Kemendikbud Minta Dinas Pendidikan Evaluasi Jurusan

Foto: ilustrasi

Penyebabnya Ada Sebanyak 2.100 SMK Minim Peminat
Surabaya, Bhirawa
Pendidikan vokasi menjadi program prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui SMK, pemerintah membuat program bersama industri untuk meningkatkan skill individu siswa yang sesuai dengan kebutuhan industri. Sayangnya, masih banyak jurusan yang sepi peminat. Ini karena, sejumlah jurusan tidak lagi dibutuhkan oleh industri. Seperti jurusan administrasi perkantoran yang tidak diperlukan di SMK.
Oleh karena itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad mengatakan jika Dinas Pendidikan di setiap wilayah harus melakukan evaluasi jurusan. Sehingga jurusan yang tidak ada peminat dan pasarannya bisa ditutup dan diganti dengan jurusan yang memungkinkan siswa bisa dengan mudah mencari pekerjaan.
Di sisi lain, berdasarkan data yang diterima Kemendikbud, Hamid Muhammad juga mengungkapkan jika secraa nasional ada sekitar 14.000 SMK yang sepi peminat. Dari jumlah itu sebanyak 6.000 SMK tidak sehat. Artinya, terdapat jumlah siswa yang sangat kecil. Bahkan sekitar 2.100 SMK siswanya tidak sampai 60 orang.
“Bayangkan ada 60 anak ini dengan enam jurusan. Berarti kan satu sekolah hanya ada 10 anak per jurusannya,” ungkap dia.
Oleh karena itu, pihaknya telah menginstruksikan Dinas Pendidikan di setiap wilayah untuk mulai melakukan penataan dan pemetaan kelembagaan SMK. Apalagi, dari hasil data Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran terbuka banyak disumbang oleh lulusan SMK. Padahal, mereka disiapkan untuk terjun di dunia kerja.
“Kami juga meminta agar sekolah sudah mulai refokusing pada bidang yang selama ini ditekuni sebagai corebisnisnya. Jangan dicampur bidang jurusan ada kesehatan, bisnis dan teknik yang campur di satu SMK. Sekolah harus punya keunggulan dan beda,” papar dia.

Sosialisasikan Peluang Jurusan SMK
Minimnya peminat di beberapa jurusa SMK, juga terjadi di Jawa Timur setiap tahunnya. Bahkan menurut Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Saiful Rachman, sebagian SMK di wilayah pinggiran hanya mendapatkan siswa yang cukup minim. Hanya saja, prosentase jumlahnya berkisar 10 persen dari seluruh SMK di Jawa Timur.
Diungkapkan Saiful minimnya peminatan jurusan biasanya terjadi karena eksistensi sekolah yang diragukan oleh masyarakat. Apalagi jika kepala sekolah tidak proaktif ditambah kualitas yayasan yang tidak mendukung. “Makanya kami juga terus membina yayasan terkait perkembangan sekolah-sekolah swasta yang biasanya minim peminat,” katanya.
Namun, dikatakan Saiful jika kementrian sudah memperingatkan sekolah yang minim jumlah siswanya dalam satu sekolah. Pasalnya, jika jumlah siswa terlalu minim, maka Data Pokok Pendidikan (Dapodik) akan di warning dan tidak dapat menerima bantuan operasional seperti BOS.
Kendati begitu, terkait jurusan SMK di Jatim menurut dia sudah dirumuskan dan disesuaikan dengan kebutuhan industri. Hanya saja, butuh sosialisasi ke masyarakat terkait peluan kerjanya yang luas.
“Jurusan-jurusan yang sepi peminat tidak semuanya memang tidak ada prospeknya. Seperti jurusan bangunan yang sebenarnya mempunyai prospek bagus. Karena di luar negeri kompetensinya justru lebih spesifik pada teknik bangunan. Ini peluang bagus jika tidak ada tenaga SMK akan diisi tenaga asing jadinya,” ujar dia.
Dijelaskan Saiful, banyak jurusan yang sepi peminat juga telah dialihkan ke jurusan lain yang mungkin masih dianggap ramai. Seperti jurusan sipil, bangunan dan lainnya. Akan tetapi, jurusan tersebut tidak menarik bagi siswa. Di sisi lain justru berpeluang besar untuk menyerap tenaga lulusan. “Seperti jurusan bangunan ini kan banyak dialihkan ke gambar bangunan padahal teknik bangunan banyak sekali peluangnya. Tapi ini banyak yang belum tahu,” jelas dia.
Tidak hanya sekolah swasta, rupanya jurusan minim peminat juga dialami SMK negeri. Seperti jurusan Pedalangan yang ada di SMKN 12 Surabaya yang beberaoa tahun lalu siswanya hanya berjumlah tujuh orang. Kepala SMKN 12 Surabaya, Biwara Sakti Pracihara mengatakan jika jurusan Dalang masih bisa bertahan karena satu-satunya di Jawa Timur. sehingga pihak sekolah terus melakukan kerjasama dengan dalang di daerah untuk tempat magang.
“Disana (daerah) mesti ada siswa tampil ndalang disaksikan warga di daerah. Makanya orang daerah minat. Apalagi di SMK tidak ada zonasi karena kami satu-satunya sekolah seni. Jadi secara bertahap siswa jurusan Dalang kami bertambah,” kata dia. [ina]

Tags: