Laka Lantas Turun Hingga 60 Persen

Puncak arus balik Lebaran di Terminal Purabaya, Bungurasih hingga Minggu (9/6) sore masih terlihat sepi di pintu kedatangan masuk Surabaya, namun untuk arus balik menuju ke daerah asal para penumpang sudah mulai nampak ramai. [trie diana]

11 Hari Operasi Ketupat Semeru 2019
Polda Jatim, Bhirawa
Jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) selama Lebaran 2019 di Jatim mengalami penurunan hingga 60%. Itu berdasarkan data analisa dan evaluasi (anev) sebelas hari pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2019 Polda Jatim.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, selama sebelas hari pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2019, mencatat adanya penurunan laka lantas di Jatim. Secara kuantitas, laka lantas di jalur arteri Jatim 2019 turun 58%, dengan 143 laka lantas. Hal itu berbanding dengan jumlah laka lantas 2018 yang mencapai 337 kasus.
“Selama sebelas hari tercatat penurunan laka lantas di jalur arteri Jatim, sebanyak 58 persen. Tahun ini 143 laka lantas, dan 337 laka lantas di tahun lalu,” kata Kombes Pol Frans Barung Mangera, Minggu (9/6).
Sementara laka lantas di jalur tol, sambung Barung, turun sampai 60%. Laka lantas ini, diakui Barung, masih didominasi oleh kendaraan roda dua atau sepeda motor. Tahun ini sebanyak 178 kasus, dan 437 kasus di 2018, sehingga turun 59%. Kedua, masih kata Barung, laka lantas didominasi oleh mobil penumpang. Tahun ini 49 kasus, dan 72 kasus di 2018, menurun 32%.
“Kendaraan roda dua atau sepeda motor masih mendominasi laka lantas di tahun ini. Namun turun 59 persen dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.
Masih kata Barung, sedangkan untuk jenis laka lantas masih didominasi jenis laka depan-samping, yakni 46 kasus di 2019 dan 114 kasus di 2018. Kedua ditempati jenis laka dari depan-depan, yakni 31 kasus di 2019 dan 67 kasus di 2018.
“Tren untuk jenis laka lantas depan-samping masih mendominasi. Tapi juga mengalami penurunan hingga 60 persen,” ucapnya.
Untuk jenis pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan fatalitas korban laka lantas, Barung menambahkan, tidak menggunakan helm SNI menjadi peringkat pertama penyebab laka lantas. Tahun ini sebanyak 881 kasus fatalitas laka lantas akibat tidak memakai helm SNI. Dan jumlah tersebut berkurang dibanding 2018 yang tercatat 1.139 kasus.
Selanjutnya, fatalitas laka lantas disebabkan oleh kasus melawan arus. Tahun ini sebanyak 436 kasus, dan di 2018 sebanyak 481 kasus, menurun 9%. Selanjutanya, disebabkan oleh beban muatan, dimana tahun ini sebanyak 100 kasus dan 166 kasus di 2018.
“Jenis pelanggaran fatalitas korban laka lantas di bawah umur menurun 26 persen. Tahun 2018 sebanyak 753 kasus, dan menurun menjai 554 kasus di tahun ini,” pungkasnya. [bed]

Rate this article!
Tags: