Mencari Kebenaran Tanggal Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato

dr Ananto Sidoutomo MARS (budayawan Kota Surabaya), saat memberikan paparan dihadapan peserta dan media Surabaya juga dihadiri Ketua Panitia (Cak Boni), Asisten Direktur Of Promotion and Comunication Hotel Mojopahit, Nurul Rachmasari, Rabu (18/8). [trie diana/bhirawa]

(Mengenang Peristiwa Perobekan Warna Biru Bendera Belanda 74 Tahun Lalu)
Surabaya, Bhirawa
Diskusi Terbuka Lintas Generasi di Flag Terrace Hotel Majapahit, di Jl Tunjungan Surabaya, Rabu (18/9) melibatkan dr Ananto Sidoutomo MARS (budayawan Kota Surabaya), Ketua Panitia (Cak Boni), Asisten Direktur Of Promotion and Comunication Hotel Mojopahit, Nurul Rachmasari. Diskusi mencari kebenaran tentang tanggal peristiwa pasti perobekan warna biru pada Bendera Belanda.
Menurut Rintoko, salah satu staf Litbang Yayasan Jiwa Indah Bangsa, hasil temuan terbaru terkait peristiwa luar biasa peristiwa Pertempuran dan perobekan warna Biru pada Bendera Belanda terjadi pada 19 September 1945.
Berdasarkan data-data otentik yang dimiliki Rintoko. Dari hasil cek – ricek, survei dan wawancara langsung kepada beberapa gilintir pelaku yang tersisa, ahli waris atau anak-anak pelaku langsung peristiwa perobekan bendera merah putih biru di Yamato Hoteru 74 tahun silam.
Rintoko menjelaskan, pada 74 tahun (lebih dua hari) yang lalu yakni pada tanggal 16 September 1945. Sekira pukul 22.30 Waktu Australia. Satuan khusus dipimpin seorang Agent Ereste Klasse berpangkat Overste (sekarang setara dengan Letnan Kolonel Intelejen). Mendapatkan tugas khusus untuk menaklukkan Provinsi Timur Laut Jawa atau Provinsi Surabaya (Keresidenan Soerabaja).
Letkol berkebangsaan Belanda ini bertugas membantu seorang Senior Superintendent (Kolonel Inggris, red.) yang akan mengadakan serangan mendadak di Surabaya. Pasukan yang dibawa berkekuatan 1 Batalion (Cikal-Bakal Garnisun Pertama Sekutu di Jawa Bagian Timur yg bertahan hingga Penyerahan Kedaulatan 1949).
Pasukan ini juga didukung Red Cross. Misi Utama gugus tugas ini adalah membebaskan tahanan bekas tentara Belanda dan serdadu pribumi KNIL yg di penjara balatentara Jepang di kamp konsentrasi (penjara, red.) Surabaya. Kalau tugas pembebasan tawanan ini berhasil maka kekuatan 1 Batalion (jumlahnya antara 300 – 1300 pasukan, red) itu akan berkembang menjadi lima Batalion yang menurut perhitungan mereka dapat menaklukkan 1 Provinsi di Jawa Bagian Timur.
Dibawah Komando Overste Intelegent Belanda inilah terdapat seorang Mayor Belanda yang nantinya berhasil mengusir anggota militer Republik dan pejuang gerilyawan dari pusat kota sampai batas kota sejauh 12 kilometer selama perang 4 Tahun di Surabaya (1945 – 1949). Mayor Belanda ini pandai berdiplomasi dan terbukti berkuasa di Surabaya dengan Jabatan Comandant de NICA van RECCOMBA Soerabaja (1946-1949).
Mayor Belanda ini populer di kalangan bangsawan Surabaya dan pejuang Republik Indonesia. Mayor inilah arsitek langsung yang membunuh banyak pemuda dan pejuang Surabaya dalam Pertempuran Bendera 19 September 1945.
Boni menjelaskan, teatrikal Perobekan warna biru pada bendera Belanda yang dikibarkan diatas menara Hotel Yamato sekarang Hotel Majapahit, yang digelar Kamis (hari ini, red) pagi, melibatkan seniman, budayawan Surabaya dan Veteran yang terlibat pertempuran di Kota Surabaya, rencananya akan dibuka Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.
Sedangkan, diskusi terbuka antar Lintas Generasi digelar malam hari pada pukul 19.30 hingga 21.30 WIB dengan peserta diskusi dr Ananto Sidoutomo, Rintoko, Cak Boni, Citizen Jurnalis Surabaya, Ketua Kelompok Informasi Masyarakat, Media Sosial Influencer. [fen]

Tags: