Kemenkumham Upayakan Layanan Rehabilitasi bagi WBP Kasus Narkoba

Jajaran UPT Pemasyarakatan jajaran Kemenkumkam Jatim mengikuti konsultasi teknis petunjuk pelaksanaan layanan rehabilitasi narkoba bagi WBP, Rabu (13/3). [abednego/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Jatim terus meningkatkan pelayanan sosial bagi WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) penyalahguna narkoba.
Peningkatan kegiatan rehabilitasi medis dan sosial di Lapas dan Rutan di Jatim ini diakui Kepala Kanwil (Kakanwil) Kemenkumham Jatim Susy Susilawati sebagai bentuk kepedulian bagi WBP penyalahguna narkoba.
Susy mengatakan, di Jatim baru ada empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang aktif melakukan kegiatan rehabilitasi WBP penyalahguna narkoba. Empat UPT Pemasyarakatan ini, yaitu Lapas Pemuda Madiun, Lapas Perempuan Malang, Lapas Narkotika Pamekasan dan Lapas Kelas IIA Pamekasan.
Upaya peningkatan layanan ini, sambung Susy, dilakukan Kemenkumham Jatim dengan kegiatan konsultasi teknis sosialisasi petunjuk pelaksanaan layanan rehabilitas narkoba bagi WBP, Rabu (13/3).
“Kegiatan ini sangat penting. Terutama dalam menyamakan standar pelayanan rehabilitasi bagi WBP penyalahguna narkoba,” kata Susy Susilawati.
Susy menjelaskan, kegiatan tersebut diselenggarakan Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jatim yang diwakili Kabid Pembinaan, Bimbingan dan Teknologi Informasi Saifur Rachman. Sedangkan pemateri konsultasi teknis, yakni Kasi Rehabilitasi Ketergantungan Napza Ditjen Pemasyarakatan Hendra Wahyudi dan Titisari dari Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jatim.
Selama ini, diakui Susy, tidak ada aturan baku pelaksanaan rehabilitasi. Tidak ada acuan jelas. Sehingga tergantung dari UPT masing-masing. Menurut Susy, hasil dari konsultasi teknis ini pelaksanaannya akan diseragamkan sesuai pedoman yang dikeluarkan Ditjen Pemasyarakatan.
Susy menambahkan saat ini ada 27.508 penghuni Lapas/ Rutan. Dari jumlah itu, sekitar 14.700 orang atau WBP terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Dengan porsi, 60% adalah bandar dan pengedar, sedangkan sisanya hanya pemakai.
“Jangka pendek ini, sasaran rehabilitasi ini akan kita lakukan kepada WBP yang masuk golongan sebagai pemakai dulu,” ucapnya.
Sebagai bentuk pembinaan yang dilakukan pihak Lapas/ Rutan, Susy berharap bentuk pembinaan lain juga dimaksimalkan. Terutama yang bisa mendukung suksesnya rehabilitasi. Seperti pembinaan kerohanian.
“Sebelumnya kita sudah punya program pembinaan berbasis pesantren, kita tingkatkan itu agar semakin baik hasilnya,” pungkasnya. [bed]

Tags: