Kodam V Brawijaya Tegaskan Anggota Yonarhanudse-8/Sriti Tak Keracunan

Kapendam V Brawijaya, Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto dalam jumpa pers di RSUD Soewandhie, Jumat (17/5). [Abednego/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Beredarnya kabar di media sosial terkait anggota Kodam V Brawijaya dari Satuan Yonarhanudse-8/Sriti yang mengalami keracunan ketika melakukan pengamanan kotak suara Pemilu. Hal itu dibantah oleh Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) V Brawijaya, Kolonel Inf Singgih Pambudi Arinto.
Singgih mengatakan,jl hasil pemeriksaan tim medis tidak ditemukan gejala-gejala adanya keracunan makanan di dalam tubuh Praka Yudha Agnie. “Berita (kabar) itu tidak benar. Dari hasil pemeriksaan dari tim dokter RSUD Soewandhie, tidak menunjukkan kalau yang bersangkutan itu keracunan,” kata Kolonel Inf Singgih Pambudi Atinto saat jumpa pers di RSUD Soewandhie, Jumat (17/5).
Singgih menjelaskan, beberapa fakta membuktikan ketika tim Kesehatan Kodam bersama tim kesehatan RSUD setempat melakukan pengecekan terhadap makanan yang saat itu dijadikan santap sahur oleh pasukan BKO tersebut. Saat itu ada satu Peleton anggota Kodam yang melaksanakan BKO disana. Mereka juga makan bersama dan sahur bersama. Bahkan anggota yang lainnya tidak ada yang mengalami gejala seperti itu.
“Hasil pemeriksaan laboratorium oleh Detasemen Kesehatan Kodam, sisa makanan Praka Yudha tidak menunjukkan adanya kandungan (zat) berbahaya,” jelasnya.
Terkait beredarnya informasi tersebut, Singgih menghimbau seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi suatu berita maupun informasi yang belum diketahui kebenarannya (hoaks). Pihaknya juga mengaku hal ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. “Masyarakat diminta untuk ‘Saring sebelum Sharing’. Sehingga tidak dengan mudahnya menyebarkan berita yang tidak diyakini kebenarannya,” imbaunya.
Sementara itu Dr Hamim mengatakan, jika observasi terhadap Praka Yudha, masih terus dilakukan. “Dari gejala klinis yang ada, kesadaran pasien sudah pulih dan kondisi yang semakin membaik. Bisa berkomunikasi, sampai saat ini, tidak ditemukan tanda-tanda yang mendukung gejala suatu proses keracunan,” ungkapnya.
Diduga, sambung Hamin, penyebab pendarahan di dalam otak adalah pecahnya ANEURYSMA atau kelainan tipisnya dinding pembuluh darah. “Proses perawatan akan dilakukan sekitar 2 hingga 3 minggu,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolresta Tanjung Perak, AKBP Antonius Agus Rahmanto menambahkan, jika Ops Mantab Brata antara TNI dan Polri masih berlangsung di wilayah tugasnya.
Bahkan, Agus mengapresiasi pengiriman bantuan personel TNI oleh Kodam V/Brawijaya dalam melaksanakan pengamanan Pemilu. Pihaknya kembali menegaskan kepada masyarakat untuk tidak serta merta menyebarkan berbagai informasi maupun berita yang belum diketahui kebenarannya (hoax). “Peraturannya sudah jelas, dan tertera di dalam UU ITE,” pungkasnya.
Turut hadir dalam jumpa pers, diantaranya Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Sandy Nugroho ; Kapolres KP3 Tanjung Perak, AKBP Antonius Agus Rahmanto ; Dandim 0831/Surabaya Timur, Letkol Inf La Ode Muhammad Nurdin, serta Dr. Hamim. SpBS, dan Dr. Yudit, SpS. tim dokter dari RSUD Soewandhie. [bed]

Tags: