Mengikis Kekerasan Berkedok Agama

jahiliyah-kontemporerJudul Buku  : Jahiliyah Kontemporer dan Hegemoni Nalar Kekerasan
Penulis  : Prof. Dr. Abd A’la, M.Ag.
Penerbit  : LKiS, Yogyakarta
Cetakan I  : 2014
Tebal    : 186 halaman
ISBN    : 602-14913-7-8
Harga    : 60,000/-
Peresensi  : Ahmad Fatoni, Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat
Universitas Muhammadiyah Malang.

Secara normatif, agama didapuk sebagai kehendak ideal Tuhan bagi kedamaian umat manusia. Tidak ada yang menyanggah bahwa agama adalah “kekayaan” paling berharga yang dimiliki umat, khususnya umat Islam. Atas nama Tuhan (agama) umat mempertaruhkan segalanya agar pesan-pesan agama dapat direalisasikan. Tetapi apa lacur, yang terlihat di lapangan ternyata jauh panggang dari api, bahkan ironis. Agama yang semula diharapkan menjadi spirit hidup beragama dan bermasyarakat, justru menjadi sumbu pendek yang kerap membakar emosi umat dan menggerus sendi-sendi kehidupan manusia itu sendiri.
Bukan tanpa sebab kondisi keberagamaan umat tampak memprihatinkan. Ada banyak hal yang membuat praktik keberagamaan menyimpang kian jauh dari ideal normatif agama. Salah satu yang paling kentara adalah adanya klaim kebenaran atas (tafsir) agama oleh kelompok-kelompok kegamaan tertentu. Atas nama klaim tersebut, kelompok-kelompok yang lain diposisikan sebagai sesat dan menyesatkan.
Celakanya, klaim demikian dibarengi oleh tindakan-tindakan anarkis yang merugikan, pemaksaan kehendak, dari yang paling sepele hingga ke yang paling besar seperti perusakan fasilitas publik dan pengusiran warga. Bertolak dari kegelisahan itulah Prof. Dr. Abd A’la dalam buu ini mengajak kita merefleksi kondisi dan keberagamaan kita. Benarkah ada yang salah dalam keberagamaan kita? Lalu apa saja yang mesti kita lakukan untuk merefleksikan keberagamaan kita?
Di sini secara jernih penulis mengulas banyak hal yang masih menjadi pertanyaan besar sekaligus pekerjaan rumah internal umat Islam, dari soal penafsiran atas teks-teks agama, keadaan sosial-ekonomi umat, hingga kompleksitas toleransi antrumat beragama. Persoalan-persoalan inilah yang masih membelenggu umat Islam hingga abai terhadap nilai-nilai lokalitas dan dinamika pergeseran zaman.
Disadari atau tidak, umat Islam dengan institusi kegamaan dan pendidikannya seakan berjalan di tempat; tidak ada kemajuan yang berarti kecuali perubahan-perubahan pragmatik yang tidak berdampak signifikan. Agama kian kehilangan misinya sebagai jalan menuju rahmatan lil ‘alamin. Alih-alih mencerahkan, agama membuat umat semakin angkuh dan keras kepala (hal.7).
Mengingat daya gedor agama begitu dahsyat untuk mendobrak kekuatan maksimal, maka katup pengaman pun, seperti aparat keamanan, sering tidak berfungsi. Terutama tatkala mereka kehilangan akal sehat, dan turut bermain api dalam kemelut bernuansa agama. Dampaknya, kerusakan sebab pertikaian antarkelompok umat beragama akan sangat sulit diselesaikan.
Menurut Abd A’la, kekerasan yang beraroma agama sebenarnya bukan kesalahan ajaran agama itu sendiri, tapi lebih disebabkan human error, yakni sikap sebagian pemeluknya yang terkadang memaknai ajaran teologis-normatif secara serampangan (hal.104). Bisa juga karena kepentingan-politik atau ekonomi-yang terlalu berlebihan sehingga mengalahkan kepentingan agama (hal.144). Atau juga akibat kesalahan sistem negara yang menganggap politik sebagai cara paling ampuh untuk meredam gejolak masyarakat, termasuk dalam urusan agama (hal.8).
Dalam konteks keindonesiaan, jika variabel human error lebih dominan mewarnai konflik sosial keagamaan, maka merajut kehidupan harmoni di negeri ini sama sulitnya dengan menegakkan benang basah. Karena itu butuh kecermatan semua pihak demi menguak akar konflik, mengenali pola konflik yang terjadi, hingga mencari alternatif solusi.
Melalui kajian akademis, buku dari kumpulan karya penulis di berbagai media ini mendedah berbagai peristiwa konflik sosial-agama, sekaligus menawarkan gagasan produktif agar umat Islam mampu keluar dari himpitan gerakan radikalisme dan terorisme yang lahir dari rahim globalisme yang sarat dengan ketidakadilan, kejumudan berpikir hingga politisasi agama.
Guru Besar Bidang Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam tersebut menegaskan, konflik yang mengatasnamakan agama tidak terjadi dalam ruang kosong dan terpisah dari beberapa unsur sosio-politik yang mengitarinya. Guna mencermati berbagai konflik yang ada tidak cukup hanya melihat aktor, lokasi, dan massa yang terlibat. Untuk menganalisa konflik yang memakai topeng agama mestinya turut dipertimbangkan pula faktor-faktor sosial dan politik (hal.45-46).
Bagi sebuah negeri yang memiliki komposisi penduduk heterogen seperti Indonesia, pencarian resolusi konflik merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera dilaksanakan. Salah satu jalan keluar untuk meminimalkan tindakan kekerasan bernuansa agama ialah peranan aktif para pemimpin agama agar menginsafkan pengikutnya, bahwa tidak satu pun agama yang mempromosikan kekerasan terhadap sesama manusia.

                                                                                 ———————— *** ————————

Rate this article!
Tags: