KH Wahab Hasbullah, Inisiator dan Pendiri NU

Makam KH Wahab Hasbullah, inisiator dan pendiri NU serta pahlawan nasional di Kompleks makam keluarga Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Sabtu (18/05). [Arif Yulianto]

Dikenal Sebagai Ulama, Pedagang, Ahli Kanuragan dan Seniman
Jombang, Bhirawa
Sosok KH Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) dikenal sebagai seorang ulama inisiator dan salah satu pendiri organisasi islam terbesar di Indonesia yakni, Nahdlatul Ulama (NU). Mbah Wahab lahir di Jombang pada tanggal 31 Maret 1888 dan wafat pada tanggal 29 Desember 1971. Makam Mbah Wahab berada di Kompleks makam keluarga Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Oleh pemerintah, KH Wahab Hasbullah diberikan anugerah sebagai pahlawan nasional.
Sejarah juga mencatat, KH Wahab Hasbullah pernah memimpin Komite Hijaz pada tahun 1926. Komite Hijaz merupakan kepanitiaan kecil yang bertugas menemui Raja Ibnu Sa’ud di Hijaz (Arab Saudi) untuk menyampaikan lima permohonan. Komite Hijaz yang merupakan respon terhadap perkembangan dunia internasional, menjadi faktor terpenting didirikannya organisasi NU. Berkat kegigihan para Kyai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah diterima oleh Raja Ibnu Sa’ud.
Menurut KH Hasib Wahab (Gus Hasib) salah seorang putra Mbah Wahab, ayahnya merupakan seorang ulama yang bisa disebut komplit karena selain ahli di bidang ilmu agama, Mbah Wahab juga memiliki ilmu kanuragan, seorang pedagang, dan juga memiliki jiwa seni yang tinggi.
Dalam hal kecintaannya pada seni ini dibuktikan dengan mendirikan Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) pada tahun 1959. Mbah Wahab juga menciptakan lagu Yaa Lal Wathan atau Syubbanul Wathan (Pemuda cinta tanah air) pada tahun 1934. Lagu bernuansa cinta tanah air ini sangat terkenal hingga saat ini.
“Disamping alim dalam ilmu agama, beliau (Mbah Wahab) juga punya ilmu kanuragan, kesaktian, beliau miliki. Selain itu, beliau juga seorang pedagang,” tutur Gus Hasib.
Dijelaskannya, dalam hal berdagang, Mbah Wahab pernah membawa beras dari daerah untuk kemudian di jual di Surabaya. Mbah Wahab juga disebut Gus Hasib pernah mendirikan koperasi pada masa penjajahan Belanda. “Ulama juga pengusaha, ulama juga pedagang,” tandas Gus Hasib.
Menyuplik istilah yang pernah di sampaikan KH Tolchah Hasan, Gus Hasib mengatakan, Mbah Wahab merupakan seorang ulama yang kreatif. Seperti diketahui, Mbah Wahab adalah salah satu pendiri NU pada tahun 1926. Sebelumnya, pada tahun 1916, Mbah Wahab pernah mendirikan organisasi pemuda islam yang bernama Nahdlatul Wathan.
“Sehingga beliau ini mempunyai gagasan mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama. Itu gagasan murni dari Mbah Wahab, adapun waktu deklarasi mendirikan NU, KH Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang disegani baik oleh kawan maupun lawan, baik oleh penjajah maupun kaum muslimin, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini guru juga dari Mbah Wahab dan teman-temannya sehingga, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada waktu pertama NU berdiri, beliau diberikan jabatan Ro’is Akbar Syuriah NU,” beber Gus Hasib.
Jabatan Rois Akbar Syuriah NU yang disandang oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini kemudian lanjut Gus Hasib, merupakan jabatan yang pertama dan terakhir. Dalam arti, setelah Mbah Hasyim, tidak ada lagi jabatan Rois Akbar Syuriah di NU.
“Pada tahun 1947, KH Hasyim Asy’ari berpulang, langsung muktamar NU mengangkat Kyai Wahab, waktu itu Kyai Wahab jabatannya Chatib A’am (Sekretaris Umum) NU. Kyai Wahab diminta untuk mengisi jabatan Kyai Hasyim, namun beliau tidak bersedia,” ulasnya.
Alasan KH Wahab Hasbullah menolak, kata Gus Hasib, karena jabatan Rois Akbar Syuriah NU adalah jabatan khusus yang merupakan bentuk penghormatan kepada KH Hasyim Asy’ari.
“Beliau (Mbah Wahab) mau kalau Ro’is Aam, di sinilah pergantian istilah. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari diberikan penghargaan dengan sebutan Ro’is Akbar, pertama dan terakhir, karena beliau saat itu Kyai yang paling sepuh, Kyai yang paling dituakan oleh para Kyai. Akhirnya Kyai Wahab menerima sebagai Ro’is Aam,” pungkas Gus Hasib. [Arif Yulianto]

Tags: