Menakar Potensi Migas Kabupaten Sidoarjo

Oleh :
Hendra Sukmana
Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu “kota” metropolis penyangga Kota Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur. Sidoarjo memiliki beragam potensi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Wilayah yang memiliki keseluruhan jumlah 18 kecamatan serta 353 kelurahan/desa ini selama ini cukup dikenal dengan sebutan kota udang. Kabupaten Sidoarjo selama ini dikenal sebagai daerah penghasil bandeng dan udang, Karena karakteristik wilayahnya terdiri dari hamparan tambak yang cukup luas. Maka dari itu selain disebut dengan kota udang Kabupaten Sidoarjo juga dikenal sebagai kota delta.
Namun, semenjak tahun 2006 lebih tepatnya setelah terjadinya bencana lumpur sidoarjo. Kabupaten Sidoarjo ibarat sebuah fenomena artis yang naik daun di media cetak, elektronik maupun online. Hampir sebagian besar masyarakat Indonesia tahu Sidoarjo sebagai kota “lumpur”. Diawal-awal terjadinya bencana lumpur Sidoarjo cukup membuat masyarakat mengalami traumatik yang cukup hebat khawatir Sidoarjo akan ditenggelamkan lumpur.
Kondisi saat ini, setelah 13 tahun berlalu bencana yang ditakutkan masyarakat menenggalamkan Sidoarjo tidak terbukti. Bencana lumpur hanya sebagian kecil dari luas wilayah Sidoarjo dan tidak berdampak secara signifikan terhadap perputaran ekonomi di Kabupaten Sidoarjo. Bencana lumpur tidak hanya meninggalkan sebuah petaka atau kerugian. Namun, juga membuat kita semua tahu akan potensi migas yang ada di Kabupaten Sidoarjo.
Potensi kandungan minyak dan gas (migas) di kawasan semburan lumpur dan sekitarnya diprediksi sangat besar. Hal ini dapat dibuktikan semburan lumpur di Kecamatan Porong tersebut selain mengeluarkan lumpur panas semburan juga mengeluarkan gas dari pusat semburan yang berlangsung hingga kini atau lebih dari sepuluh tahun. Penelitian yang dilakukan beberapa lembaga independen, NGO nasional maupun internasional serta Kementerian ESDM juga menunjukkan jika kandungan migas dibeberapa kawasan di Kabupaten Sidoarjo cukup besar dan sangat potensial.
Untuk memperkirakan seberapa besar kandungan migas di bawah pusat semburan lumpur memang harus dilakukan uji seismik. Namun, nampaknya hingga kini belum ada metode yang tepat untuk mengeksplorasi gas dari pusat semburan lumpur itu. Sebab, kawasan sekitar lumpur rentan terjadi penurunan tanah (subsidence).
Meski demikian, diperkirakan kandungan gas disekitar areal lumpur cukup besar. Hal ini bisa dilihat karena besarnya kandungan gas, bermunculan gas liar di areal lumpur dengan radius 1-1,5 kilometer. Menurut beberapa kalangan, kandungan migas di sekitar semburan lumpur diperkirakan lebih besar dibandingkan dengan beberapa kawasan di Sidoarjo yang terdapat cadangan migas. Seperti di kawasan Tanggulangin Field, Wunut Field, kawasan Carat yang berbatasan dengan Mojokerto dan kini juga ditemukan lagi cadangan migas di Kepetingan Field yang berada di pesisir timur Sidoarjo yang merupakan areal pertambakan di Kabupaten Sidoarjo. Cadangan migas di Tanggulangin Field sejauh ini terdeteksi sebesar 7 BSCF (Billion Standard Cubic Feed) dan di Wunut Field terdapat 6 BSCF. Sedangkan untuk Kepetingan Field belum bisa diketahui karena belum dilakukan pengeboran. Namun, kandungan migasnya diperkirakan beberapa kalangan cukup besar.
Potensi minyak dan gas (migas) yang cukup besar tersebut, kedepannya diharapkan akan mensejahterakan rakyat Sidoarjo. Pengelolaan migas yang ada di bumi Sidoarjo oleh pemerintah dalam hal ini diwakili oleh SKK Migas di percayakan penuh kepada Lapindo Brantas Inc. selaku perusahaan pertambangan yang diberikan izin untuk mengelola serta mengeksplorasi di blok Brantas dan ditugasi untuk mencari sumber-sumber minyak dan gas baru di kawasan Sidoarjo.
Melihat potensi yang begitu besar di Kabupaten Sidoarjo Lapindo Brantas, Inc. sendiri optimis jika ekplorasi migas di kawasan Sidoarjo dimaksimalkan dalam sehari bisa memproduksi 20 juta kaki kubik. Bukan hanya gas, melainkan juga minyak yang terkandung di beberapa titik di kawasan Sidoarjo.
Selaku operator tunggal di blok brantas Lapindo Brantas Inc. yang juga mitra pemerintah dalam hal ini SKK migas untuk mengekplorasi kekayaan alam di bumi Sidoarjo. Semenjak terjadinya bencana semburan lumpur Sidoarjo kurang mendapatkan (trust) kepercayaan dari masyarakat. Hal ini dapat terlihat dari terjadinya penolakan pengeboran baru oleh aliansi masyarakat di sumur kedungbanteng Kecamatan Tanggulangin beberapa waktu lalu. Padahal secara kajian penelitian yang disampaikan oleh Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda Jawa Timur Handoko Teguh Wibowo menyatakan bahwa potensi migas yang ada di Kabupaten Sidoarjo sangatlah besar dan lokasi pengeboran baru sumur milik Lapindo Brantas Inc. aman untuk dilakukan aktivitas pengeboran serta kekhawatiran terjadinya penurunan tanah (subsidence) tidak terjadi di desa Kedungbanteng Kecamatan Tanggulangin. Secara keseluruhan kawasan Sidoarjo aman untuk melakukan aktivitas kegiatan eksplorasi migas.
Yang terlihat selama ini, di berbagai media bencana lumpur Sidoarjo diidentikkan sebuah bencana yang sangat mengerikan buat masyarakat. Sebagian masyarakat berpandangan bawasannya Lapindo Brantas Inc. yang menjadi penyebab utama terjadinya semburan lumpur. Padahal, secara kajian riset ilmiah dan fakta hukum dilapangan bencana semburan lumpur memang murni sebuah bencana alam bukan human eror atau kesalahan manusia atau kesalahan aktivitas eksplorasi yang dilakukan Lapindo Brantas Inc. Selain itu, dampak sosial yang diakibatkan oleh bencana semburan lumpur sebagian besar telah diberikan ganti rugi sebagai upaya menghapus traumatik bagi warga korban terdampak.
Beragam penolakan dari masyarakat serta didukung oleh stigma negatif terhadap pengelola blok brantas dalam hal ini Lapindo Brantas Inc. membuat aktivitas penggalian potensi migas di kawasan Sidoarjo berjalan stagnan. Untuk memenuhi kebutuhan migas nasional dibutuhkan kerjasama yang transparan dan bersinergi antara pemerintah, masyarakat dan Lapindo Brantas Inc. sendiri untuk bahu membahu menggali potensi migas yang ada di bumi Sidoarjo.
Di Sidoarjo sendiri memiliki sebanyak 21 sumur di lapangan blok Wunut dan sekitarnya serta di lapangan blok Tanggulangin memiliki sejumlah 5 sumur. Semua sumur itu dioperasikan dan dikelola oleh Lapindo Brantas Inc. Sidoarjo yang merupakan blok Brantas adalah daerah kerja perusahaan Bakrie Grup tersebut.
Kini tidak semua sumur milik Lapindo Brantas Inc. berproduksi, cadangannya hanya sekitar 2 BSCF.
Diperkirakan jika dieksplorasi terus, gas di sumur-sumur itu habis dalam jangka waktu 5 tahun lagi. Sehingga perlu adanya eksplorasi sumur migas baru untuk memenuhi kebutuhan gas Nasional. Padahal, selama ini dari sumur gas Lapindo Brantas Inc. ini digunakan untuk menyuplai kebutuhan gas rumah tangga sesuai program pemerintah City Gas. Belum lagi, suplai gas untuk keperluan industri. Lapindo Brantas Inc. sendiri harus diakui untuk memenuhi kebutuhan gas nasional perlu adanya perluasan sumur migas yang baru. Dalam hal ini dengan eksplorasi sumur-sumur yang ada di kawasan Tanggulangin. Namun, eksplorasi itu masih terkendala belum bersinerginya masyarakat engan coorporate dalam hal ini Lapindo Brantas Inc. untuk satu visi mewujudkan ketahanan energi nasional.
Jika tidak melakukan ekplorasi sumur migas baru, cadangan gas yang ada semakin sedikit dan dikhawatirkan tidak akan bertahan lebih dari 5 tahun. Dan hal ini yang akan menjadi boomerang dikemudian hari. Program city gas yang sudah dilakukan di Surabaya, Sidoarjo dan sekitarnya memerlukan suplai gas yang berkesinambungan dari sumur-sumur migas milik Lapindo Brantas Inc.
Potensi migas yang ada dibumi Sidoarjo mau tidak mau harus di eksplorasi hal ini sebagai upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemkab. Sidoarjo dari Dana Bagi Hasil (DBH) migas hasil dari eksplorasi Lapindo Brantas Inc. serta untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Diperlukan iklim yang kondusif dimasa mendatang sehingga, Kedepan perlu adanya sebuah kerjasama yang sinergi antara pemerintah, masyarakat dan swasta (dalam hal ini pengelola blok brantas) sesuai dengan konsep good governance yang goal akhirnya nanti menciptakan iklim yang transparan dan akuntabel.

———— *** ————–

Tags: