Libur Lebaran, Kunjungan Wisatawan Membludak di Kabupaten Probolinggo

Wisatawan di Bromo pada libur lebaran 2019 membludak.

(PHRI Kabupaten Probolinggo Keluhkan Hotel dan Restoran Makin Sepi)

Pemkab Probolinggo, Bhirawa
Libur hari raya Idul Fitri membuat tempat wisata di Kabupaten Probolinggo didatangi banyak wisatawan. Bahkan, selama sembilan hari, tanggal 1-9 Juni, kunjungan di tujuh tempat wisata melebih jumlah kunjungan selama sebulan di hari normal. Namun PHRI Kab Probolinggo keluhkan hotel dan restoran makin sepi akibat dibukanya tol baru.
Total, ada 15 ribu wisatawan yang berkunjung ke tujuh tempat wisata di Kabupaten Probolinggo selama libur Lebaran. Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, kunjungan wisatawan paling tinggi ada di Gunung Bromo. Yaitu, 8.228 wisatawan pada tanggal 1-9 Juni.
Dua tempat wisata yang menduduki kunjungan tertinggi di bawahnya adalah Pantai Bentar di Gending, dikunjungi 3.341 wisatawan. Dan Pantai Duta di Paiton, didatangi 2.521 wisatawan (selengkapnya lihat grafis).
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwata Budaya (Dispora Parbud) Kabupaten Probolinggo Sugeng Rabu (12/6) mengatakan, hampir semua tempat wisata di Kabupaten Probolinggo ramai pengunjung selam libur Lebaran. Hingga Selasa (11/6), ada tujuh tempat wisata yang sudah melaporkan jumlah kunjungan wisata selama tanggal 1-9 Juni.
Ada tujuh tempat wisata yang sudah melaporkan jumlah kunjungan selama libur Lebaran. Total kunjungan wisatawan mencapai sekitar 15 ribu lebih di tujuh tempat wisata itu. Angka itu, sama dengan jumlah kunjungan selama sebulan pada bulan Februari, Maret, dan April, katanya.
Sugeng menjelaskan, puncak kunjungan wisatawan terjadi pada Sabtu dan Minggu 8-9/6 atau H+4 dan H+5 Lebaran. Namun, pada H+2 Lebaran mulai tampak peningkatan kunjungan wisatawan. “Kemarin Selasa, 11/6, kunjungan wisatawan di tempat wisata mulai normal atau mulai menurun. Tidak ada kepadatan jumlah kunjungan. Sebab, libur panjang hari raya Idul Fitri sudah usai,” terangnya.
Lebaran tahun ini, lebih sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Inilah yang dirasakan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo. Tingkat okupansi atau hunian hotel menurun. Demikian juga kunjungan ke restoran, ikut menurun. Penurunannya, bahkan sampai 30 persen. Ungkap Ketua PHRI Kabupaten Probolinggo Digdoyo Djamaluddin, Rabu 12/6.
Banyak faktor yang menyebabkan sepinya bisnis hotel dan restoran saat ini. Salah satunya, karena banyak wisatawan yang hanya transit. “Memang sekarang marak wisatawan transit. Jika dibandingkan tahun lalu, lebih ramai kunjungan tahun sebelumnya,” kata Yoyok.
Menurutnya, wisatawan transit sebenarnya masalah lama. Namun, belakangan ini fenomena itu semakin meningkat. Seiring dengan dibukanya beberapa jalan tol baru. Dengan makin mudahnya akses transportasi, menurut Yoyok, wisatawan enggan berlama-lama di satu tempat. Mereka umumnya hanya datang sebentar dan langsung pulang. “Karena jarak tempuh dirasa dekat, jadi wisatawan datang pagi dan langsung pulang sore. Ada juga yang datang malam, menikmati sunrise. Dan paginya pulang tanpa menginap,” ungkapnya.
Hal yang sama menurutnya, dirasakan pengusaha-pengusaha kuliner. Restoran yang dulu ramai karena kunjungan wisatawan tinggi, kini mulai berkurang. “Sama saja kondisinya. Baik restoran di Pantura ataupun di wilayah Gunung Bromo, menurun pengunjungnya,” tandasnya.
Yoyok meminta perhatian pemerintah. Selain itu, menurutnya, harus ada inovasi yang dilakukan para pengusaha. “Kami menyadari memang harus membuat inovasi. Tetapi, kami juga meminta peran serta pemerintah untuk mengatasi masalah ini,” pintanya.
Kepala Bappeda Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan, dalam sebuah kebaruan pasti ada penguatan dan pelemahan. Hal itu wajar terjadi. “Itu mungkin perspektif atau pendapat ya. Dengan adanya jalan tol, harusnya malah bagus. Dengan beberapa exit tol di Probolinggo, kan lebih enak sebenarnya,” ungkapnya.
Namun, pihaknya sejauh ini belum membuat kajian tentang dampak dibukanya jalan tol. Dengan adanya jalan tol itu, yang makin memudahkan akses transportasi, seharusnya PHRI membuat inovasi agar wisatawan tertarik untuk menginap.
“Intinya, setahu kami program stategis nasional itu ingin melancarkan arus trasportasi. Termasuk melancarkan kedatangan wisatawan ke objek wisata. Dengan demikian mestinya itu dampak positif. Tetapi, jika dirasakan negatif, maka harus membuat inovasi. Tetapi, nanti akan kami kaji dampak adanya jalan tol,” tambahnya. [wap]

Tags: