Kemarau Terasa Panjang

Foto: ilustrasi

Kemarau sedang berada pada puncaknya, terasa makin gerah. Dampak kekeringan telah meluas, debit aliran sungai menyusut. Beberapa waduk juga mengering. Hamparan ladang mengering sampai merekah, menyebabkan mudah memicu percik api. Kebakaran lahan semakin menyebar, termasuk area hutan di pegunungan turut terbakar. Di berbagai daerah, telah digelar shalat ististqo’ (doa minta hujan) diikuti forum pimpinan daerah (Forpimda).
Di Jawa Timur telah digelar beberapa kali jamaah shalat istisqo’, termasuk di lapangan Polda Jatim. Sekitar delapan ribu jamaah mengikuti shalat bersama Pangdam V Brawijaya, Kapolda Jatim, dan Gubernur. Di Jawa Timur, kekeringan biasa melanda 24 kabupaten dan kota. Kekeringan domestik cukup parah, telah terjadi pada 541 desa. Jumlah sawah yang terdampak seluas 33 ribu hektar lebih. Terasa lebih miris manakala diikuti kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Semusim lalu (tahun 2018) terjadi korban jiwa akibat karhutla di dan Jawa Timur. Karhutla mulai cepat merambat pada areal kebun milik masyarakat. Di Jawa Timur, hot-spot (titik api) melalap raturan hektar lahan gunung Lawu (di Ponorogo), gunung Wilis (di Madiun), dan gunung Kumitir (di Bondowoso). Saat ini, titik api nampak terang di kawasan gunung Raung (Banyuwangi), dan gunung Panderman (di kota Batu). Juga nampak hot-spot di gunung Arjuno-Welirang (di Mojokerto- Pasuruan).
Di Surabaya Barat (Tandes sampai Benowo) areal tambak nampak merekah. Di Surabaya Selatan (Rungkut, Gunung Anyar, Gayungan), areal kebun, dan persawahan juga pecah-pecah sampai sedalam 20 sentimeter. Tetapi pohon di tengah kota mulai merontokkan daun-daun, memasuki masa gugur. Secara alamiah pohon-pohon mengurangi penguapan. Nampaknya, matahari berada pada titik inklinasi (posisi orbit terdekat dengan bumi.
Seluruh kawasan katulistiwa (Indonesia, Afrika Tengah, dan Amerika Selatan). Akan mengalami puncak kemarau. Siang hari, langit cerah tanpa awan. Musim hujan (2019) ini, diprediksi terlambat datang. Sudah sering terjadi. Disebut sebagai “dasarian,” terlambat datang 10 hari. Sebenarnya, siklusnya tetap, karena pada musim kemarau datang terlambat. Totalnya, baru bulan Juni, seluruh teritorial Indonesia memasuki musim kemarau.
Jawa Timur menjadi daerah propinsi paling terdampak kekeringan, meliputi 34 ribu hektar. Sawah yang puso (gagal panen) mencapai 5 ribu hektar. Dampak musim kemarau (kekeringan) diawali di Magetan (ujung barat daya Jawa Timur). Seluas 557 hektar ladang mengering. Berdasar sigi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), kemarau akan lebih panjang. Tetapi tidak separah tahun 2015.
Kemarau kering dapat menyebabkan dampak gagal panen. Juga berbagai timbulnya berbagai penyakit karena kurang terjaminnya sanitasi, dan kebersihan keluarga. Karena kekurangan air. Kehidupan hewan juga tak kalah miris. Penyakit pada hewan ternak (misalnya cacing hati, serta penyakit pada kuku dan mulut) biasanya sering berjangkit pada musim kemarau kering. Disebabkan faktor makanan yang kurang, lalu dioplos pakan lain seadanya.
Tetapi dampak ke-iklim-an telah diantisipasi, secara tekstual masuk dalam UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pada pasal 1 (ketentuan umum) butir ke-14, dinyatakan: ” Rawan bencana adalah kondisi… klimatologis, …yang mengurangi kemampuan mencegah …menanggapi dampak buruk bahaya.” Sehingga seharusnya, Pemerintah Daerah (propinsi, serta kabupaten dan kota) telah siaga iklim.
Sesungguhnya tiada bencana kekeringan (dan efek karhutla) tidak datang tiba-tiba. Selalu terdapat warning sistem alam. Antara lain dengan menyusutnya permukaan telaga Sarangan (di Magetan), dan danau Ranu Kumbolo (di Lumajang). Begitu pula shalat istisqo’ seyogianya disertai pencerahan (per-tobat-an), dan kesadaran perlindungan lingkungan.

——— 000 ———

Rate this article!
Kemarau Terasa Panjang,5 / 5 ( 1votes )
Tags: