Membangun Kesadaran Donor Darah Generasi Milenial

(Catatan Hari Donor Darah Se-Dunia 14 Juni)

Oleh :
Putriany Rahmawati
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Setiap tahun pada tanggal 14 juni, negara – negara di seluruh dunia merayakan Hari Donor Darah Sedunia. Acara ini telah didirikan sejak tahun 2004, berfungsi untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya produk darah yang telah teruji untuk menyelamatkan jiwa – jiwa yang membutuhkan kantong darah, dan juga merupakan sikap kita untuk berterima kasih kepada para donor darah atas pemberian sukarela mereka dengan memperingati Hari Donor Darah Sedunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meresmikan Hari Donor Darah Sedunia sebagai salah satu dari delapan kampanye kesehatan masyarakat global.
Peran dan kesadaran kaum milenial untuk melakukan donor darah di Sidoarjo sangatlah sedikit, dikarenakan pendonor darah didominasi oleh orang yang berumur 40 tahun keatas.Dengan bertepatan hari peringatan donor darah, peluang untuk para PMI mengadakan event sosialisasi agar generasi milenial bisa memahami betapa pentingnya kesadaran dan peran untuk melakukan donor darah. Di Sidoarjo belum pernah terlihat sosialisasi yang dapat menarik generasi milenial untuk mendatangi event dan memahaminya, bahkan hanya menarik perhatian para milenial saja tidak ada, sehingga tidak terlihat sama sekali kaum milenial yang andil dalam donor darah.
Banyak cara yang dapat digunakan para anggota PMI untuk menarik perhatian kaum milenial, karena mereka memang sasaran yang tepat untuk mengembangkan dan meneruskan organisasi tersebut. Apalagi di era digital ini, dengan teknologi canggih yang pesat akan kemajuannya, dapat membuka peluang para anggota PMI untuk membuat invitation card digital yang bertemakan Hari Donor Darah Sedunia dengan semenarik mungkin dan dapat dimasukkan di media sosial manapun yang sasarannya tertuju pada kaum milenial, misalnya di Instagram, bisa juga memviralkan tagar meliputi Hari Donor Darah di Twitter, karena kaum milenial didominasi ketertarikannya pada hal yang unik dan mudah ditemukan dikesehariannya yaitu media sosial. Tak hanya di media sosial saja, kita dapat membuat sebuah aplikasi atau website yang meliputi tentang Donor Darah, bisa kumpulan artikel tentang donor darah, update informasi tentang donor darah, mendeteksi letak donor darah disekitar lokasi kita, semua itu dapat dikumpulkan dalam satu aplikasi, dan pastinya ide tersebut dapat membuka peluang PMI untuk membuat kaum milenial tertarik. Selain melalui media sosial para anggota PMI juga dapat menarik kaum milenial untuk melihat atau bahkan ingin bergabung dalam organisasi PMI dengan cara membuat event unik di Sidoarjo.
Tetapi PMI cabang Sidoarjo masih kurang aktif dalam menjalankan organisasinya, hanya saja terdapat Bus Donor Darah di Daerah Gor Sidoarjo, namun sosialisasi mereka jarang sekali dilakukan bersama dengan organisasinya, bahkan bisa saja mereka menargetkan sekolah – sekolah yang ada di Sidoarjo untuk wadah mereka bersosialiasi, mereka juga dapat menghitung minat kaum milenial yang ada di Sidoarjo dalam berdonor darah, namun sampai saat ini tidak terlihat para anggota PMI mengadakan event menarik dan unik untuk membuat para milenial tertarik mengikutinya.
Walaupun belum banyak informasi donor darah bertebaran kita sebagai kaum milenial harus tetap bisa menjaga pola hidup yang sehat, agar di tahun ini pendonor darah semakin meningkat, dan membiasakan gaya hidup sehat. Dengan begitu kita dapat terus berpartisipasi donor darah dan membantu dalam produksi kantong darah sehat. Bukan hanya diri kita yang sehat tetapi dengan kita mampu berpartisipasi kita juga membantu masyarakat yang sakit untuk kembali sembuh dengan sekantong darah yang kita donorkan.
Karena dilihat dari pengalaman tahun lalu pada peringatan Hari Donor Darah tahun 2018 bahwa Indonesia masih kekurangan satu juta pasokan kantong darah dan belum memenuhi standar kurang lebih sekitar 5,2 juta kantong per tahun. Standar itu sudah ketentuan dari World Health Organization(WHO) yang telah menetapkan bahwa jumlah kebutuhan minimal darah di Indonesia adalah dua persen dari jumlah penduduk yang berkisar antara 255 juta jiwa.
Membangun kesadaran kaum milenial memang merupakan hal yang kompleks, selain perlu mendorong mereka untuk mendonorkan darah, informasi seputar kesehatan terutama tentang darah tentunya harus dilakukan juga. Dan dibutuhkan support dari pemerintah untuk membantu mempublikasikan betapa pentingnya donor darah bagi masyarakat, jadi tak hanya para anggota PMI saja yang dapat berperan. Kementrian kesehatan juga telah berusaha mempermudah akses masyarkat untuk untuk mendonorkan darah secara sukarela dengan adanya program kerjasama antara Puskesmas, Unit Transfusi Darah(UTD), dan rumah sakit.
Tetapi masyarkat khususnya kaum milenial harus tetap perlu terdorong untuk donor darah bahkan tidak hanya untuk acara-acara besar tetapi menjadikan itu sebagai gaya hidup mereka. Mendonorkan darah memang sakit walaupun hanya sedikit, tetapi kita sebagai kaum milenial harus bisa berpikir secara unviersal bahwa darah yang kita donorkan untuk kebaikan dan nyawa orang lain. Donor Darah juga tidak semenakutkan seperti yang kalian pikir, donor darah tidak dilakukan secara main-main, seseorang yang mendonorkan darahnya tentu akan melewati tes kesehatan yang telah ditetapkan oleh kementrian kesehatan.
Pada saat transfusi volume darah yang didonorkan tidak boleh melebihi 13 persen jumlah darah di tubuh untuk menghindari reaksi yang tak diinginkan. Pendonor harus memenuhi persyaratan berikut agar dapat berpartisipasi yaitu, dengan memiliki berat badan yang dianjurkan tak kurang dari 50kilogram, tensi darah normal, dan hemoglobin mencukupi yakni sekitar 12gram untuk perempuan, 12,5 gram untuk laki-laki, usia dalam syarat donor darah juga diperhatikan bahwa dapat dilihat usia berada dalam rentang 16-65 tahun, umur 18 tahun merupakan batas usia terendah pendonor di beberapa negara, dan umur 60 tahun merupakan usia tertua bagi pendonor darah pertama kali. Bagi laki-laki untuk menjadikan donor darah sebagai gaya hidup baru dapat mendonorkan darah setiap 12 minggu, sedangkan perempuan dapat mendonorkan darahnya setiap 16 minggu. Sebelum mendonorkan darah, pendonor perlu minum banyak air untuk menjaga kondisi, khususnya bagi pendonor yang memiliki golongan darah O negatif diutamakan minum banyak air karena darahnya bisa ditranfusikan secara universal, dan jumlah pemiliknya diketahui hanya segelintir.
Kita sebagai kaum milenial pasti sebagian tau bahwa stok kebutuhan darah di Indonesia belum ideal. Maka dari itu kita harus bisa menggerakkan hati kita untuk menjadikan donor darah sebagai gaya hidup kita, bukan hanya pendonor darah ketika acara khusus saja, nemun menjadi kaum milenial yang andil mendonor darah sebagai gaya hidup sehat.
Kaum milenial juga harus bisa aktif dalam menyebarkan kebiasaan sehat pada kaum milenial lainnya untuk tergerak dan tertarik menjadi kaum milenial yang memiliki gaya hidup sehat juga bermanfaat bagi masyarkatnya. Sejatinya Donor darah merupakan kegiatan yang mulia dan juga bermanfaat untuk masyarakat, dan kalian kaum milenial janganlah mempergunakan hidup kalian di usia muda untuk hal-hal yang negatif dan sia-sia yang dapat mengancam kesehatan dan peluang kalian untuk dapat menjadi pahlawan milenial dan berguna bagi masyarakat.
Mari kita ubah gaya hidup kita dan mari kita ajak lingkungan sekitar kita untuk ikut bergaya hidup sehat agar dapat berpartisipasi mendonor darah rutin sesuai dengan pesyaratan untuk mendonor darah yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

———– *** ————-

Tags: