KPU Jatim Minta Relawan Ikut Awasi Pilkada

Kepala Bakesbangpol Jatim Drs Ec Jonathan Jodhianto, MT saat membuka acara kegiatan Peningkatan Partisipasi Politik dan Penguatan Kelembagaan Demokrasi di Hotel Singgasana, Surabaya.

Surabaya, Bhirawa
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur Choirul Anam berharap dalam Pilkada serentak di Jatim 23 Sepetember 2020 tahun depan akan banyak relawan demokrasi yang berpartisipasi dalam pengawasan Pilkada.
Harapan itu disampaikan kepada Bhirawa di sela-sela acara kegiatan Peningkatan Partisipasi Politik dan Penguatan Kelembagaan Demokrasi di Hotel Singgasana, Kamis (12/9) Kemarin.
Dalam ajang yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim tersebut, Choirul anam mengaku dalam pelaksanaan Pemilu serentak sebelumnya ataupun dalam Pilgub Jatim lalu, sangat minim partisipasi para relawan dalam pengawsan Pemilu.
“Saya berharap dalam pilkada tahun depan para relawan pengawasan akan bergairah lagi untuk melakukan pengawasan,” jelasnya. Ditanyakan soal angka partisipasi politik dalam Pilkada tahun depan, Choirul Anam mengaku berharap akan ada peningkatan. Namun harus diakui, untuk mencapai angka partisipasi politik yang lebih meningkat akan berat.
“Harus diakui momentum Pilkada yang berbarengan dengan Pilpres kemarin membuat angka partisipasi politik ikut terdongkrak,” jelasnya. Namun secara jujur, Choirul Anam mengakui bahwa tingginya angka partispasi politik dalam Pilkada serentah sebelumnya dinilainya agak ‘bermasalah’.
“Harus diakui bahwa minat warga ke TPS bukan karena kesadaran politik, tetapi juga karena provokasi dan mobilisasi yang sesungguhnya tidak sehat bagi demokrasi,” jelas Choirul Anam. Menurut Anam, melonjaknya angka partisiapsi bisa jadi juga karena banyaknya hoaks yang ikut memaksa warga untuk datang ke TPS.
Pendapat yang sama juga disampaikan pakar politik Universitas Airlangga (Unair) Prof Hotman Siahaan. Menurut Hotman, rasanya akan sulit untuk mempertahankan angka partisipasi seperti pada Pilkada sebelumnya.
“Terlalu banyak factor yang ikut mendongkrak angka partisipasi. Jadi jangan dipikir orang ke TPS karena kesadaran, tetapi juga karena ketakutan dan provokasi yang tidak sehat,”jelas Hotman lagi.
Dalam kesempatan tersebut, Hotmat juga menyarankan untuk para penyelenggaran Pemilu melakukan pendekatan kepada para masyarakat dengan mempertimbangan basis budaya setempat.
“Butuh strategi yang tepat untuk melakukan sosialisasi agar menarik masyarakat untuk hadir dalam Pilkada tahun depan,” kata Hotman lagi.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Jatim Drs Ec Jonathan Jodhianto, MT mengingatkan agar para penyelenggara Pemilu melakukan identifiaksi dan antipasi terhadap kemingkina terjadinya gangguan dan ancaman bagi penyelenggaraan Pilkada.
“Jawa Timur banyak memiliki pengalaman panjang terkait penyelenggaraan Pilkada. Saya berharap gangguan dan kendala yang terjadi sebelumnya bisa jadi pelajaran yang berharga,” jelas Jonatahn.
Beberapa kerawanan tersebut misalnya terkait jaminan penyelenggaran Pilkada yang jujur dan adil.
“Pemilu yang jujur dan adil adalah amanah konstitusi, sehingga semua pihak harus ikut mewujudkannya,” kat Jonatan lagi. Selain itu, penyelenggara pemilu juga harus memastikan agar semua pemilik suara difasilitasi sehingga bisa memberika hak suaranya.
“Jangan biarkan ada warga yang tidak bisa memberikan suaranya karena penyelenggara yang tidak profesional,” tegas mantan PJ Bupati di Sidoarjo dan Sampang ini. [why]

Tags: