Mengantisipasi Ancaman Resesi Ekonomi

Oleh :
Novi Puji Lestari
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Isu resesi ekonomi saat ini tengah ramai diperbincangkan. Perang dagang antara Cina dan AS yang belum mereda hingga krisis ekonomi yang tengah melanda di beberapa negara menjadi sejumlah faktor yang membuat isu itu kian mencuat. Sejumlah negara mengkhawatirkan resesi ekonomi global. Bahkan, sejumlah negara maju maupun berkembang tengah dihantui ‘setan’ bernama resesi seiring dengan perlambatan ekonomi dunia. Resesi global yang ditandai dengan perlambatan ekonomi di sejumlah negara kini mulai membayangi Indonesia. Adapun penyebab utamanya masih bersumber dari perseteruan dagang antara Cina dan Amerikat Serikat (AS) yang masih tak diketahui ujungnya.
Peluang resesi ekonomi
Membaca peluang resesi ekonomi suatu negara dapat dikalkulasi dari suatu kondisi di mana perekonomian suatu negara berhenti tumbuh, dan berbalik menurun. Negara dianggap mengalami resesi apabila pertumbuhan PDB mereka menurun selama dua kuartal berturut-turut. Melalui riset Bank Dunia bertajuk Global Economic Risks and Implications for Indonesia Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan terus turun di tengah perlambatan ekonomi global. Pasalnya, Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus melemah di tengah perlambatan ekonomi global.
Pertumbuhan PDB Indonesia akan berlanjut menurun akibat lemahnya produktivitas dan pertumbuhan tenaga kerja yang melambat Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tumbuh 2,6% melambat dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni 2,9%. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan mencapai 5% pada 2020. Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 kemungkinan tumbuh 4,9% dan terus melambat menjadi 4,6% pada 2022.
Dalam kajian Bank Dunia yang berjudul Global Risk and Implication for Indonesia, Bank Dunia menyebut perlambatan ekonomi Indonesia disebabkan oleh rendahnya produktivitas dan penurunan pertumbuhan tenaga kerja. Selain itu, perlambatan ekonomi global yang membuat harga komoditas anjlok membuat perekonomian Tanah Air kian tertekan. Selain itu, menurunnya harga komoditas dunia juga akan semakin menekan perekonomian Indonesia. Satu persatu, pertumbuhan ekonomi negara pun bertumbangan.
Langkah antisipasipun perlu dilakukan dengan menetapkan kebijakan moneter guna mengantisipasi dampak resesi, termasuk memangkas suku bunga acuan. Berbicara kemungkinan terjadinya resesi di negeri ini, kiranya negara Jepang dan Inggris menjadi contoh nyata yang sudah mengalami kontraksi ekonomi. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi keduanya mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut.
Belajar pada resesi 2009, misalnya, pertumbuhan ekonomi global turun hingga 6,2% dari tahun 2007, disertai dengan harga komoditas yang jatuh. Saat itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga melambat 1,7%. Perlambatan ekonomi global, ditambah perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang berlanjut, potensi resesi ekonomi AS, juga pelemahan ekonomi Eropa dan China, dipandang Bank Dunia bakal memicu arus keluar modal (capital outflow) yang lebih besar.
Itu artinya, jika dibiarkan besar kemungkinan dapat menyebabkan suku bunga acuan Indonesia kembali meningkat dan rupiah terdepresiasi lebih dalam. Bank Dunia menggambarkan, setiap 1 poin persentase (percentage point) penurunan ekonomi China, berdampak pada penurunan ekonomi Indonesia sebesar 0,3 percentage point.
Dunia terancam resesi akibat pertumbuhan ekonomi yang makin lambat. Bahkan International Monetary Fund (IMF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 ini sebesar 3,2%. Proyeksi IMF itu lebih rendah dibandingkan prediksi periode April 2019 sebesar 3,3%. Kemudian tahun depan ekonomi dunia diprediksi 3,5% lebih rendah dibanding prediksi sebelumnya 3,6%. Lalu, bagaimana dampaknya ke Indonesia?
Melihat ekonomi Indonesia tercatat 5,05 persen pada kuartal-II 2019. Hal itu berarti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia relatif stabil di kisaran 4,9-5,3 persen selama 15 kuartal berturut-turut. Selain itu, indikator ekonomi Indonesia saat ini kondisinya masih aman, mulai dari kondisi pasar modal, finansial, industri, hingga investasi. Bisa dikatakan, masih cukup positif. Jadi dapat penulis simpulkan Indonesia masih cukup aman dari ancaman resesi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih bisa terjaga di kisaran 5% dan ditopang oleh pasar domestik yang cukup kuat.
Jurus antisipasi
Tantangan untuk Indonesia sesungguhnya bukan menghindari resesi, tapi bagaimana memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, yakni menuju jauh lebih dari 5%. Itu artinya, meskipun global mengalami perlambatan namun Indonesia masih bisa memacu ekonomi agar bisa tumbuh lebih tinggi. Karena itu dibutuhkan beberapa langkah untuk menghindari terjadinya resesi ekonomi.
Pertama, pemerintah bisa mengoptimalkan belanja fiskalnya, baik secara langsung untuk berbagai pengeluaran publik maupun secara tidak langsung untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga.
Kedua, dibutuhkan kebijakan belanja yang lebih ekspansif diikuti dengan pelonggaran pajak. Kemudian dari sisi BI diperlukan kebijakan moneter yang lebih longgar atau bahkan lebih ekspansif. Selanjutnya, untuk koordinasi khususnya pemerintah dan BI untuk menstimulus perekonomian dengan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar serta didukung oleh kebijakan sektor riil yang lebih kondusif. Di kebijakan sektor riil, diperlukan berbagai perbaikan regulasi yang benar-benar kondusif bagi investasi.
Ketiga, menghadirkan keseimbangan primer (total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang) pada APBN, yang harus diupayakan berada pada zona positif dengan rasio yang semakin kecil terhadap produk domestik bruto (PDB).
Keempat, manajemen utang negara harus senantiasa dijaga tetap sehat dan berhati-hati. Sesuai dengan kaidah optimalisasi intertemporal budget constraint, hal itu bisa dilakukan dengan menurunkan jumlah penerbitan utang baru yang dilakukan semata untuk menutup pembayaran bunga utang.
Kelima, meningkatkan investasi yang masuk. Setidaknya langkah ini merupakan tercepat yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi resesi ekonomi global. Itu artinya, pemerintah harus sigap menginventarisasi segala regulasi mengenai ekonomi dan investasi yang dirasa menghambat gerak pemerintah dalam upaya meningkatkan laju ekonomi nasional.
Melalui lima jurus antisipasi ancaman resesi ekonomi global yang penulis paparkan tersebut diatas, setidaknya bisa menjadi acuan evalusasi pelaku ekonomi, agar negeri ini bisa terhindar dari ancaman resesi ekonomi, sehingga peluang Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi minus karena ketidakpastian ekonomi global saat ini bisa diredam.
———- *** ———–

Rate this article!
Tags: