Keluarga dan Pendidikan Literasi

Oleh :
Yustin Setiya Widoretno, MPd
Dosen Pendidikan Teknik Mesin Unesa
Menempuh Program Doktor Pendidikan Kejuruan Universitas Negeri Malang

Selama ini, gaung literasi hanya meriah di sekolah dan di kampus, sementara di lingkungan keluarga nyaris tidak terdengar. Urusan literasi identik dengan urusan akademisi dan guru di sekolah, padahal literasi berelasi erat dengan semua elemen yang terkait dengan pendidikan, termasuk orang tua. Intinya, apakah orang tua sudah memiliki kesadaran bahwa pendidikan literasi dimulai dari keluarga? Lantaran itu, diperlukan langkah yang solutif dalam mengatasi persoalan bagaimana keluarga dapat ikut ambil bagian dalam pendidikan anak.
Perkembangan dunia teknologi yang demikian melesat telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Beberapa orang akan percaya bahwa situasi dan kondisi yang tidak dapat diprediksi berubah dengan kompleksitas dan ketidakpastian.
Dampak negatif yang sering muncul adalah masyarakat menjadi semakin mudah dalam menyerap dan menerima informasi-informasi hoaks yang berkembang sangat cepat.
Beberapa orang menyebut situasi Indonesia saat ini sebagai “VUCA” yaitu dunia yang saat ini tidak stabil /Volatility, ketidakpastian/Uncertainty, kompleks/Complexity, dan ambigu/Ambiguity. (Mack, et.al, 2016:3).
Hal ini didukung dengan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy RI Nomor 30 Tahun 2017 tentang pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan. Maka, bagaimanapun pelibatan keluarga tetap memiliki peran sentral sebagai pondasi utama dalam penyelenggaraan pendidikan anak.
Penguatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan adalah hal penting dan strategis dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Ketika pihak sekolah dan pemerintah sudah mencanangkan program pendidikan untuk mewujudkan amanah Nawa Cita, maka sudah saatnya orang tua ikut berpatisipasi mendukung untuk menyukseskannya.
Di banyak negara maju membuktikan reformasi pendidikan hanya mengintervensi siswa dan sekolah tidak akan berlanjut dalam jangka panjang.
Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tidak usah dibandingkan dengan Jepang dan Amerika yang rata-rata membaca 10-20 buku per tahun. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, yang membaca 2-3 buku per tahun kita pun masih jauh ketinggalan. (Kompas/22/02/2016).
Jika diperhatikan masyarakat di Jepang, misalnya, aktivitas yang mereka lakukan ketika menunggu datangnya kereta api atau bis, atau ketika sudah berada di dalamnya, kalau tidak diam, mereka asyik membaca buku sampai tiba di tempat kerja. Hal ini berbeda dengan kondisi di Indonesia, dimana para calon penumpang lebih suka bermain gawai daripada membaca buku.
Negara lain yang dikenal dengan tradisi membacanya adalah Finlandia, sebuah negara Skandinavia di Eropa Utara yang sampai saat ini dikenal dengan sistem pendidikan terbaiknya. Sebuah penelitian bertajuk The World’s Most Literate Nations (WMLN) yang dilakukan oleh Jhon W. Miller, Presiden Central Connecticut State University, New Britain menyebutkan Finlandia sebagai negara paling literat di dunia.
Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Hyunjoon Park dalam jurnal Educational Research and Evalution Vol.14 No.6 Desember 2008 yang bertajuk Children’s Reading Performance: A Comparative Study of 25 Countries.
Menyatakan bahwa bentuk keterlibatan/peran orang tua merupakan salah satu dari tiga komponen yang positif dalam meningkatkan literasi dasar anak prasekolah di hampir semua negara. Artinya keterlibatan peran orang tua memiliki pengaruh yang positif dalam pengembangan kemampuan literasi anak. Elainee Reese, dkk (2010) yang bertajuk A Review of Parents Intervention for Preschool Children’s Languange and Emergent Literacy menemukan bahwa keterlibatan orang tua memiliki peranan yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan literasi anak usia dini.
Merujuk pada hasil penelitian yang ada, semakin dini orang tua terlibat literasi, menyadari arti penting pembentukan budaya literasi, seharusnya kesadaran implementasi budaya literasi ini merambah ke dalam setiap keluarga sebagai role model bagi anak. Implikasi dari keluarga yang literat akan menghasilkan orang tua yang open minded terhadap perkembangan anaknya.
Kesadaran Orang Tua
Kesadaran berliterasi keluarga haruslah mendapatkan perhatian khusus. Tidak pun sadar, tapi terlebihlah dulu peka dan tanggap pentingnya pendidikan literasi. Hakikatnya, literasi dalam lingkungan keluarga untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan seorang anak. Menyadari kebiasaan membaca memiliki dampak pada peradaban bagi perubahan hidup menjadi pribadi unggul dan penentu kualitas suatu bangsa, maka sudah seharusnya orang tua melek literasi karena orang tua atau tepatnya keluarga sebagai guru utama dan pertama bagi anak.
Posisi orang tua sebagai pihak dominan dalam keluarga seringkali menimbulkan sikap kontra dalam diri anak yang pada akhirnya berujung pada sikap regresi. Tidak dipungkiri bahwa orang tua memiliki banyak pengalaman dalam kehidupan. Namun tidak jarang juga karena alasan ini pula mereka memperlakukan anak dengan kacamata kuda. Pendirian, pendapat, dan pandangan orang tua dianggap selalu paling benar yang pada akhirnya membangun keluarga literat berjalan hanya satu arah. Hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk penguatan keluarga dalam literasi antara lain :
Pertama, membacakan cerita untuk anak. Membacakan cerita/dongeng dapat merangsang imajinasi anak. Hal ini membuat anak semakin kreatif. Mendongeng jarang dilakukan lagi di sekolah maupun di rumah, padahal mendongeng itu penting sebagai sarana hiburan anak, membangun imajinasi anak, meningkatkan keinginan membaca, dan secara tidak langsung dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan yang bisa dipraktikkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, membuat jam wajib baca. Buatlah kesepakatan dalam keluarga mengenai jam wajib baca. Minimal 15 menit sebelum tidur, atau mungkin durasinya bisa ditambah lebih dari 15 menit, apalagi waktu dari jam 18.00 sampai dengan 21.00 cukup panjang. Pada waktu jam tersebut disarankan para anggota keluarga wajib untuk berkumpul, yang diisi dengan kegiatan bercengkraman, belajar, bermain, membaca, atau aktivitas bermanfaat lainnya.
Ketiga, para orang tua disamping harus memberi contoh teladan (role model), juga diupayakan menyediakan buku-buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat berpikir anak-anaknya. Sediakan tempat koleksi buku yang mudah dijangkau letaknya. Mengapa? Karena anak biasanya mencari yang paling dekat dan terlihat oleh mata.
Keempat, memberi buku sebagai hadiah (rewards) ketika anak memperoleh prestasi. Jika anak meraih prestasi di sekolah atau prestasi apapun yang cukup membanggakan, berilah hadiah buku. Hal ini membuat anak mengerti betapa berharganya buku. Jangan sekali-kali memberikan hadiah lainnya, karena anak akan membandingkan dengan benda-benda yang lainnya. Namun, orang tua juga menanamkan sikap selektif dalam memilih buku kepada anak.
Kelima, ajak anak pergi ke pameran buku. Ajaklah anak pergi ke pameran buku dan biarkan mereka memilih buku yang ingin dibeli. Jangan lupa mintalah anak menceritakan kembali isi buku tersebut. Bersikaplah seolah-olah kita adalah orang yang tidak tahu apa-apa, biarkan anak mengajari dan memberi tahu isi cerita pilihannya.
Pada akhirnya, jika budaya literasi ini dapat diaplikasikan dalam keluarga, maka akan membangun peradaban suatu bangsa karena kemampuan literasi merupakan sebuah kunci dari ilmu pengetahuan yang tak berhingga luasnya serta memberikan dampak yang besar bagi kemajuan sebuah bangsa dan negara.

———— *** ————-

Rate this article!
Tags: