Kembalikan Kebahagiaan Masa Kecil Mereka

Judul: Pengembangan Alat Permainan Edukatif Anak Usia Dini
Penulis: Dr. Sigit Purnama, dkk
Penerbit: Rosda, Bandung
Cetakan: Februari, 2019
Tebal: 183 halaman
ISBN: 978-602-446-318-2
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih

Sibak halaman 116 pada buku tersebut. Buku yang dibidani tiga penulis penekun studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) itu, membabar filosofi-pragmatis Alat Permainan Edukatif (APE). Sampai halaman 121, pembaca lekas teringat momentum Ramadan. Buku berobjek untuk para bocah ini memberikan perspektif berbeda cara berfaedah mengisi Ramadan khusus bocah. Bocah-bocah perlu mendapat perhatian setara dengan orang dewasa dalam belajar agama di bulan puasa.
Orangtua dan guru, dua subjek paling dinanti perihal cara-cara terbaik menibakan teladan dan pengajaran bagi bocah. Buku ini memberikan injeksi pentingnya pembekalan agama bagi bocah sedini mungkin. Momen Ramadan adalah saat ideal dan pas, si bocah mendapat porsi berlebih pengajaran agama. Cara-cara terbaik nan berfaedah tidak selalu diartikan mesti diikutkan pengajaran agama seperti lazimnya pengajaran di sekolah atau madrasah diniyah.
Bocah-bocah dikenalkan nama para nabi, rukun-rukun agama, pengetahuan sejarah keislaman, dengan jalan asyik dan menyenangkan. Membedai cara pengajaran klasik, bocah diajak bermain dan sambil belajar. Bocah tak perlu dituntut menghapal. Intisari pengajaran agama bakal dengan sendirinya masuk dalam alam bawah sadar mereka melalui kegembiraan-kegembiraan dengan menggunakan alat permainan. Tampak bocah tiada beban dan bosan untuk mengikuti pembelajaran agama.
Buku ini memaparkan contoh alat permainan edukatif berbasis agamais. Tamsil-tamsil tersebut mengundang orangtua dan guru untuk terlibat penuh dalam pembuatan alat permainan. Bahan-bahan yang digunakan begitu mudah didapat, bahkan mungkin diperoleh cuma-cuma. Berbahan utama kertas karton, buku bergenre pendidikan aplikatif ini runtut menyajikan tata cara pembuatan. Bahan dasar bisa dikombinasikan dengan perangkat lain seperti triplek, plastik, dan lain sebagainya.
APE berbasis agamais bagi bocah menitikberatkan pada konten ketimbang renik bentuk permainan. Sebut saja Jalan Pintar, alat permainan yang digambarkan mendetail oleh buku ini. Tetap menggunakan bahan dasar kertas karton, namun konten pengajaran agama coba diwedarkan inklusif. Dengan artian, penulis buku memberikan alternatif konten semisal bocah-bocah itu dikenalkan pada agama-agama. Kita bisa menyimpulkan bahwa cara ini merupakan ikhtiar pengenalan bocah terhadap liyan. Sehingga benih-benih toleransi dan penghormatan terhadap yang berbeda iman, telah tertanam kuat.
Dunia bocah adalah dunia bermain. APE dikehendaki tidak sekadar alat permainan ala kadar-sambil lalu. Namun, diidealkan memuat sejumlah nilai prinsipil mengacu teori tumbuh kembang bocah. Karena itu, APE berbasis agamais pun, mestinya mengandung tiga aspek: kognitif, afektif, dan perilaku. Aspek kognitif mengandaikan bocah mampu memahami laku baik-buruk berdasarkan ajaran agama. Afektif, si bocah diharap terstimulus mencintai dan merasakan perilaku baik. Sedangkan aspek perilaku, bocah benar-benar memilih laku perbuatan baik sembari mampu menghindari sikap buruk (hlm: 117).
Setidaknya terdapat dua tujuan besar kehadiran buku ini. Pertama, ajakan untuk membuat dan mengembangkan alat permainan secara mandiri, berdikari. Hal ini terkata relevan mengingat bocah kekinian dikepung permainan serba modern tapi berbayar cenderung mahal. Ragam alat permainan yang dijual dan mewujud sebagai sebuah bisnis-industri membawa konsekuensi mematikan nalar kreatif orangtua dan guru; pun bocah-bocah yang sekadar menerima dan memainkan.
Buku ini menumbuhkan semacam kesadaran reflektif bahwa APE itu murah dan mudah. Bahan-bahan dasar pembuatan APE berserakan di sekitar kita. Kreatifitas dan kemauan untuk membuatnya menjadi pendorong pokok. Dengan kata lain, kita diingatkan pada bocah-bocah periode lampau yang begitu kreatif membuat permainan berupa senjata laras panjang berbahan pelepah pohon pisang. Back to nature alias kembali ke alam menjadi poin penting buku ini di mana saat bersamaan kita dikhawatirkan kandungan kimiawi yang terdapat pada aneka mainan di pasaran yang berbanderol.
Kedua, buku ini mendorong anak banyak bergerak aktif sebagai antitesa generasi merunduk mengkhidmat permainan di layar gawai. Permainan atau dolanan lawas perlu dihidupkan lagi dan dikembangkan agar bocah milenial cakap bersosial, berbudaya, dan berkarakter. Boleh dikata, buku ini lewat data dan argumen sahih mendalilkan bahwa tanpa gawai yang berisi aneka aplikasi permainan yang memerihkan mata, bocah-bocah zaman kini sekiranya lebih tangkas, kreatif, cerdas lewat APE yang sederhana.
Sudah saatnya meski terbilang terlambat untuk bersama menyemarakkan lagi dolanan anak yang murah dan berfaedah. Kita tentu akan mencemaskan bocah-bocah kini yang lebih mengakrabi permainan di gawai dan komputer bakal berakibat individualis, antisosial, hedonis, dan lemah nalar kreatif sebagai akibat penetrasi gim (game). Jadi, sejatinya kini bocah-bocah benar-benar sedang merasakan masa kecil kurang bahagia, bukan.

———– *** ————

Tags: