Kemarau Terlambat Datang

Telah sepekan ini cuaca di Surabaya (dan sekitar) terasa sejuk. Semakin terasa dingin pada kawasan selatan Jawa Timur. Bahkan perlu air hangat untuk mandi pagi. Juga viral pada media sosial (medsos) berbagai anjuran menghangatkan suhu ruangan. Serta menggunakan krim pelembab kulit. Berdasar pencitraan satelit, suhu dingin temporal disebabkan bawaan angin muson timur dari Australia. Membawa arak-arakan awan, sekaligus menghembuskan hawa dingin.
Secara geografis, Surabaya, karena posisinya terletak pada 6 derajat dibawah (selatan) garis khatulstiwa, memang sedang “menjauh” dari matahari. Kawasan lain di selatan Surabaya merasa dingin lebih menusuk tulang. Misalnya di pantai selatan Jawa Timur, Malang, Blitar, Banyuwangi sampai Trenggalek, dan Pacitan, semakin jauh dari matahari. Posisi matahari yang jauh, sebenarnya rutin terjadi pada setiap awal kemarau.
Di Surabaya Barat (Tandes sampai Benowo) areal tambak nampak merekah. Di Surabaya Selatan (Rungkut, Gunung Anyar, Gayungan), areal kebun, dan persawahan juga pecah-pecah sampai sedalam 20 sentimeter. Tetapi pohon di tengah kota masih tegar nampak tetap rindang, belum memasuki masa gugur daun. Bisa jadi terpengaruh angin muson timur, yang mengurangi terik matahari.
Berdasar prakiraan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Maritim Surabaya, bumi sedang mengawali pergerakan menjauhi matahari. Tak lama, sekitar bulan Juli, akan kembali mendekati matahari. Kemarau akan datang, sampai berpuncak pada bulan September. Matahari berada pada titik inklinasi (posisi orbit terdekat dengan bumi. Seluruh kawasan katulistiwa (Indonesia, Afrika Tengah, dan Amerika Selatan). Akan mengalami puncak kemarau.
Musim (2019) ini, kemarau diprediksi terlambat datang. Sudah sering terjadi. Disebut sebagai “dasarian,” terlambat datang 10 hari. Tetapi sejak pertengahan bulan Juni, seluruh teritorial Indonesia telah memasuki musim kemarau. Tanda-tanda kekeringan sudah nampak di Magetan (ujung barat daya Jawa Timur). Seluas 557 hektar ladang mengering. Bahkan 116 hektar sawah sudah dinyatakan puso (gagal panen). Di Jawa Tengah kekeringan sudah nampak di Wonogiri (tetangga Magetan).
BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), seyogianya telah waspada. Berbeda dengan bencana banjir maupun tanah longsor, dengan dampak yang nyata terlihat. Dampak kekeringan tidak kentara mengancam fisik (keselamatan jiwa). Namun secara sistemik sangat mempengaruhi ketangguhan lingkungan. Kawasan gundul tidak berpohon semakin rapuh. Bahkan bencana klimatologis, telah diantisipasi melalui UU (undang-undang).
Antisipasi klimatologis (ke-iklim-an), secara tekstual masuk dalam UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pada pasal 1 (ketentuan umum) butir ke-14 UU 24 tahun 2007, dinyatakan: ” Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik … klimatologis,… yang mengurangi kemampuan mencegah …menanggapi dampak buruk bahaya.” Suplai air bersih seyogianya telah disiagakan oleh BPBD kabupaten dan kota. Juga dukungan BPBD Propinsi.
Kemarau kering dapat menyebabkan dampak buruk berupa gagal panen (secara ke-ekonomi-an). Juga berbagai timbulnya berbagai penyakit karena kurang terjaminnya sanitasi, dan kebersihan keluarga. Karena kekurangan air. Kehidupan hewan juga tak kalah miris. Penyakit pada hewan ternak (misalnya cacing hati, serta penyakit pada kuku dan mulut) biasanya sering berjangkit pada musim kemarau kering. Itu disebabkan faktor makanan yang kurang, lalu dioplos pakan lain seadanya.
Perlu waspada mengantisipasi pemanasan kota. Diantaranya penyakit kulit, dehidrasi, sampai heat stroke dan meningitis. Karena itu disarankan tidak terlalu lama berada ditempat dengan terik sinar matahari. Upacara (pagi) pun sebaiknya dipersingkat. Mengurangi pemanasan kota, tidak hanya dengan memperbanyak air mancur. Melainkan harus lebih sistemik, memperbanyak taman kota dengan pohon rindang.

———— 000 ————-

Rate this article!
Kemarau Terlambat Datang,5 / 5 ( 1votes )
Tags: