Kurikulum Cerdas untuk Generasi Emas Berkarakter

Oleh:
Khoirun Nisak, S.Pd.
Guru SD TPI Gedangan

Derasnya perubahan yang terjadi di sekitar kita, seakan membenarkan tesis filosof Yunani Hiraklitos yang berbunyi, “Change is the only constant”. Dalam kondisi demikian, sudahkah kita siap dengan segala perubahan yang akan terjadi?
Perubahan ini akan terjadi dalam segala sektor kehidupan manusia, Oleh karena itu, dunia pendidikan dituntut untuk mampu menghasilkan output yang berdaya saing dan siap terhadap segala macam perubahan. Utamanya adalah perubahan yang akan terjadi dalam dunia kerja.
Era digital akan mengubah semua sektor, seiring dengan gaung revolusi industri ke-4. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo telah meresmikan peta jalan dengan Making Indonesia 4.0. Diharapkan dengan ini, nantinya akan mampu menambahkan penyerapan tenaga kerja dan investasi terbesar dalam bidang teknologi.
Belum lama ini, Presiden Joko Widodo juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengelompokkan lima industri utama yang disiapkan untuk Revolusi Industri 4.0. “Lima industry yang jadi fokus implementasi Industri 4.0. di Indonesia yaitu industry makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia,” kata Presiden saat membuka Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pada pekan pertama April 2018. (newsdetik.com, 2/10).
Menanggapi isu utama tersebut dunia pendidikan tidak boleh berpangku tangan. Apalagi hanya berpuas diri dengan nilai kelulusan siswa, yang notabene tidak berdaya maksimal. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa pendidikan karakter juga menjadi PR terbesar yang harus dipikirkan.
Solusi yang harus diwujudkan salah satunya dengan mendesign sebuah kurikulum cerdas yang akan mengantarkan generasi muda kita menjadi pribadi yang berkarakter. Sudah saatnya mengubah mindset. Perubahan dalam kurikulum dunia pendidikan setidaknya memperhatikan pada tiga ranah penting, yaitu demografi, profesi, dan literasi.
Dunia pendidikan dan pengajaran yang tadinya hanya berfokus pada pembelajaran di kelas dan terkondisikan, harus berubah karena di masa yang akan datang, demografi takkan lagi menjadi penting. Pembelajaran bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun diinginkan.
Profesi-profesi tertentu yang dulunya dianggap bergengsi berganti menjadi profesi-profesi baru. Adanya perubahan di bidang teknologi akan memunculkan sejumlah profesi baru semacam youtuber, gamer, olshop, yang sedianya tidak terlalu membutuhkan dunia pendidikan formal untuk menjangkaunya. Inilah yang mengharuskan dunia pendidikan juga harus mengarahkan output pendidikan pada ranah dunia kerja dan tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitifnya saja.
Konsep literasi yang mengkrucut pada literasi membaca dan menulis tidak lagi relevan. Literasi digital akan menjadi konsep penting untuk dikembangkan bagi generasi muda untuk menyongsong era digital yang semakin massive dan tidak terbendung. Ketiga ranah tersebut dapat menjadi acuan untuk perubahan penting dalam kurikulum pendidikan kita. Lalu apakah yang harus dilakukan dalam dunia pendidikan kita saat ini?
Pertama, tidak mengesampingkan prinsip pembelajaran tradisional untuk mengawal pembelajaran di era modern. Konsep pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara tak pernah lekang oleh waktu. Tri Pusat Pendidikan: Keluarga, sekolah, dan lingkungan dibutuhkan untuk saling bersinergi satu sama lain. Meskipun pembelajaran berbasis digital tak bisa dielakkan. Namun, pertemuan antara guru dan siswa tak dapat dimungkiri untuk pembentukan karakternya.
Kedua, Tidak apatis terhadap profesi baru yang menjadi trend di era digital. Bagaimanapun anak-anak juga harus mengenal berbagai macam profesi baru yang bermunculan. Penyeimbangnya ialah mengajarkan mereka untuk bisa selalu berinovasi dengan ciri khas yang dimiliki. Menciptakan sesuatu yang baru dengan ciri khas lebih mampu berdaya saing dalam era revolusi industri 4.0. Berbekal tekad dan semangat pantang menyerah juga penting guna menghadapi segala macam perubahan yang akan terjadi.
Implementasinya melalui pembelajaran autentik dan menggabungkan unsur-unsur pembelajaran abad XXI. Beberapa kemampuan yang harus diajarkan ialah Communication, untuk berkomunikasi secara efektif dan persuasif. Collaboration, untuk bekerjasama dengan tim agar berhasil lebih maksimal. Creativity, menuangkan ide dan gagasan melalui pemikiran kreatifnya, serta Critical Thinking dan Problem Solving, berpikir kritis melalui segala macam kemungkinan yang terjadi di sekitarnya. Hingga memiliki kemampuan memecahkan berbagai persoalan dengan berbagai solusi.
Penggabungan kesemuanya juga harus diimbangi dengan kemampuan guru yang kompeten. Guru harus mengantarkan siswanya menjadi lebih berkarakter dengan keteladanan. Berbagai kemampuan tersebut sedianya harus dimiliki guru terlebih dahulu agar mampu ditularkan kepada siswanya.
Akhirnya, menyongsong generasi emas berkarakter harus melalui sinergi dari berbagai pihak. Semoga Indonesiaku tetap jaya. Majulah Indonesiaku dengan generasi emas berkarakter.

———- *** ———-

Tags: