Keringanan Tarif Tol

Foto Ilustrasi

Jalan (tol) trans Jawa, telah terbentang sambung sepanjang 933 kilometer, sudah memiliki tarif. Namun pada beberapa ruas (yang baru diresmikan) dipagu mahal. Dikhawatirkan tidak memenuhi tujuan mengurangi kemacetan di ruas jalan negara yang dibangun Daendels. Angkutan barang dengan kendaraan besar bergandar empat (dan lima) harus meng-kalkulasi cermat. Juga berbagai insiden di jalan tol yang lambat tertangani.
Jalan tol seharusnya menjadi pilihan lalulintas darat. Terutama kendaraan golongan III, IV, dan V, yang terasa tak elok melintas di jalan negara. Berbaur dengan berbagai kendaraan bermotor, termasuk sepeda motor. Juga alat angkut lain yang tak bermotor. Kenyataannya, armada angkutan barang (golongan III, IV dan V) lebih memilih lewat “bawah.” Sangat jarang truk besar melaju di jalan tol. Kecuali kendaraan besar milik perusahaan BUMN.
Tarif jalan tol Jakarta ke Surabaya (dan sebaliknya) mencapai Rp 750 ribu, untuk golongan I. Untuk kendaraan bergandar besar (golongan III, IV, dan V), ongkos tarif yang dikeluarkan akan lebih dari Rp 2,5 juta. Walau waktu tempuh bagai melesat sampai separuh lama perjalanan. Jarak tempuh Jakarta ke Surabaya, untuk golongan satu bisa mencapai 6,5 jam (sudah termasuk dua kali istirahat). Sedangkan kendaraan gandar 3, 4, dan 5, juga menempu waktu tempuh lebih singkat.
Waktu tempuh yang singkat, akan menjadi faktor peningkatan produktifitas jasa distribusi (dan logistik). Tetapi biaya perjalanan menjadi faktor utama angkutan barang. Sehingga biaya tol juga menjadi kalkulasi seksama. Diperhitungkan dengan penggunaan bahan bakar. Hanya pada kondisi terpaksa (hujan dan dampak banjir), serta macet, jalan tol akan menjadi pilihan terakhir.
Presiden Jokowi telah merespons keberatan kalangan penyedia jasa distribusi dan logistik. Terutama kalangan Organda (Organisasi Angkutan Darat) dengan armada truk besar, kategori golongan IV, dan V. Namun ternyata, menurunkan tarif tol tidak semau-gue, melainkan juga harus mempertimbangkan iklim investasi infratsruktur jalan berbayar.
BUMN (Badan Usaha Milik Negara) juga merespons keberatan masyarakat terhadap tarif tol yang baru ditetapkan awal pekan ini. Antara lain, dengan memberi diskon sebesar 15% untuk seluruh jenis kendaraan (golongan I sampai golongan V). Bahkan khusus kendaraan golongan III, IV, dan V, diberi tambahan kemurahan lain. Yakni, golongan III hanya membayar tarif harga golongan II. Sedangkan golongan IV, dan V, membayar tarif seharga golongan III.
Berdasar UU Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan, jalan tol merupakan jaringan umum lintas alternatif. Pada pasal 48 ayat (1), dinyatakan, “Tarif tol dihitung berdasarkan kemampuan bayar pengguna jalan, besar keuntungan biaya operasi kendaraan, dan kelayakan investasi.” Terdapat frasa kata kemampuan bayar pengguna jalan. Artinya, tidak mahal. Sehingga pemerintah (melalui Badan Pengelola Jalan Tol) bisa menghitung tarif jalan tol yang terasa mahal.
Mahalnya tarif tol, disebabkan investasi yang lebih mahal. Terutama harga lahan yang dibebaskan, niscaya lebih mahal dibanding harga lahan 10 tahun lalu. Bahkan rata-rata peningkatan harga lahan bisa mencapai 50% per-tahun. Begitu pula harga bahan bangunan jalan tol, aspal, dan besi beton, naik signifikan tiap tahun. Juga upah pekerja, tukang, mandor, naik seiring UMR (Upah Minimum Regional).
Tetapi jalan tol bertarif mahal, terbukti tidak diminati. Maka penurunan tarif wajib ditempuh, sekaligus “mengamankan” investasi jalan tol. Manakala tarif sesuai batas ke-sanggup-an, niscaya akan laris manis. Titik impas investasi dan keuntungan bisa tercapai lebih cepat. Pemerintah juga bisa membangun jalan tol lebih banyak.

——— 000 ———

Rate this article!
Keringanan Tarif Tol,5 / 5 ( 1votes )
Tags: