Kritik Politik, Sosial Budaya dan Agama

Judul : Seorang Lelaki dan Selingkuh
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : Pertama, April 2019
Tebal : 264 halaman
ISBN : 978-602-495-115-3
Peresensi : Ratnani Latifah
Penulis dan penikmat buku asal Jepara

Cerpen selain sebagai prosa naratif yang memberikan hiburan bagi pembaca, ia juga merupakan salah satu media yang digunakan masyarakat dalam melemparkan kritik terhadap berbagai persoalan di sekitar kita-baik itu kritik politik, sosial budaya atau agama. Maka tidak heran kebanyakan cerpen yang dimuat di berbagai media atau buku kumpulan cerpen, banyak tema politik, sosial budaya atau agama yang diangkat dalam cerita.
Begitu pula dengan kumpulan cerpen “Seorang Lelaki dan Selingkuh” karya Afifah Afra. Dengan apik dan menarik, penulis yang sudah menelurkan 61 buku, berhasil menghadirkan kisah-kisah, yang selain penuh dengan kritik membangun, kisah-kisah yang ada juga penuh aroma inspirasi dan pesan-pesan kehidupan.
Seorang Lelaki dan Selingkuh, sebagai cerpen pembuka memaparkan dengan apik tentang potret rumah tangga. Kisah ini sedikit banyak merupakan sindiran bagi kaum lelaki yang terlalu mendewakan rokok, menjadikan rokok selingkuhan, karena disadari atau tidak, ketika seorang suami memiliki kebiasaan merokok, maka jatah uang untuk sang istri otomatis akan dikurangi untuk keperluan merokok. Wied, tokoh sentral dalam cerpen ini, adalah sosok suami yang berusaha menjauhi rokok, demi sang istri. Dia tidak ingin mengecewakan istrinya karena kebiasaan merokoknya.
Maka mati-matian ia mencoba menolak pesona rokok meski berkali-kali godaan itu datang menghadang. Sayangnya balasan Wied tidak sesuai dengan perjuangannya. Ditutup dengan ending tidak terduga, penulis berhasil membuat pembaca geleng-geleng kepala.
Perempuan yang Mencitai Pohoh-pohon, selain mengungkapkan tentang kesedihan wanita-wanita yang ditinggalkan orang yang dikasihi, kisah ini juga mengusung ajakan bagi masyarakat untuk mencintai pohon dengan merawat dan menjaga kelestarian. Tidak hanya itu kisah ini memuat kritik tersirat tentang bagaimanaa anak-anak memperlakukan orangtua, ketika mereka dewasa. Kecil dirawat, dijadikan orang hebat, tapi ketika telah tumbuh dewasa mereka lupa dan bahkan tidak peduli-bahkan untuk meluangkan waktu sejenak hal itu pun sulit untuk dilakukan.
“Nenek itu kehilangan cinta. Cinta telah melewati jalan licin dan tergelincir, lalu terperosok ke dasar jurang dan pecah berkeping-keping. Mungkin cinta itu pun juga menyumblim dari putra-putranya. Meskipun mereka masih selalu rajin mengunjungi sang bunda, bilangan waktunya selelu melewati angka satu bahkan dua purnama, dan mereka tampak selalu tergesa-gesa.” (hal 74).
Membunuh Sang Kyai, salah satu cerpen yang menurut saya sangat menarik dan merupakan gambaran langsung dalam lingkup kehidupan masyarakat masa kini. Membaca kisah ini kita akan menemukan tentang jawaban Islam yang sebenarnya. Bahwa Islam bukanlah agama yang keras. Kebanyakan kyai di masa lalu, mereka selalu melakukan dakwa dengan halus. Mereka merangkul semua orang bahkan ketika orang-orang itu pernah melakukan sesuatu yang kelam di masa lalu. Namun hal itu tidak membuat kyai abai. Karena menurutnya semua orang patut untuk dinasihat dan mendapat petunjuk.
Sayangnya cara itu sudah mulai terkikis. Karena kebanyakan pemuda yang baru paham soal agama, dengan entengnya menerapkan dakwah dengan membabi buta dan bahkan merasa paling benar, menganggap metode lama sebagai kesia-siaan dan tidak ada manfaatnya.
“Sayangnya, anak-anak muda sekarang jarang yang memiliki kesabaran dan kelembutan seperti sang Kyai. Mereka berdakwah dengan tergesa-gesa, membabi buta. Mengajak orang bertaubat dengan menusuk harga dirinya sendiri, berdebat di sana-sini. Memaksa kebenaran atas penafsiran mereka sendiri.” (hal 126).
Masih ada kurang lebih 18 cerpen yang akan membuat kita terperangah, tersudut, tersindiri dan berbagai kecamuk perasaan lainnya. Karena sedikit banyak hampir semua cerpen yang ada di sini memang sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya cerpen bertajul Fardhu Kifayah, Perang Doa, Pesta Kematian, Sampah, Sandal Jepit Walikota dan banyak lagi. Secara keseluruhan kumpulan cerpen ini patut dibaca dan diapresiasi oleh para penikmat buku. Meski ada beberapa bahasa penulis dan alur cerita yang terlalu halus, namun hal itu tidak mengurangi keseruan cerita.
———– *** ————

Tags: