Lurusnya Akidah Tepatnya Ibadah

Judul : Memahami Islam
Penulis : Asli Kaplan
Penerjemah : Tim Redaksi Republika Penerbit
Editor : Tim Bahasa Republika Penerbit
Penerbit : PT Pustaka Abdi Bangsa (imprint Republika Buku)
Cetakan : I September 2019
Tebal : XI + 240 hlm
ISBN : 97-860-257-3499-1
Peresensi : Ahmad Muhli Junaidi
Guru SMA 3 Annuqayah d Kec. Guluk-Guluk, Sumenep

Buku ini berasal dari bahasa Turki dengan judul ‘Gencin Yol Rehberi’ terbit di Istambul 2008. Tahun 2011 dialihbahasan ke bahasa Inggris diterbitkan oleh Tughra Books, dan bulan September ini di tahun 2019 diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul ‘Panduan Belajar Muslim Muda; Memahami Islam’ di terbitkan Pustaka Abdi bangsa.
Sebuah karya dari penulis Turki, Asli Kaplan, seorang penulis yang banyak sekali menerbitkan buku-buku keislaman yang sangat laris, baik di Turki sendiri dan di dunia internasional. Wajar sebab ia mengkhususkan diri menulis buat dunia remaja dengan uraian dan bahasa sederhana, sebagaimana terdedah dalam buku ini, misalnya.
Buku-buku keislaman dari Turki sepuluh tahun terakhir ini memang banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya karya Said Nursi, Navzat Tarhan, Fethullah Gulen dan lain-lain sampai karya Asli Kaplan ini. Hal tersebut mengingatkan kita pada era 2000-an tatkala buku-buku Harun Yahya laris manis di Indonesia, terlepas dari kontroversi sosok Harun Yahya itu sendiri. Buku-buku keislaman dari Turki begitu laris jika diterbitkan di Indonesia, kemungkinan karena kesamaan i’tiqad yang dianut masyarakatnya, yaitu Ahlu Sunnah, walau dari segi mazhab fikih, ada perbedaan. Di Turki yang dominan mazhab Hanafi, sedangkan di Indonesia dominan mazhab Syafi’i.
Kesamaan i’tiqad itulah yang membuat buku-buku Turki mudah diterima di khalayak Indonesia. Demikian juga buku ini, yang berisi panduan belajar buat muslim muda, menuntun pembaca muda pada pemahaman yang tepat akan agamanya.
Dimulai dari pembahasan masalah rukun iman yang enam, buku ini memandu generasi muda agar mempunyai i’tiqad Ahlu Sunnah yang tepat sebagai dasar pijikan dalam berakidah. Sebab tatkala akidah kita menjadi lurus sesuai dengan i’tiqad Ahlu Sunnah, niscaya tindakan kita pun, laku kita, ucapan kita dan sebagainya, akan lurus dan tepat juga. Tatkala keimanan kita menjadi keruh, atau menyimpang dari i’tiqad Ahlu Sunnah, maka ibadah kita akan menjadi sia-sia belaka. Pada sisi ini, kita dalam keadaan merugi atau bangkrut di akhirat, nauzubillah min zalik.
Setelah secara panjang lebar menerangkan masalah i’tiqad atau rukun iman (hlm. 1-127), Asli Kaplan kemudian membahas masalah rukun Islam yang lima. Dimulai dari syahadatain yang diurai secara integratif dengan rukun iman yang pertama, sang penulis menguraikan masalah iman, Islam, dan ihsan berdasarkan sumber-sumber akurat sebagaimana kita kenal dalam kitab-kitab yang diaji di pesantren-pesantren Indonesia (hlm. 5-9).
Setelah itu, ia menguraikan masalah ibadah secara mendalam, sebab ada korelasi besar antara kepercayaan (i’tiqad) dan ibadah. Keimanan seseorang akan semakin melemah tiap hari jika tidak didukung praktek ibadah yang tepat karena kita akan selalu terobsesi oleh daya tarik dunia yang menghalangi kita dari mengingat Allah SWT (hlm. 135). Tentu saja, ibadah di sini bukan semata-mata shalat, karena Islam adalah agama universal, maka ibadah pun ada yang berbentuk ibadah sosial, ibadah muamalah, dan sebagainya.
Namun, karena sang penulis hendak mengurai sumber-sumber pokok Islam berupa rukun Islam, ia membuat linier bukunya dari Syahadatain, shalat, puasa, zakat, dan haji (hlm. 135-239). Di tengah-tengah uraian, ia menyisipkan kisah-kisah menarik terkait dengan rukun Islam tersebut. Misalnya, penulis buku ini mengangkat kisah pada waktu Sultan Muahmmad al-Fatih hendak menaklukan Konstantinopel, 29 Mei 1453. Sang ulama kharismatik penasehat Sultan Mehmet, Aksyamsuddin diminta berdoa (sebagaimana arti literlik shalat) agar penaklukan tersebut segera berhasil. Berkat doa sang ulama itu, besok harinya di pagi buta, kota Romawi Timur berhasil dibebaskan dari penyembahan berhala, ala Kristen Ortodoks (hlm. 164).
Demikian seterusnya konten buku ini. Selalu terpampang kisah-kisah menarik berkaitan dengan tema yang ada. Tatkala membahas zakat, sang penulis buku ini terkonsentrasi pada pembahasan keadilan, sebab zakat memang bertujuan bagaimana keadilan itu bisa dirasakan semua golongan. Ia mengisahkan Abdul al-Qadir al-Jailani pada waktu bersama iring-iringan kafilah dihadang perampok. Al-Jailani berumur 13 tahun ikut menjadi tawanan perampok, ia membawa koin uang sebanyak 40 koin emas yang ia serahkan ke perampok padahal jika ia sembunyikan, uang emas itu akan selamat.
Ditanya oleh perampok, mengapa ia sangat jujur? Ia bilang, sebab tak ingin membohongi janjinya pada Allah dan janjinya pada ibunya. Berkat uang 40 koin emas dan kejujurannya, sang perampok bertaubat. Dan memerintahkan agar harta rombongan kafilah yang telah dirampas, segera dikembalikan pada pemiliknya (hlm. 202). Ini kisah keadilan perampok berkat karomah sang waliyullah, al-Jailani.
Secara keseluruhan, buku ini sangat baik bagi generasi muda muslim. Bahasa dan uraian yang sederhana dan mudah, serta ilustrasi yang sangat indah mejadikan buku ini sangat mengesankan untuk dibaca secara tuntas. Semoga bermanfaat!

———– *** ————–

Rate this article!
Tags: