Makan Pagi yang Diberkahi

Drs H Choirul Anam Djabar

Oleh:
Drs H Choirul Anam Djabar
Ketua Jam’iyah Tilawatil Quran Provinsi Jatim

Rasulullah saw. menamakan Sahur dengan istilah ‘makan pagi yang diberkahi’ sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasai dan Ahmad dari ‘Irbadh bin Sariyah berkata: “Rasulullah saw. mengajakku untuk bersahur di dalam bulan Ramadan dengan bersabda,”Mari kita makan pagi yang diberkahi.”
Nabi Muhammad saw. Bersabda: “Sahur adalah makanan yang berkah, janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air, karena Allah dan Rasul-Nya memberi shalawat kepada orang yang Sahur.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad dari tiga jalan dari Abi Said al-Khudri sebagian menguatkan yang lain).
Dari Amr bin ‘Ash, Rasulullah saw. Bersabda: “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan Sahur.” (HR. Muslim).
Disunnahkan mengakhirkan Sahur sesaat sebelum Shubuh (fajar). Anas meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, “Kami makan Sahur bersama Rasulullah saw., kemudian beliau shalat aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara azan dan Sahur?” Beliau menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Aisyah pernah ditanya tentang dua orang yang salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan Sahur sedangkan yang lainnya mengakhirkan berbuka dan menyegerakan Sahur, maka dia menjawab: “Siapa dari keduanya yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan Sahur?”. Orang itu menjawab: “Dia adalah Abdullah bin Mas’ud”. Aisyah menjawab: “Demikianlah Rasulullah saw. melakukannya”.
Diriwayatkan oleh Ahmad dari Bilal berkata: “Aku mendatangi Rasulullah saw. dan mengazankan shalat. Beliau saw. ingin berpuasa, maka dia pun meminum kemudian beliau memberikannya kepadaku dan keluar untuk shalat, ini adalah sebelum masuknya fajar”.
Riwayat dari Anas didalam ash Shahihain disebutkan: “Sesungguhnya Bilal telah mengumandangkan azan pada waktu malam (sebelum fajar). maka makan dan minumlah sehingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azannya”. Sesungguhnya Ibnu Ummi Maktum adalah seorang buta yang tidak mengumandangkan azan kecuali jika dikatakan kepadanya: “Telah Shubuh, telah shubuh”.
Dari hadis Bilal tersebut dapat dipahami bahwa azan pertama yang dikumandangkannya adalah untuk membangunkan seseorang yang hendak berpuasa keesokan harinya agar bersahur. Sedangkan azan kedua yang dikumandangkan Ibnu Ummi Maktum adalah datangnya waktu Shubuh yang menandakan berhentinya waktu Sahur.
Batas waktu akhir Sahur adalah sejak dimulainya azan Shubuh. Diperbolehkan untuk makan dan minum. pada ‘waktu Imsak’. Imsak itu hanyalah sebagai peringatan bahwa sebentar lagi akan masuk waktu Shubuh, sebagai bentuk dari kehati-hatian.
Pada dasarnya waktu akhir dari Sahur seseorang adalah sedikit menjelang masuknya waktu Shubuh, tetapi diharamkan baginya jika telah masuk waktu Shubuh (fajar). Dengan demikian dianjurkan agar seorang yang bersahur menghentikan sahurnya pada sepuluh menit sebelum masuknya Shubuh agar dirinya memiliki kesiapan penuh untuk berpuasa dan agar dirinya juga bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Shubuhnya.
Jika tidak Sahur, namun telah niat puasa wajib pada malam harinya sebelum waktu Shubuh, puasanya tetap sah karena Sahur bukanlah syarat sahnya puasa, namun bersifat anjuran atau sunnah.**

Rate this article!
Makan Pagi yang Diberkahi,5 / 5 ( 1votes )
Tags: