Masih Marak Orang Berpura-pura Telantar

Dinas Sosial Jatim melalui Unit Pelayanan Sosial Orang Telantar saat akan mengantarkan keluarga telantar ke daerah asalnya

(Deteksi Orang Terlantar, Dinsos Jatim Gunakan Aplikasi Simlontar)

Pemprov Jatim, Bhirawa
Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur memiliki unit pelayanan sosial orang telantar yang bertugas melayani orang yang telantar yang tidak bisa pulang ke daerah asalnya. Sayangnya, hal tersebut dinodai adanya maraknya orang yang berpura – pura sebagai orang telantar.
Hal tersebut diketahui dari sistem aplikasi yang dibangun Dinas Sosial Jatim, bernama simlontar. Sehingga, akan diketahui, orang yang mengaku sebagai orang terlantar.
“Ada yang benar-benar yang terlantar, ada juga yang berpura-pura,” kata Kepala Dinsos Jatim, Sukesi melalui Kasie Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, Djoko Sumbowo, kemarin.
Kendati telah memiliki simlontar, tetap masih saja ada orang yang mengaku telantar dengan menggunakan berbagai siasat. “Sebelumnya namanya A, namun datang lagi namanya berubah. Kami tetap lihat aplikasi simlontar dengan menyesuaikan nama dengan foto,” katanya.
Dari tahun 2018 lalu, Dinsos Jatim telah memberikan pelayanan pada orang telantar sebanyak 1172 orang. Tahun 2019, dari Januari hingga Agustus terhitung ada 844 orang telantar yang mendatangi kantor Dinsos Jatim. Tahun in juga dianggarkan sekitar Rp 173 juta untuk penanganan orang telantar.
“Hari ini saja, ada 10 orang yang dipulangkan. Kadang yang datang satu orang, kadang juga berkelompok atau beberapa orang,” ujarnya.
Pelayanan yang diberikan yaitu orang terlantar diberikan makan dan tempat istirahat sementara, lalu dilakukan pendataan unruk bisa memulangkan orang yang telantar tersebut ke daerah asalnya. “Kalau tidak diberikan makan, bisa emosi dan susah untuk dilakukan pendataan,” ujarnya.
Setelah dilakukan pendataan, orang telantar yang sehat fisiknya maka diberikan uang saku dan tiket untuk kembali ke daerahnya dengan melaporkan di dinas sosial setempat. Hal tersebut dikarenakan Dinas Sosial Jatim juga menjalin komunikasi dengan dinas sosial dimana orang telantar tersebut akan dipulangkan.
“Jika sehat diberikan tiket dan uang saku ke terminal/pelabuhan. Jika ada yang sakit atau sudah lanjut usia, kami akan mengantarkannya dengan ambulan yang dimiliki Dinsos Jatim,” katanya.
Disisi lain, diceritakannya, ada juga pekerja yang berasal dari Kalimantan tergiur pekerjaan di Surabaya, namun ternyata tidak sesuai harapan kemudian hidupnya terkatung-katung dan terlantar. Akhirnya ia mendatangi Dinas Sosial Jatim.
“Sebenarnya jika ada permasalahan ketenagakerjaan, kalau bisa ditangani dinas tenaga kerja terlebih dulu sebelum ke dinsos. Namun kami juga tidak keberatan dengan permasalahan tersebut dan tetap memulangkan orang terlantar tersebut,” katanya. [rac]

Tags: