Kopi Karanganjar Blitar Bisa Geser Kopi Braszil dan Amerika

Anggota Komisi B Chusainuddin pojok kiri bersama Wakil ketua Komisi B, Nugroho saat meninjau pertanian kopi di Blitar.

DPRD Jatim, Bhirawa
Peluang ekspor kopi dari Jatim dinilai sangat prospektif. Bahkan, berpotensi menggeser pengekspor kopi tradisional seperti Brazil dan Amerika. Oleh sebab itu, Komisi B DPRD Jatim meminta dan berharap kepada pemerintah provinsi memberikan perhatian kepada petani kopi. Mengingat produk andalan pertanian dan perkebunan kopi di wilayah Blitar sat ini melimpah.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, SW Nugroho mengatakan bahwa potensi ekspor kopi sangat prospektif. Jikalau kualitas bisa dijaga bisa menggeser pengekspor kopi tradisional seperti Brazil dan Amerika Tengah lainnya.
“Pemprov hendaknya mampu memfasilitasi, baik dari sisi hulu seperti bibit dan juga peralatannya. Dan juga hilirnya seperti pemasaran hingga permodalannya,” katanya kepada Bhirawa, Rabu (12/6) kemarin usai turun langsung untuk mengetahui keluhan para petani di Karanganjar Koffeplantage Blitar yang dikenal sebagai sentra perkebunan kopi ini.
Politisi asal Fraksi PDIP Jatim ini menjelaskan, pihaknya sangat menghargai pengelola kebun kopi Karanganjar Blitar. Sebab, perkebunan kopi tersebut mampu memelihara dengan baik legacy (warisan) perkebunan dari sejak zaman Belanda tersebut.
Nugroho berharap, potensi perekonomian dari sektor perkebunan ini bisa ditingkatkan dengan cara campur tangan pemerintah melalui pinjaman dana bergulir dengan bunga rendah. “Pemprov Jatim sebenarnya sudah memberikan pinjaman dana bergulir dengan bunga 6 persen pertahun. Tapi itu dianggap masih terlalu besar dan memberatkan petani,” terangnya.
Ironisnya lagi, sesuai ketentuan otoritas jasa keuangan (OJK) batas minimum bunga pinjaman dana bergulir adalah 6 persen pertahun. “Artinya, kalau merubah ketentuan bunga dana pinjaman ya perlu dukungan DPR dan pemerintah pusat melalui OJK,” pungkasnya.
Pada kesempatan sama, Anggota DPRD Jatim Chusainuddin mengatakan bahwa perkebunan kopi Karanganjar Blitar sudah melakukan peremajaan tanaman kopi sejak beberapa tahun lalu. Namun kebun peremajaan itu belum berproduksi alias belum bisa dipanen, sehingga yang bisa dipanen saat ini hanya tanaman kopi yang sudah lama.
Lebih jauh, politisi asal fraksi PKB itu menjelaskan bahwa kualitas kopi nusantara sudah dikenal oleh dunia karena paling bangus. Sayangnya, hanya karena masih tingginya pajak ekspor sehingga produk kopi nusantara kalah bersaing dengan negara-negara dari benua Amerika.
“Mereka butuh campur tangan pemerintah untuk ikut mempromosikan ke pasar luar negeri dan kebijakan tarif pajak ekspor yang tak terlalu memberatkan agar bisa bersaing dengan kopi dari negara-negara lain,” ujarnya.
Akibat tingginya pajak ekspor, lanjut mengatakan perusahaan kopi di Jatim terpaksa hanya melayani ekspor pesanan pribadi via online. “Kualitasnya sudah bagus tapi target eksport tak sesuai harapan karena minimnya promo ke pasar luar negeri,” paparnya politisi asal Tulungagung ini. [geh]

Tags: