Membangun Komitmen Pembelaan terhadap Ekonomi Anak Bangsa

Emil Dardak saat menerima plakat dari Heppy Trenggono

(Canangkan Gerakan Beli Indonesia sebagai Strategi Ketahanan ekonomi dari Krisis Gobal)

Surabaya,Bhirawa
Di negeri kita Indonesia ini gudangnya orang pinter dan kreatif, hanya saja kadang tidak dipedulikan, bahkan hasil karyanya tidak sedikit yang tidak dilirik dan dihargai apa alagi dibeli, akibatnya banyak dari mereka ini yang berputus asa dan malas untuk melalukan sesuatu karena dari bangsa dan kawannya sendiri tidak menghargai, mereka lebih menyanjung nyanjung hasil karya luar negeri.
Demikian pemimpin Gerakan Beli Indonesia Heppy Trenggono di sela sela Talkshow bertajuk Beli Indonesia yang digelar oleh Gerakan Beli Indonesia di arena DBL Surabaya Sabtu (9/11) kemarin. Menurutnya, pemuda Jatim khususnya yang tergabung dalam wadah Gerakan Beli Indonesia siap berkreasi dan inovasi produk yang dibutuhkan asal ada yang membeli,” Jangan sampai para pemuda ini kecewa terus menerus karena hasil karyanya tidak ada yang menghargai, jangankan luar negeri bangsanya sendiri saja masih belum bisa menghargainya,” ungkap Heppy.
Wagub Jatim Emil Elistianto Dardak yang hadir pada kesempatan tersebut langsung memberi tanggapan yang positif, pihak Pemprov akan membeli dengan mewajibkan atas PNS,” Kita akan memulainya dari sepatu dahulu, tapi tolong kualitasnya yang baik agar tidak kecewa,” ungkap Emil.
Jika apa yang dicanangkan oni nanti berjalan dan berhasil maka ke depan Indonesia akan asa perubahan bahkan asa secercah sinar yang terang memayungi Jatim ke depan. Dengan harapan tidak akan ada lagi keluhan yang mengaca jaih ke belakang dimana kita mengalami kemerdekaan yang kini sudah
74 tahun usia bangsa Indonesia sejak kemerdekaan diprokamasikan. Dengan cita cita luhur untuk menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Sebagai bangsa ke 4 terbesar di dunia, bangsa Indonesia memiliki bekal kekayaan alam yang sangat berlimpah dan jumlah penduduk yang besar sebagai bekal membangun. Hari ini di tengah tantangan globalisasi, di tengah sistem ekonomi yang semakin liberal, kita patut bertanya ‘Apakah bangsa Indonesia telah semakin dekat dengan cita cita kemerdekaannya?“.
Ketika menyampaikan pledoi “Indonesia Menggugat” di depan pengadilan Hindia Belanda di Bandung tahun 1930, Presiden Sukarno mengingatkan bangsa Indonesia kala itu, bahwa jika tidak segera bangkit maka akan terjadi penjajahan di Indonesia dalam 4 (empat) bentuknya. Pertama, Kekayaan alam Indonesia akan dikeruk oleh bangsa Iain. Kedua, Bahan mentah Indonesia akan dijadikan alat bangsa lain demi industri industri mereka. Ketiga, Indonesia hanya akan dijadikan sebagai pasar untuk produk-produk bangsa Iain. Keempat, Indonesia akan dijadikan |adang untuk para kapitalist asing. Adakah peringatan bung Karno pada tahun 1930 itu kita lihat hari ini?
Sejak LOI (Letter of lntens) ditandatangani hingga lahir lebih kurang ratusan UU yang menjadikan bangsa Indonesia praktis tidak berdaulat dalam Sumber Daya Alam, Perbankan, Tanah, Air , hingga Retail. Menjadikan peran anak bangsa semakin tersingkir, menjadikan ekonomi rakyat semakin kocar kacir. Separuh penduduk Indonesia masih hidup dengan pendapatan dibawah 2 USD/hari/kapita.
Ekonomi Indonesia menghasilkan 40 orang yang memiliki kekayaan lebih dari Rp. 1.000 trilyun, sementara disisi lain menyisakan ratusan juta orang yang masih hidup dalam kemiskinan. Indeks kesenjangan GINI terus bergerak naik hingga 0,43. Sebuah ironi ditengah melimpahnya kekayaan alam Indonesia.
Fenomena Globalisasi nampaknya membuat bangsa Indonesia menjadi gamang memaknai nasionalisme. Pentingnya Investasi nampaknya membuat bangsa Indonesia gamang terhadap ekonomi kerakyatan. Ekonomi Indonesia bergerak ke arah kapitalisme yang semakin absolut.
Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, di tengah era revolusi Industri 4.0 yang melahirkan perubahan perilaku ekonomi masyarakat, di tengah kebangkitan China yang menggugah kesadaran nasionalisme bangsa bangsa di dunia, kita terpanggil untuk turut memberikan kontribusi nyata, untuk turut mencerdaskan bangsa.
Gerakan Beli Indonesia adalah sebuag gerakan pembangunan karakter bangsa. Gerakan ini dicetuskan pertama kali di Semarang pada tanggal 22 February 2011. Selanjutnya melalui Kongres
Kebangkitan Ekonomi Indonesia (Pertama) yang di selenggarakan di Solo, Gerakan im‘ di deklarasikan secara resmi oleh hampir 10.000 Pengusaha dan 50.000 peserta kirab Beli Indonesia.
Gerakan Beli Indonesia memiliki 3 doktrin perjuangan, yaitu
(1) Membeli Produk lndonesia (2) Membela Bangsa Indonesia (3) Menghidupkan Persaudaraan
Selama 8 tahun, sejak 2011 hingga hari ini, Gerakan Beli Indonesia terus dilakukan secara massive dan terukur di daerah daerah. Sasaran utamanya adalah menerapkan spirit gerakan ini pada komunitas dan wilayah lebih kecil seperti kalangan Pesantren , ormas, kampus, dan wilayah
kabupaten serta kota. Gerakan Beli Indonesia juga mengirimkan duta ke UNESCO dalam event Youth
Peace Ambassador dengan presentasi berjudul ”Beli Indonesia the 3’“ country strategy facing globalization”.
Hingga saat ini spirit Gerakan Beli Indonesia telah diterima dan dideklarasikan di 19 Kabupaten/Kota, di beberapa Universitas, Pesantren, Ormas, dan komunitas komunitas yang ada di Indonesia.
Salah satu portofolio pelaksanaan Gerakan Beli Indonesia yang cukup dikenal masyarakat adalah
Gerakan Beli Kulonprogo. Gerakan Beli Kulonprogo dideklarasikan pada tahun 2012 dan dipimpin Iangsung oleh Bupati Kulonprogo dr Hasto Wardoyo.
Gerakan Beli Kulonprogo telah berhasil menurunkan angka kemiskinan sebesar 8 (delapan) persen hanya dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Hingga hari ini Kulonprogo berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 26 persen menjadi 14 persen. Selain itu, dampak Gerakan Beli Kulonprogo yang bisa dilihat adalah dengan bertumbuhnya UMKM di Kulonprogo, terciptanya stabilitas harga has”
pertanian, dan Iahirnya produk produk Kulonprogo termasuk Iahirnya Batik asli Kulonprogo ”Geblek Renteng” yang sebelumnya tidak pernah ada di Kulonprogo.
Di beberapa kabupaten dan kota yang menerapkan gerakan Beli Indonesia telah menumbuh suburkan minat kewirausahaan pada pemuda dan mendorong Iahirnya produk -produk lokal.
Mengambil momentum pada hari pahlawan tahun ini, Gerakan Beli Indonesia berharap sumbangsih pemikiran Bapak/Ibu pada acara Roundtable Discussion dengan tema “Gerakan Beli Indonesia
sebagai strategi nasional ketahanan ekonomi dari krisis gobal” yang akan diselenggarakan pada 9 Nopember 2019.(ma)

Tags: