Lintas Etnis Hidup Berdampingan, Membuat Warga Papua Merasa Nyaman

Anak-anak Papua diajak berswafoto sesama pengunjung car free day di Taman Bungkul Surabaya. Car free day menjadi salah satu wadah harmoni kebhinekaan Indonesia. [bagian humas pemkot surabaya]

Merajut Harmoni Kebhinekaan di Kota Pahlawan (1 – bersambung)
Kota Surabaya, Bhirawa
Surabaya tak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tapi juga sebagai kota multikultural. Beragam ras dan etnis ada di Surabaya. Mereka hidup berdampingan selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun lalu. Keberagaman inilah yang akhirnya membentuk karakter Surabaya sebagai kota yang toleran. Kota yang harmoni untuk semua kalangan.
Sejak zaman kerajaan, masa kolonial hingga pasca kemerdekaan, Surabaya selalu memegang peranan sebagai kota pelabuhan. Tak heran jika banyak pendatang dari berbagai daerah atau negara yang singgah bahkan menetap. Itu artinya, sejak dulu hingga sekarang warga Surabaya memang sudah terbiasa dengan keberagaman penduduk.
Di kota ini, segala macam ras dan etnis bisa dijumpai. Mulai dari Jawa, Batak, Melayu, Karo, Papua, Madura, Dayak, Bugis dan lain sebagainya. Juga ada komunitas masyarakat Tionghoa, Arab, India hingga Korea. Keberagaman inilah yang menjadi fondasi kuat bagi kota ini untuk terus bergerak maju.
Setiap tahun berbagai ras dan etnis ini diberi ruang dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Acap kali pemkot memberikan kesempatan berbagai budaya untuk tampil di even-even besar, seperti Hari Jadi Kota Surabaya. Kemudian juga ada Cross Culture Festival alias Festival Seni Lintas Budaya yang digelar setiap tahun. Acara tersebut selain ajang memperkenalkan budaya, juga sebagai perekat persatuan.
Selain agenda resmi tahunan, Pemkot Surabaya juga memiliki wadah yang bisa menjadi pemersatu berbagai ras dan etnis. Satu diantaranya adalah car free day (CFD) yang diselenggarakan tiap Minggu pagi. Di CFD, ribuan orang berkumpul menghabiskan akhir pekan bersama orang-orang yang disayangi. Mereka saling berinteraksi merajut harmoni kebhinekaan. CFD menjadi miniatur keharmonisasian Indonesia. Sebab beragam etni dan ras ada disana.
Momen CFD juga sering dimanfaatkan warga untuk mengadakan aksi sosial. Contohnya aksi solidaritas #SurabayaPapuaBersaudara di CFD Taman Bungkul, Jalan Darmo yang digelar pada, Minggu (25/8). Aksi ini digelar sebagai solidaritas persaudaraan Surabaya dengan Papua yang sempat terkoyak, akibat adanya insiden dugaan ucapan rasial dan pengusiran di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya.
Dalam aksi solidaritas #SurabayaPapuaBersaudara itu, ribuan orang berbaur di tengah Taman Bungkul untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Mereka terlihat sangat menikmati pertunjukan musik band yang beberapa personilnya orang Papua. Masyarakat yang hadir pun bukan hanya Surabaya saja, tapi juga berbagai ras dan etnis di Indonesia. Diantaranya Papua, Bali, Sulawesi hingga NTT (Nusa Tenggara Timur).
Kebersamaan dan keharmonisasian ini terlihat saat anak-anak Papua bersama ribuan masyarakat Surabaya, bergandengan tangan menari berkeliling di Taman Bungkul. Momen haru pun terlihat, saat mereka saling berpelukan usai berjoget dan bernyanyi bersama. Harmoni kebhinekaan benar-benar terwujud di CFD saat itu.

Satu Saudara Satu Indonesia
Salah seorang warga asli Papua yang turut hadir di CFD, Daniel Mabamba, mengaku, sangat menikmati pertunjukan musik dalam aksi solidaritas itu. Apalagi beberapa lagu daerah Papua dan Surabaya dinyanyikan. Seperti Sajojo, Aku Papua, Tanah Papua, Maumere, Tanjung Perak dan Mlaku-mlaku Nang Tunjungan.
Selama tinggal di Surabaya, Daniel menilai, masyarakatnya sungguh ramah dan saling menghormati satu sama lain. Makanya banyak mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di Surabaya merasa nyaman. “Di sini (Surabaya, red) semua masyarakat hidup berdampingan. Kami merasa senang dan nyaman tinggal di Surabaya,” ujarnya.
Daniel berharap, keberagaman masyarakat di Surabaya bisa terus terjaga. Dengan begitu, Surabaya akan terus nyaman dan aman untuk ditinggali dari berbagai ras dan etnis di Indonesia. “Karena kita satu, kita sama, tidak ada perbedaan masyarakat satu dengan yang lain,” ungkapnya.
Warga Surabaya yang datang dalam momen spesial itu, Tri Buana Tunggal Dewi Rahma mengaku, sangat senang dan menikmati pertunjukkan CFD Minggu itu. Apalagi menurutnya, ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia bisa berbaur, bernyanyi dan berjoget bersama.
“Semoga kebersamaan ini terus terjaga. Tentu semua warga Surabaya tak ingin ada insiden-insiden yang bisa memecah belah bangsa. Kami di Surabaya tidak pernah memandang rendah siapapun dari etnis manapun. Karena kita semua sama, satu saudara, satu Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, sejak dulu kota ini dibangun tidak hanya oleh warga Surabaya. Tapi oleh seluruh lapisan masyarakat yang berasal dari berbagai ras dan etnis di Indonesia. Makanya selama ini di Surabaya tidak pernah terjadi gesekan antar etnis. Semua bergandengan tangan hidup rukun berdampingan.
“Saat perang 10 November 1945, Bung Tomo berpidato tidak hanya menyebut arek-arek Suroboyo, tapi juga arek-arek dari berbagai suku di Indonesia. Itu artinya kita tidak sendiri di Surabaya. Jaga persatuan dan kesatuan ini dengan baik,” ungkap wali kota perempuan pertama Surabaya ini.
Menurut Risma, selama ini hubungan masyarakat Surabaya dengan warga Papua berjalan baik. Bahkan sudah seperti saudara. Terlebih, dirinya menganggap adik-adik Papua yang tinggal di Surabaya seperti anaknya sendiri. Selama menempuh pendidikan di Surabaya, mereka juga diberikan fasilitas dalam upaya mengembangkan minat dan bakat. Seperti pelatihan komputer dan bahasa Inggris.
“Mereka jauh dari orang tua dan keluarga. Makanya saat saya bertemu dengan adik-adik Papua selalu saya beri nasihat. Saya support agar tekun belajar dan memanfaatkan peluang yang ada. Sebab orang tuanya di Papua tentu ingin anaknya sukses setelah belajar di Surabaya,” ujarnya.
Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, M Fikser menambahkan, selama ini perhatian Pemkot Surabaya kepada mahasiswa Papua sangat besar. Seperti memfasilitasi para mahasiswa untuk mengadakan perayaan Natal setiap 25 Desember. Perayaan Natal itu bahkan tidak hanya bagi mahasiswa yang ada di Surabaya, tapi juga luar Surabaya.
“Setiap Natal Bu Wali Kota (Tri Rismaharini, red) selalu meminta saya untuk melakukan fasilitasi kepada mahasiswa Papua, yang tidak bisa pulang untuk merayakan Natal. Bahkan saya pernah menjadi ketua panitia dan mengadakan perayaan Natal terbesar,” kata pejabat Pemkot Surabaya asli Serui, Papua ini.
Menurut Fikser, perhatian Pemkot Surabaya kepada warga Papua tidak perlu diragukan lagi. Sudah tak terhitung berapa kali Risma memerintahkan dirinya untuk memberikan pertolongan kepada warga Papua yang ada di Surabaya. “Tak banyak orang yang mengetahui bantuan itu. Tapi saya orang asli Papua sebagai saksinya,” ungkap Bendahara Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) ini. [Zainal Ibad]

Tags: