Kisah Aladin, Pembuat Kail Pancing dari Plastik

Aladin, saat membuat kail pancing dari mika plastik di rumahnya yang sederhana di Desa Kilensari, Panarukan, Situbondo. [sawawi]

Dikenal Luas Diberbagai Daerah, Sehari Bisa Merauh Keuntungan Rp300 Ribu
Kab Situbondo, Bhirawa
Dikala musim panen ikan sedang paceklik, tak membuat Aladin, lelaki paro baya asal Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo kebingungan mencari pekerjaan lain. Ini karena Aladin sejak lama sudah memiliki kerja sampingan yakni membuat kerajinan kail pancing ikan yang berbahan baku dari mika plastik. Bagaimana ceritanya ?
Pagi itu sekitar pukul 09.00 wib, Aladin tidak melaut. Rupanya pria yang sudah berumur lebih 50 tahun itu sedang membuat kail pancing ikan di rumahnya. Agar mudah dikenal masyarakat dan pelanggannya, Aladin mengaku barang tersebut diberi nama ‘udang-udangan’. Awalnya bahan yang dipakai Aladin dari sebuah kayu karena untuk membuat dari bahan plastik belum cukup dana. “Ya pertama saya membuat dari bahan kayu karena saat itu belum punya modal,” ujarnya.
Aladin mengaku, belajar cara membuat alat umpan ikan itu secara otodidak. Yakni dengan melakukan penelitian sendiri. Awalnya Aladin membeli udang-udangan di toko kemudian diteliti dan mencoba membuat sendiri. Ternyata setelah cukup lama membuat kail tidaklah terlalu rumit. Hanya saja, ketika awal membuat, bahan yang digunakan bukanlah plastik melainkan kayu.
“Setelah beberapa bulan, saya mulai berubah fikirkan untuk mencoba bahan baku dari mika plastik. Sebab selain lebih efisien, proses pembuatannya juga tidak terlalu sulit. Alhamdulillah, kini sudah cukup banyak orang yang membelinya,” ungkapnya.
Kata Aladin, untuk menjual kail udang-udangan tersebut ia lepas seharga Rp10 ribu. Jika sudah memasuki Maret-Mei, peminat kail udang-udangannya mulai membanjiri. Bahkan penghasilannya bisa mencapai Rp200 hingga Rp300 ribu perharinya. Sebab, bulan-bulan tersebut merupakan musim panen kemunculan ikan termasuk ikan cumi.
“Jadi sangat banyak yang membeli kail udang-udangan untuk menangkap cumi. Kalau selain bulan itu, saya juga buat udang-udangan namun tidak banyak. Sebaliknya diluar bulan itu waktu saya banyak dihabiskan mencari ikan di tengah laut,” bebernya.
Selain melaut, Aladin menilai, dengan melakoni kerajinan membuat kail sebagai upaya dalam mendapatkan uang. Sejak saat ini rumah Aladin kerap kali mulai kebanjiran pelanggan pembeli kail ikan. Tempat tinggal Aladin cukup sederhana. Ruang tidurnya pun tak terlalu besar karena hanya berukuran sekitar 3 x 4 meter.
Namun, tak disangka, selain digunakan untuk tidur, ruangan tersebut juga merupakan ruang kerja Aladin. Di tempat itulah, Aladin menghasilkan ratusan alat pancing cumi. “Sekarang ini, pembeli tidak hanya para nelayan di sekitar rumah, melainkan sudah sampai ke Desa lain dan bahkan sebagian berasal dari beberapa daerah di Jatim,” sebut Aladin.
Saat didatangi ke rumahnya, Aladin tengah sibuk menghaluskan udang-undangan yang masih belum dipasangi kail. Di depan Aladin juga terdapat banyak pilihan kail udang-undangan yang sudah jadi. Disimpan dalam sebuah tempat khusus mirip kaleng. Yang mengejutkan, alat yang digunakan untuk membuat kail udang-undangan juga merupakan hasil rakitan Aladin.
Ada banyak alat yang diakui Aladin bisa mendukung pembuatan kail ikan diantaranya sebuah mesin gerinda yang juga berfungsi sebagai penghalus kail undang-undangan. “Saya rakit sendiri dari mesin jahit yang sudah tidak dipakai. Kail untuk udang-udangan ini juga saya buat sendiri dari bahan kawat yang sebelumnya sudah ditajamkan ujungnya dan dibengkokkan. Semua ini merupkan murni karya tangan saya sendiri,” papar Aladin.
Tetangga Aladin, Sutomo menimpali proses pembuatan kail udang-udangan yang ditekuni Aladin awalnya sepi. Namun, urai Sutomo, seiring berjalannya waktu usaha kerajinan Aladin mulai ada pelanggan hingga beredar luas ke berbagai daerah di Jatim.
Kata Sutomo, bahan utama yang dibutuhkan Aladin tidak lah terlalu sulit karena cukup dari bahan baku plastik mika. “Plastik mikanya bisa beli atau mencari plastik bekas. Tetapi harus ada dua warna dan warna itu bebas apa saja. Namun salah satunya harus bening, sehingga kalau dilihat hasilnya lebih menarik,” ucapnya.
Sutomo melanjutkan, dari mika-mika tersebut dipotong bulat memanjang menyerupai bentuk udang. Lantas, potongan mika berwarna diletakkan di tengah-tengah sebanyak satu buah. Sementara sisi kanan dan kirinya diberikan mika bening. Untuk mika bening, tegas Sutomo, masing-masing sisi kanan atau kiri disiapkan sebanyak empat buah. “Jadi dengan warna yang bening sudah ada sembilan mika. Semua itu kemudian diikat dengan menggunakan lem perekat,” ungkap Sutomo.
Baru setelah didiamkan beberapa saat lamanya dan sudah tertempel dengan kuat, mika tersebut kemudian dihaluskan dan dibentuk menyerupai kail udang dengan menggunakan gerinda. “Nah jadilah udang-udangan. Setelah itu kita hanya tinggal memasang kawat yang sudah ditajamkan sebagai kailnya. Tetapi jangan sampai lupa, pada kail udang-udangan tersebut harus juga ditempeli timah sebagai pemberat,” pungkas Sutomo seraya mengaku kail sudah siap dipajang di depan rumah Aladin. [sawawi]

Tags: