Melatih Qana’ah di Bulan Penuh Hikmah

Hibatun Wafiroh

Oleh:
Hibatun Wafiroh
Pembina Tahfidz Alquran SMPN2 Kedungpring Lamongan

Bulan Ramadan adalah bulan penuh hikmah. Di antaranya Ramadan terus memotivasi kita untuk berbenah diri. Semangat memperkuat kondisi spiritual dan keimanan. Dan melatih pengendalian diri serta berharap sifat-sifat terpuji melekat di hati. Hal ini mampu mendorong orang yang berpuasa untuk bersifat qana’ah.
Saat berbuka puasa, kita disunnahkan berdoa yang mengandung pelajaran qana’ah. ‘Wa’ala rizqika afthortu’ yang artinya ‘atas rezeki-Mu aku berpuasa’. Orang-orang yang memiliki kekayaan jiwa, akan berbuka puasa dengan makanan dan minuman secara sederhana. Tidak berlebihan. Merasa cukup dan menikmati dengan penuh syukur apa yang menjadi rezekinya pada hari itu.
Qana’ah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya. Dengan kata lain qana’ah adalah sebuah sikap menerima dengan lapang dada atas kondisi diri tanpa menghilangkan sebuah upaya. Orang yang qana’ah selalu menikmati dan mensyukuri apa yang dikaruniakan Allah kepada-Nya. Qana’ah tidak terpengaruh pada kekayaan harta, melainkan kekayaan jiwa yang dianugerahkan pada manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Bukannya kekayaan itu karena banyak hartanya, melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hatinya”. (HR. Bukhari Muslim)
Ada orang yang hidupnya biasa saja, rumahnya sederhana, tetapi hidupnya sangat bahagia. Sebaliknya ada orang kaya yang selalu sibuk setiap harinya. Sekilas kita memandangnya bahagia karena hidup berlimpah harta. Namun, belum tentu dia bisa menikmati kekayaannya. Bahkan terkadang setiap hari dia sibuk memikirkan hal-hal yag belum dimilikinya. Padahal harta yang dimilikinya mungkin sudah lebih cukup untuk tujuh turunan. Namun, dia tidak menikmati apa yang dia miliki. Yang lebih parah adalah kondisi orang yang tidak punya, dan sibuk memikirkan apa yang tidak dimilikinya. Na’udzu billah min dzalik.
Orang jawa mengatakan urip iku sawang sinawang. Artinya, hidup itu saling memandang. Hidup itu tentang melihat dan dilihat. Karena melihat dan kita sadar bahwa kita juga dilihat, maka yang kecenderungan muncul perbandingan tentang apa yang terlihat. Hidup itu saling memandang. Artinya saling menilai, menakar, menduga, sesuai cara pandang masing-masing. Pandangan kita terhadap orang lain bisa betul, bisa juga salah. Bisa jadi orang yang kita pandang bahagia, ternyata tidak merasakan bahagia dalam hidupnya. Sawang sinawang.
Apabila kita melihat kehidupan orang lain, yang muncul dalam pikiran kita adalah hidupnya yang sukses, bahagia, banyak kemudahan dan kenikmatan yang didapatkannya. Sekilas kita memandangnya demikian. Namun sesungguhnya, belum tentu dia lebih bahagia dibanding kita. Demikian sebaliknya, terkadang orang yang kita lihat hidupnya amat sederhana, bahkan mungkin serba kekurangan, ternyata justru lebih bahagia dari kita.
Kita akan galau terus jika selalu membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi jika kita terus melihat kekurangan fisik, harta, jabatan, dan hal-hal duniawi lainnya. Orang yang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain akan memandang apapun yang dialami orang lain lebih mudah, nyaman, dan enak. Padahal andai dia menjalani takdir orang yang dilihatnya itu, mungkin dia akan mengalami kesusahan, kepayahan, dan sebagainya. Apa yang nampak dari teman-teman atau tetangga kita sesungguhnya hanyalah nampaknya saja. Ada pepatah “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”. Namun, perlu kita sadari bahwa kita tak pernah tahu apakah rumput tetangga itu rumput beneran atau sekedar rumput-rumputan. Iya kan?
Sawang sinawang. Pepatah Jawa ini sebenarnya belum lengkap. Masih ada lanjutannya, yaitu “Urip iku mung sawang sinawang. Mula aja nyawang sing kesawang”. Artinya dalam hidup ini hanya tentang melihat dan dilihat. Jadi, janganlah hanya melihat dari apa yang terlihat. Jangan mudah menyimpulkan dari apa yang nampak di mata kita. Setiap orang mengalami ujiannya. Setiap orang berada dalam level proses masing-masing. Imam Syafi’i berkata, “Aku berpendapat bahwa qana’ah (menerima dengan lapang dada akan pemberian rejeki dari Allah) adalah modal kekayaan. Maka, aku selalu memegangnya. Akhirnya, aku menjadi kaya walaupun tanpa uang. Aku berjalan melewati manusia laksana seorang Raja (karena tak ada kesusahan di dalam hati). ”
Puasa membebaskan umat Islam dari ketamakan dan kelezatan materi. Puasa mendidik kita untuk menghindari sifat berlebihan. Orang yang qana’ah akan menjauhkan diri dari sikap konsumtif berlebihan. Marilah kita berdoa sesuai yang diajarkan Rasulullah. Doa agar kita diberi sifat qanaah, “Allahumma innii as’alukal huda, wattuqa, wal ‘afafa wal ghina” yang artinya “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat a’faf (menjaga diri dari hal yang haram),m dan sifat ghina (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah)”.**

Tags: