Mahasiswa Asing Antusias Membuat Kue Tradisional dan Takakura

Tiga Mahasiswa Asing program Student Exchange program international fakultas Binis dan Ekonomika Ubaya bersama mahasiswa Psikologi Ubaya, Elizabeth Christina saat belajar membuat kue Tok di Pusdakota Ubaya, Senin (22/10).

Surabaya, Bhirawa
Kaya akan jajanan tradisional membuat Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi bangsa asing. Ternasuk ketiga mahasiswa asal University of Southern Denmark yang mengikuti student exchange di Universitas Surabaya (Ubaya). Mereka adalah Anneke Schon, Sirgudur Ingvar Thorarinsson, Christin Enja Lisette Saermar dan mahasiswa Psikologi Ubaya Elizabeth Christina Muljono yang belajar membuat kue cikak atau yang lebih dikenal dengan kue Tok.
Bersama Kampung Kue Rungkur Lor Surabaya ke empat mahasiswa ini diajarkan cara membuat kue Tok dengan bahan alami dan sederhana. Mulai dari mengupas kacang hijau sebagai isian kue, mengukus kacang hijau hingga mencetak adonan menggunakan cetakan agar-agar.
Pendiri Kampung Kue, Choirul Mahpuduah mengungkapkan kue Tok yang dipraktekkan kali ini bernuansa kekinian dan banyak di sukai konsumen.
Choirul Mahpuduah, Ketua Kampung Kue mengungkapkan kue Cikak yang dipraktekkan kali ini bernuansa kekinian dan banyak di minati oleh konsumen.
“Kue Tok ini dikenalkan karena dibuat dari bahan alami dan bahannya mudah ditemukan,”ungkap dia. Lebih lanjut, dalam proses pembuatannya pun lebih praktis. Sehingga mudah dibuat oleh pemula. Terlebih penggunaan pewarna alami yang berasal dari sari buah seperti buah naga, pandan dan juga santan dengan isian kacang hijau yang menyeharkan.
Direktur Kerjasama Kelembagaan Ubaya, Adi Prasetyo Tedjakusuma menuturkan pembuatan kue tradisional ini sebagai bentuk pengenalan budaya dan kebiasaan orang Indonesia khususnya dalam mengenal kue tradisional di Surabaya.
“Setelah belajar dari ibu-ibu kampung kue, merek jadi tahu cara membuat dan bisa juga mencicipi kue yang dibuatnya. Kesan yang merema dapat juga bisa jadi cerita tersendiri saat kembali ke negara asal. Jadi mereka bisa melihat keragaman makanan di Indonesia,”papar dia.
Sementara itu, mahasiswa asing asal Jerman Anneke Schon mengatakan ini merupakan kali pertamanya dalam membuat kue tradisional. Selain itu, ia juga mengaku mendapatkan banyak pengetahuan terkait tradisi di Indonesia. Mulai dari sikap masyakaratnya hingga pemilihan makanannya.
“Ini jenis makanan yang benar-benar baru bagi saya. Dan sangat menarik karena saya bisa bikinnya,”kata dia. Kendati bisa menggunakan cetakan, ketiga mahasiswa asing tersebut juga membuat kue Tok dengan cara manual. Mereka juga membentuk kue dengan berbagai hewan dan mengevatnya dengan pewarna alami yang terbuat daei buah-buahan.
Selain belajar membuat kue Tok, ketiga mahasiswa asing ini juga diajarkan membuat Takakura yaitu pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi kompos. Bersama teknisi pengolahan limbah organik Pusdakota Ubaya, ketiganya diajarkan dalam membuat pupuk alami tanaman dengan berbahan sekam, kompos, kardus atau karpet dan kain tipis serta limbah organik rumah tangga.
Christin Enja Lisette Saermar mengatakan pembuatan Takakura menurut dia cukup mudah dan tidam membutuhkan waktu yang lama. Ininjuga kali pertamanya dalam membuat kompos berbahan limbah organik rumah tangga.
“Di negara saya, kami membuatnya dari kotoran hewan. Ini baru pertama kali saya melihat dan mempraktekman cara pembuatan lompos dengan bahan-bahan yang sederhana,” ujar dia. [ina]

Tags: