yang pernah meminum air yang muncul di tengah persawahan itu. Namun yang unik, selama ini warga desa setempat banyak yang memakainya untuk keperluan mandi saja. “Saya setelah minum air itu, tidak merasakan sakit dibagian perut. Dari pengalaman tersebut air disana sepertinya tidak berbahaya. Artinya bisa dikonsumsi,” pungkasnya. [sawawi]

Tags: